6 Mar 2014

Pengakuan


rasanya baru seperti kemarin kau memasuki masa remaja. waktu menuntun kau beranjak dewasa. masa remaja yang penuh warna telah terlalui sebagai satu fase yang mengantarkan kau pada detik ini. satu hal yang masih sama, aku masih menyimpan rasa yang sama kepadamu. kemanisan yang terpahat dalam parasmu tlah menggoda sukmaku tenggelam dalam manisnya euphoria bernama cinta. walau hanya terbayang dan tak pernah nyata untuk ku rengkuh. mungkin inilah salah satu nikmatnya sebuah lamunan.

merenungi nasib-nasib yang berlalu, seolah waktu mengingatkanku kembali padamu. hatimu memang telah jauh tertambat di sana, terkurung dalam keyakinan yang berbeda. kehadiranmu dalam hidupku bukanlah suatu yang patut dipertanyakan. kita hanya mengikuti titah Tuhan. Meski aku sendiri terkadang tak bisa percaya. satu hal yang pasti, hidupku dan hidupmu adalah suatu keseimbangan.

Bandung, Nov 2009

5 Mar 2014

Bioskop



                Apa yang terlintas ketika pertama kali mendengarkan nama “bioskop”? Tentu saja adalah film release terbaru. Bagi yang hobi nonton, film ini pasti akan sayang sekali untuk dilewatkan kalau tidak nonton di bioskop. Apalagi kalau film tersebut merupakan jenis box office, dibintangi aktor terkenal dan tentu saja kehadirannya ditunggu banyak pecinta film.
                Aku selalu ingat film yang pertama  kali kutonton di bioskop. Spiderman 3. Grand Cinema 21 di Solo Grand Mall adalah saksinya. Saat itu terjadi pada tanggal 24 April 2007. Aku tak sendirian waktu itu dalam menonton. Ada beberapa kawan kos yang menemani. Maklum, aku hampir selalu sendiri setiap kali ke bioskop. Lebih tepatnya mungkin karena aku tak punya gebetan cewek untuk diajak nonton.
                Hobi menonton film sudah aku geluti sejak usia 8 tahun. Waktu itu, Andi dan beberapa tetanggaku sering menyewa film untuk ditonton dengan menggunakan VCD player punyaku. Kebiasaan dalam menyewa dan menonton film ini masih kulakukan sampai sekarang.  Hanya saja, aku baru sempat pertama kali ke bioskop di usia 16. Ada beberapa hal mengapa aku lebih senang menyebut diriku telat dalam mengenal bioskop. Salah satunya karena di kotaku, Sukoharjo Makmur, tak ada gedung bioskop. Sebenarnya, kotaku punya gedung bioskop tapi sudah tutup karena tak laku. Menurut beberapa warga yang dulu sering nonton, fasilitas gedung bisokop ini jauh dari kata memadai. Apalagi film yang diputar bukanlah film new release. Selain itu, entah kenapa aku menganggap bioskop adalah tempat yang tabu sehingga urung untuk menyaksikan film di dalamnya.


                Bagiku, bioskop sudah menjadi banyak saksi dari beberapa kenangan dan latar belakang kenapa aku memutuskan untuk menonton. Ini bukan saja tentang film new release. Bioskop sudah menjadi tempat pelarianku ketika problematika hidup datang melanda. Dari kejadian itu, aku memutuskan untuk menonton sendiri. Kehangatan melewatkan waktu bersama kawan-kawan juga menjadi peristiwa penting yang tak lepas dari bioskop.
                Berikut ini adalah beberapa film yang masih kuingat dan kutonton dari pertama kali aku ke bioskop sampai sekarang. Ada beberapa notes mengenai film-film tersebut.
1.       Spiderman 3 (2007)
Ini film pertama yang kutonton di bioskop. Waktu itu aku menonton bareng kawan-kawan kos semasa SMA.  Aku selalu hampir teringat film ini karena jam tayangnya paling akhir di hari itu dan memaksaku pulang larut tengah malam ke rumah.
@solo grand

2.       Laskar Pelangi (2008)
Film domestik pertama yang kutonton karena ajakan yang sangat memaksa dari kawan-kawan IPA 1. Film yang diadaptasi dari novel best seller dengan judul yang sama ini saat itu bisa dibilang film terlaris saat minggu pertama release. Jangan heran, waktu itu aku bahkan sampai dapat seat nomer terdepan. Pulang dari bioskop mataku juling.
@solo grand

3.       Terminator Salvation (2008)
Aku hampir lupa mengenai catatan film ini kecuali adegan tembak-tembakan yang memenuhi di hampir sepanjang waktu pemutaran. Saat itu aku menonton dengan kawan-kawan kos SMA.
@solo grand

4.       Knowing (2008)
Alasan kenapa menonton film ini saat itu lebih disebabkan karena ada nama besar Nicholas Cage. Bukan rahasia jika dia adalah aktor kesukaanku. Film ini tak berjarak jauh dari Terminator. Aku juga menontonnya dengan kawan-kawan kos SMA.
@solo grand
5.       Quatum of Solace (2008)
Ide menonton film ini sebenarnya tak terencana. Saat itu aku coba berkunjung ke Grand Cinema 21 untuk melihat film apa yang bagus. Tak disangka, saat itu hari pertama Film ke 22 James Bond ini release. Seketika Aku mengajak beberapa kawan kos SMA untuk menonton film ini. Salah satunya adalah Alwan. Aku tak tahun sense film yang ada di jiwa kawanku satu ini seperti apa. Aku heran karena dia bisa tertidur di tengah film yang jelas full action seperti ini. Satu hal yang masih terkenang dari menonton film ini waktu itu adalah tragedy di mana aku membawa martabak ukuran jumbo dari luar untuk kami makan ke dalam bioskop. Untungs aja tak ketahuan sama security.
@solo grand

6.       F inal Destination 4 (2009)
Ini satu-satunya film yang kutonton di bioskop pada tahun 2009. Ini juga satu-satunya film yang kutonton berdua dengan cewek. Hanya berdua.
@xxi jogja

7.       Avatar (2010)
Sampai sekarang, film ini masih menyandang status sebagai film dengan pendapatan tertinggi di sepanjang sejarah dunia perfilman. Mega karya James Cameroon ini memang layak untuk ditonton. Jalan cerita dan tentu saja animasi gambar di dalamnya memag pantas untuk mendapatkan Oscar. Film ini adalah film pertama yang kutonton dalam format 3D. Saat itu dalam film 3D tidak ada subtitle, sedikit berbeda dengan film 3D sekarang.
@ciwalk

8.       Prince of Persia (2010)
Film ini kutonton saat memasuki era “nothing to lose” di Bandung. Dan akan beranjak pergi meninggakan segala mimpi yang pernah kugantungan di kota tersebut.
@ciwalk

9.       Sang Pemimpi (2010)
Sekuel kedua laskar pelangi ini membuatku menangis ketika menontonnya. Bagaimana tidak, saat itu kondisi kuliahku di ITB berantakan. Dan tiba-tiba saja film ini mengingatkan tentang ayahku di rumah.
@ciwalk

10.   Edge of Darkness (2010)
Mel Gibson adalah alasan kenapa aku menonton film ini. Film ini juga menjadi saksi hari-hari kelamku sewaktu di Bandung.
@ciwalk
11.   Deathly Hallows part I (2010)
Sebenarnya aku bukan penggemar film Harry Potter. Akan tetapi, aku tidak serta merta juga melewatkan setiap sekuel filmnya. Film ini merupakan film pertama  yang kutonton ketika tiba di Bintaro. David dan beberapa kawan di Paspilo yang mengajakku. Saat pulang tengah malam, kami kehujanan di jalan. Mengambil jalan memutar komplek yang saat itu sudah terportal.
@bintaro plaza

12.   Clash of Titans (2010)
Tidak ada alasan jelas kenapa aku menonton film ini. Aku hanya merasa tidak ada kegiatan di Bandung saat sudah memutuskan keluar dari ITB.
@ciwalk

13.   Legion (2010)
Film yang dibintangi Paul Bettany ini juga menyita perhatianku karena aku tak punya kegiatan di Bandung. Aku selalu ingat diriku saat itu yang begitu ringkih dan hampir jatuh menyongsong masa depan kuliahku. Hampir semua film yang kutonton di bioskop kulewatkan sendiri saat masih di Bandung.
@ciwalk

14.   Skyfall (2012)
Ada sedikit rencana untuk menonton film ini dengan mantan kekasihku waktu itu. Namun, aku tak mampu menahan ajakan kawan-kawan 3M. Hari pertama release, kami langsung booking ticket. Film ketiga Daniel Craig dalam memerankan agent secret service dari Inggris ini bisa dibilang lebih bagus dari Quantum of Solace.
@bintaro plaza

15.   5cm (2012)
Filmnya biasa. Aku tertarik menonton film ini karena unsur Semeru yang baru saja kudaki beberapa bulan sebelum film ini release. Film pertama yang ditonton oleg Ceger 31 secara berjamaah.
@bintaro plaza

16.   The Dark Knight Rises (2012)
Christopher Nolan sekali lagi menunjukkan kepiawaiannya dalam menuntaskan Trilogi Batman garapannya. Film ini kulewatkan sendiri.
@bintaro plaza

17.   The Hobbit I (2012)
Sebenarnya aku sudah diajak oleh beberapa kawan 3M untuk menonton ini. Namun, aku tak mampu menahan godaan untuk menonton lebih duluan. Memang tak sebagus Lord of the Rings tapi masih layak untuk disaksikan.
@bintaro plaza

18.   2 Guns (2013)
Sedikit iseng sebenarnya menonton film ini, karena sudah lama tak nonton ke bioskop. Kebetulan ada film yang duo aktornya kusuka: Denzel Washington dan Mark Wahlberg. Film action yang biasa.
@bintaro plaza

19.   Iron man 3 (2013)
Kalau bukan ajakan kawan-kawan 3M, mungkin aku tak akan menonton film ini di bioskop. Dan benar saja, untuk film superhero di era sekarang, aku menilai film ini sebagai yang terburuk. Kalah jauh dari Man of Steel dan The Dark Knight Rises yang release lebih duluan. Uang yang tak sedikit harus kugocek dari dompet karena melewatkan film ini di iMax.
@gandaria city

20.   Man of Steel (2013)
Tak sekeren The Dark Knight Rises tapi ini adalah sekuel Superman yang paling top. Dalam film ini, Superman akhirnya sadar jika kampes memang harus digunakan di dalam celana. Layak dan pantas sekali untuk ditonton.
@bintaro plaza

21.   The Hobbit II
Film ini merupakan lanjutan dari The Hobbit I. Aku tak mengerti kenapa Peter Jackson mengadaptasi sebuah novel yang tidak tebal ke dalam 3 film yang bersambung.  Film ini punya animasi cukup bagus tapi sejujurnya aku kurang puas dengan hasilnya. Jika dibandingkan dengan The Hobbit yang pertama, film ini masih kalah bagus.
@lotte bintaro

22.   Soekarno
Atas rekomendasi Ahimsa, aku memutuskan melewatkan film ini di bioskop. Harus diakui, film ini adalah karya Hanung yang terbaik meskipun banyak kontroversi di balik pembuatannya.  Sebagai anak bangsa yang mengagumi sosok Soekarno, kurasa seluruh pemuda Indonesia mesti menyaksikan film ini.
@bintaro plaza

23.   Captain Phillips (2013)
Film Midnight pertama yang kutonton. Dan hasilnya tak mengecewakan. Nama besar Tom Hanks jelas menjadi garansi dalam film ini. Namun sejujurnya, perhatianku lebih mengarah pada sosok Paul Grengrass tang menjadi sutradara.
@lotte bintaro

24.   Thor, The Dark World (2013)
Sore itu sepulang kerja aku memutuskan untuk ke Obsat. Hanya saja saat itu masih tersisa banyak waktu untuk menunggu. Aku memutuskan untuk meluncur ke iMax dan mendapatkan film ini.
@gandaria city

25.   Muse live in Rome (2013)
Ardian kali ini yang mengajakku ke bioskop untuk menonton sesuatu yang sedikit di luar nalar. Menonton konser music di bioskop.  Tak apa, karena kami adalah fans berat muse. Sedikit catatan, ini pertama kali aku nonton ke Blitz Megaplex.
@grand indonesia

26.   Gravity (2013)
Film ini biasa tapi luar biasa. Hampir sepanjang waktu memang drama monolog tapi ada sensasi luar biasa di sana. Bercerita tentang seorang biologist yang hidup sendiri di luar angkasa dan mencoba kembali ke bumi setelah hujan meteor menimpa kru timnya dan menewaskan mereka semua.
@bintaro plaza

27.   Wolf of Wallstreet (2014)
DiCaprio memang luar biasa dalam memerankan Jordan Belford. Film ini kutonton ketika depresi berat sedang melandaku di tengah kesibukan sebagai auditor.. Martin Scorsesse sekali lagi membuktikan sebagai sutradara yang selalu menelurkan film-film berkualitas. Aku tak terima jika film ini tak mendapatkan Oscar tahun ini, khususnya untuk kategori Best Actor.
@lotte bintaro

28.   American Hustle (2014)
Sedikit rumit dan membosankan di tengah, tapi film ini punya ending yang tak bisa ditebak. Keempat aktor utama ( Christian Bale, Amy Adams, Bradley Cooper,  Jennifer Lawrence) dalam film ini tampil ciamik. Sepertinya film ini bakal menjadi saingan terberat Wolf of Wallstreet di Academy Award tahun ini. Film terakhir yang kutonton di Bintaro.
@bintaro plaza

29.   Robocop (2014)
Sore itu aku terjebak hujan di Solo. Aku memutuskan untuk menepi ke Paragon Mall dan touchdown ke XXI. Dapatlah film ini.
@solo paragon

30.   Edensor (2014)
Hari pertama tahun 2014 kulewaktkan dengan menonton film ini. Sebagai sekuel ketiga Laskar Pelangi, film ini bisa dibilang paling buruk. Kehadirannya sudah ditunggu 4 tahun tapi hasilnya jauh dari kenyataan. Poin penting dari novel Edensor yang menceritakan perjalanan ical menjelajah eropa bahkan tidak diadaptasi ke dalam film oleh sang sutradara. Aku jelas kecewa.
@lotte bintaro

31.   Tenggelamnya Kapal Van der Wijk (2014)
Alasan kenapa aku menonton film ini adalah Buya Hamka. Salah satu novel mega karya beliau akhirnya diadaptasi ke dalam film. Secar subyektif, aku menilai film ini bagus hanya pada awalnya saja.
@bintaro plaza

32.   47 Ronin (2014)
Keanu reeves kembali ke layar lebar. Kali ini dengan cerita mengenai peristiwa dengan latar belakang sejarah di Jepang. Film yang menceritakan jiwa kepahlawanan para Ronin yang legendaris. Sebenarnya kisah ini sudah berkali-kali diangkat ke layar lebar. Namun, baru kali ini masuk ke industry Hollywood. Walaupun kisahnya sedikit di luar nalar dan tentu saja ada yang berbeda dengan kisah aslinya, film ini masih layak untuk ditonton. 
@bintaro plaza

24 Jan 2014

Masa TK


Mencoba mengingat kembali kenangan-kenangan yang terjadi sewaktu kecil dulu. Perjalanan mengenai pendidikanku dimulai di TK BA Aisyiah Gayam, tak jauh dari rumahku. Waktu itu aku masuk tahun 1995. Dulu, aku termasuk anak yang sulit sekali diyakinkan agar mau bersekolah. Tak mengherankan jika disuruh sekolah, aku ogah-ogahan. Sebenarnya yang membuat aku demikian adalah tipe penakutku. Ini bukan masalah keanehan. Anak usia 4 tahun yang baru masuk sekolah pasti juga merasakan demikian. Apalagi waktu itu aku termasuk anak yang tak bisah pisah dengan ibunya.
Dan jelaslah, untuk membuatku tetap bersekolah, Ibuku harus menungguku. Sekolah TK ku dimulai pukul 08.00 sampai 10.00 pagi. Waktu itu nama kelasnya adalah nol kecil. Ada cerita mengenai perjalananku waktu sekolah di nol kecil ini. Di saat setiap mengikuti kelas, aku harus memastikan bahwa ibu menungguku. Menunggu ini maksudnya, bahwa beliau ada selama kelas berlangsung dari bel masuk sekolah sampai pulang sekolah. Untuk memastikan hal tersebut, aku meminta ibuku untuk mejagaku dengan ikut pelajaran di kelas. Tentunya dengan bangku yang berbeda. Saat itu, biasanya para orangtua murid disediakan bangku di dekat pintu untuk menjaga anak-anaknya. Pernah suatu ketika, ibuku meminta untuk menunggu di luar. Lalu aku mengizinkannya. Namun, betapa tersedunya aku menangis setelah ku tunggu beberapa menit beliau tak kunjung kembali ke kelas. Dalam hal ini, aku menuntut jika ibuku tak mau menjagaku selama sekolah, aku tidak akan pergi sekolah. Kejadian seperti ini berlangsung cukup lama. Masalah mengenai ketakutanku ini tak bisa hilang oleh waktu. Apalagi waktu kecil aku adalah anak yang selalu mengandalkan ibuku. Aku akan selalu menangis jika pulang ke rumah dan tak mendapati beliau ada.
Hari sabtu adalah hari yang paling ku tunggu. Para murid diharuskan membawa bekal untuk pesta di kelas. Di hari sabtu pula, seminggu sekali kelas kami diisi dengan permainan. Ibuku selalu membawakanku bekal berupa nasi rames yang dibeli di es teler boncel milik orangtua temanku. Dalam hal masalah fashion, aku mungkin termasuk orang yang banyak tuntutan. Maklum, semua atributku waktu itu harus menyala. Salah satunya seperti sepatu yang bisa menyala. Entah kenapa waktu itu sesuatu yang menyala menjadi trend di antara kami selaku balita.
Temanku waktu itu yang masih membekas di ingatanku saat ini adalah Wawan, Bowo, dan Indra. Wawan bisa di bilang adalag orang yang lurus dan neko-neko, dia cerdas dan pintar. Sedangkan Bowo dan Indra adalah sebaliknya. Aku sendiri cenderung berkawan dengan Bowo dan Indra. Aku tak tau mengapa demikian. Wawan hanya setahun di sekolah ini. Setelah lulus dari nol kecil, dia langsung SD. Hal ini dikarenakan karena kecerdasannya di atas rata-rata. Kami pun berpisah saat aku naik ke nol besar atau biasa disebut tahun kedua di TK ini. Setelah itu, nyaris kami tak pernah bertemu sampai saat ini.
Mengawali lembaran baru di tahun kedua. Aku masih tak banyak berubah pada awal-awalnya. Sekolah masih diantar oleh ibuku dengan sepeda onthel tuanya dan tentunya beliau harus menunggu. Bedanya kali ini saya tak lagi menangis jika harus ditinggal di tengah pelajaran sedang berlangsung. Dalam bersahabat, aku masih berteman dengan preman TK waktu itu, siapa lagi kalau bukan Bowo dan Indra. Isu-isu di dunia taman kanak-kanak sebenarnya berkutat pada dunia mainan yang lagi ngeterend dan ada di pasar malam. Lalu kemudian teman saat itu temanku bernama Topan memilikinya, lantas aku iri dan merengek minta bapak buat membelikannya.
Sebagai trio sahabat yang mungkin waktu itu terkenal paling bandel karena hampir selalu ngutang ke tempatnya mbah rumpyuh dan lek surati yang saat itu jadi penjaga kantin. Lalu kemudian orangtua kami yang akhirnya membayarnya. Kenakalan kami lainnya adalah sering meminjam mainan teman kami sampai ia menangis karena tidak kami kembalikan. Waktu itu aku terkena candu dengan minuman extra joss. Kakakku, waktu itu sering membeli untuk digunakan sebagai doping karena ia keranjingan sekali main badminton. Suatu ketika aku mencoba minuman itu dan rasanya memang sungguh enak. Tak heran apabila aku ketagihan. Suatu hari aku mengambil extra joos itu dari kamar kakakku, lalu membagi-bagikannya kepada teman di kelas. Sampai pada kahirnya ketahuan oleh ibuku, dan tentu saja dia bilang jika minuman itu tak bagus buat kesehatan tubuh.
Aku masih ingat guru TK ku waktu itu, namanya Bu Waginem. Dari sekian pengajar dan pendidik yang pernah meracuniku dengan ilmu dan tindak-tanduk, beliau mungkin salah satu yang terkenang karena aku merasa berhutang budi padanya. Dia adalah yang pertama kali membentuk kepribadianku di pendidikan formal. Aku selalu teringat dengan dongeng-dongengnya. Pertengahan tahun 1997 aku lulus. 

30 Des 2013

Kisah Pendakian Perdana Sang Legenda


-Based on True Story-

Penulis : Riris Aditya
Editor: Munawar Adi


Akhir-akhir ini dunia pendakian sedang menjadi sorotan. Hal ini tak lepas dari beberapa pendaki yang  tewas ketika melakukan pendakian. Banyak hal yang menyebabkan peristiwa ini terjadi. Entah itu karena kondisi cuaca yang ekstrem dan tidak bersahabat maupun ketidaksiapan pendaki itu tersendiri dalam menghadapi berbagai macam resiko ketika melakukan pendakian.

Riris Aditya mencoba mengungkapkan kembali kisah petualangannya sewaktu muda dulu. Mendaki gunung adalah salah satu kegiatan olahraga esktrem dan petualangan yang dulu pernah ia geluti. Seperti halnya dengan pemuda pada umumnya, gejolak jiwa yang masih labil tapi penuh semangat dan bermodal nekat lekat menjadi identitasnya waktu itu. Potret perkembangan pemuda saat ini juga tak jauh beda. Bertualang demi mendapatkan kesenangan tapi abai dengan resiko dan bahaya yang menyertainya.

6 tahun lalu, Riris menjalani debutnya di dunia pendakian. Tanpa perbekalan dan persiapan yang matang, ia mencoba menakhlukkan ganasnya Gunung Lawu yang terkenal sebagai gunung paling angker dan dingin se-antero Pulau Jawa. Pendaki legendaris pendiri TPS ini melakukan pendakian pada bulan Januari ketika intensitas curah hujan sedang tinggi-tingginya. Namun, hal itu tak menyiutkan nyali sang Legenda.

Bersama rekan-rekannya, ia terjebak badai sewaktu menuju puncak tanpa perbekalan dan peralatan yang memadai. Karena ketangguhan dan kejantanannya itulah, ia disebut sebagai legenda. Benar-benar pendaki legendaris yang tidak bisa dibandingkan dengan pendaki-pendaki newbie saat ini.

Sang Legenda di Puncak Rinjani

“Waktu itu aku mengajak Aziz untuk mendaki gunung. Aku terobsesi oleh cita-citaku, yaitu sesuatu yang berbau militer. Impianku ketika itu adalah menjadi seorang polwan, tapi mana mungkin aku hanya lelaki.  Karena tidak mungkin,  kualihkan cita-citaku menjadi TNI, tapi tidak kesampaian. Untuk itulah aku ingin menguji fisikku dengan mendaki gunung. Pertimbanganku mengajak Aziz waktu itu karena orangnya sedikit tolol, enak diajak bercanda, selain juga alasan utama dia pernah kesana sebelumnya.

Pendakian perdanaku pun dimulai. Waktu itu Aziz menjadi ketua tim karena sudah pernah naik gunung sebelumnya. Harus diakui Aziz memang punya pengalaman, tapi pengalaman taek. Sedikit-sedikit lelah, minta break. Saya agak bimbang waktu itu. Di satu sisi Aziz klemak-klemek kayak bencong sapoy, sementara teman saya Istanto yang seorang petinju amatir bergerak cepat bagai ular. Istanto dan Panji yang memimpin di depan waktu itu melahap setiap trek jalan setapak Lawu. Hanya Cendy yang mampu mengimbangi waktu itu. Saya tau Wowor juga mampu mengimbangi tapi karena kesetiakawanan saya dan Wowor yang tinggi kami memutuskan mengimbangi Aziz.  Jarak kami dengan  grup depan bisa dikatakan hampir 300-500 m. Saya juga kadang di depan menyuruh agak pelan, tapi lebih banyak dibelakang.

Di tengah perjalanan Aziz membuang beberapa wedang putih untuk mengurangi beban dengan alasan musim hujan. Sesuatu hal yang bisa disebut sebagai tindakan kebodohan. Anda bisa menebak sendiri mengapa saya berkata kebodohan, pikirku waktu itu “o.. ya mungkin ini pengalaman”. Perlu digaris bawahi pengalaman.
Kisah pun berlanjut. Saat itu terjadi clash antara kami. Ya memang benar, saat itu terjadi clash antara Aziz dan Istanto tapi masih dalam taraf yang wajar. Jujur Istanto merasa geli dengan tingkah laku Aziz yang sok berpengalaman perlu digaris bawahi tapi kenyataannya klemak-klemek.

Akhirnya kami pun terpisah, saya dan Istanto cs. melanjutkan perjalanan sedangkan Aziz dan antek-anteknya berhenti di Shelter III. Sebenarnya, yang menyebabkan saya melanjutkan perjalanan bukan soal clash tapi karena gojekan Istanto untuk mengejar daging kambing yang dibawa pendaki lain. Saat itu di perjalanan, kami memang melihat beberapa pendaki yang membawa kambing hidup ke atas. Gojekan Istanto ini sebenarnya mengetes siapa yang berani lanjut. Saya yang bermodal tekad bulat untuk mendapatkan sunrise memutuskan lanjut. nDarun dan Panji hanya ikut-ikutan lanjut (mungkin obsesi daging). Dingin benar-benar menyelimuti kami dalam perjalanan waktu itu.

Bermodalkan badan sehat, kami menuju ke atas, horas beh !!

Tidak peduli dengan Aziz dan antek-anteknya. Setelah berjalan menahan dingin dan menerjang badai selama berjam-jam,  akhirnya kami berempat tiba di Shelter IV. Saat itu pula, dengan penuh semangat mengejar puncak dan mengejar daging kambing, kami langsung tancap gas menuju puncak.
Baru 20 menit mendaki ke atas, kami melihat pemandangan yang begitu menakjubkan. Lampu-lampu kota yang sangat indah. Sampai saya terharu bila mengingatnya. Namun, tiba-tiba….. ASU……. badai besar datang. Kami hampir tersapu olehnya. Kami bergerak cepat kembali turun ke Shelter IV. Ini cerita paling menyedihkan, saya menulis biar semua orang tahu.


Dengan kondisi cuaca yang dingin seperti itu ditambah dengan badai dan rintik hujan, saya dan teman-teman memutuskan istirahat sejenak. Menunggu sampai cuaca kembali bersahabat. Minimal tidak hujan dan badai segera hilang.

Dingin kembali saya katakan. Dingin yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kami gelar mantol milik panji, karena itulah satu-satunya peralatan yang kami bawa. Kami berencana untuk beristirahat sejenak. Akan tetapi, setelah menunggu hampir 1 jam lebih, cuaca tidak memihak. Badai malah semakin besar  sehingga kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan besok. 

Di  Shelter IV dengan kondisi sebagian atap hilang, beralaskan mantel, dan berselimutkan satu sarung yang kami pakai buat berempat, kami mencoba menyalakan api. Beruntung ada kayu-kayu yang agak basah disekitar Shelter IV. Anehnya, di sini saya lupa minta paraffin kepada Aziz yang kuakui memang peralatan dia lengkap.

Dengan tidak berputus asa, aku keluarkan lilin dari dalam tasku yang kuambil di meja dapur rumahku sebelum berangkat, kira aja berguna. Hampir setenggah jam lebih kami mati-matian menyalakan api. Aku sudah frustasi waktu itu. Berkat kegigihan Istanto dan nDarun, akhirnya api berhasil menyala untuk mengurangi dinginnya Shelter IV waktu itu. Dingin yang jujur kuakui sampai menusuk sumsum tulang. Kami akhirnya bisa sampai puncak keesokan harinya setelah matahari terbit menghangatkan tulang-tulang kami. Aziz dan antek-anteknya juga menyusul ke puncak beberapa jam setelah kami. Pada akhirnya, kami selamat sampai pulang ke rumah dan bertemu dengan keluarga kami masing-masing.”


9 Okt 2013

Backpacker ke Belitung (Part I)


                Catatan perjalanan  kali ini akan menceritakan pengalaman yang saya dapati ketika melakukan Backpacker ke Belitung pertengahan September lalu. Perjalanan ini merupakan Solo Travelling kedua yang saya lakukan setelah ke Sumatera Barat beberapa waktu lalu. Semua bermula dari promo penerbangan Citilink 55rb pertengahan Agustus lalu. Dan langsung saja saya memilih rute Jakarta – Tanjung Pandan PP. Tak pernah terbesit sebelumnya jika tahun ini saya bakal melakukan perjalanan ke Belitung karena selama ini saya terbius oleh keinginan untuk menjelajah ke Lombok. Anehnya lagi, keinginan ke Lombok itu belum pernah terealisasi meskipun sudah menghanguskan 2 tiket promo ke sana.


Burung besiku siap mengangkasa
                Itinerary ke Belitung saya dapati beberapa hari sebelum pergi ke sana. Ada beberapa informasi yang saya kumpulkan terkait obyek yang akan saya kunjungi, penginapan, dan tentunya transportasi yang bisa saya gunakan selama di sana. Berbekal dari salah satu catatan perjalanan yang ada di traveller kaskus dan print out peta Pulau Belitung, saya akhirnya terbang juga dari Terminal 1C Bandara Soekarno Hatta minggu pagi.
                Perjalanan dari Jakarta ke Tanjung pandan ditempuh selama kurang lebih 50 menit. Pukul 07.00 pagi saya sudah mendarat di Bandar Udara Hanandjoeddin, Tanjung Pandan. Ada beberapa hal yang membuat saya takjub ketika pertama kali menginjakkan kaki di negeri laskar pelangi ini. Bangunan bandara di sini sangat kecil. Bandara Hanandjoeddin merupakan bandara terkecil dari beberapa bandara yang pernah saya kunjungi. Airport taxnya pun tergolong murah, hanya 11ribu! Tidak ada nama Angkasa Pura di sini. Oiya, jaringan 3 celluler di sini tidak ada sama sekali.


Bandar Udara Hanandjoeddin
Untuk mencapai kota Tanjung Pandan, tidak ada transportasi umum yang bisa digunakan dari bandara. Satu-satunya transportasi yang ada hanyalah travel. Travel di sini berupa mobil yang biasa disewakan semacam avanza dan sejenisnya. Saya sendiri menggunakan travel untuk menuju ke Hotel Surya di Kota Tanjung Pandan. Meskipun hanya berjarak sekitar 25 menit, tarif travel dari bandara ke pusat kota dipatok sebesar 40ribu. Yakh, lumayan mahal menurut saya.
                Hotel Surya berada di Jalan Dipati Endek dekat kawasan pecinan pusat kota Tanjung Pandan. Hotel ini terletak di lantai II sebuah bangunan tua di sisi kiri jalan. Di hotel ini lah saya menginap selama dua malam. Menurut penuturan petugas hotel, banyak para backpacker sebelumnya yang menginap di hotel ini. Meskipun tergolong sederhana, hotel ini cukup nyaman ditempati. Selain itu, tarifnya juga terjangkau dan letaknya berada di pusat kota. Salah satu fasilitas yang diberikan oleh hotel ini adalah sarapan pagi. Di hotel ini kita bisa menyewa motor dengan tarif 70k untuk jenis Mega pro dan 60k untuk jenis bebek. Saya sendiri jelas lebih memilih Mega pro sebagai partner untuk menjelajahi jalanan Pulau Belitung.
                Hari pertama saya putuskan untuk menjelajah sebelah barat laut pulau ini. Kondisi jalanan di Belitung sangat memanjakan sekali buat bikers. Tidak ada cacat aspal yang saya temui. Bahkan jalanannya pun lebar dan sepi. Saya sangat menikmati sekali perjalanan kali ini. Satu hal yang menjadi kekurangan di sini adalah tidak adanya SPBU yang buka sehingga untuk mengisi bahan bakar hanya bisa didapatkan melalui eceran. Hal ini tak begitu menjadi masalah karena penjual bensin eceran pun tidak sulit untuk didapatkan. Harga untuk satu liter bensin di sini dipatok sebesar 8k.

Tanjung Binga, Kampung Para Nelayan
                Tempat pertama yang saya kunjungi adalah Tanjung Binga. Tempat ini merupakan desa nelayan. Banyak sekali kapal nelayan yang bisa ditemui di sekitar dermaga. Sayangnya, momen kedatangan saya ke tempat ini kurang tepat. Biasanya tempat ini diburu oleh wisatawan ketika pagi hari di mana para nelayan baru saja pulang melaut. Saya sendiri sampai di tempat ini pukul 10.00.
                Perjalanan saya berlanjut ke Tanjung Kelayang. Di perjalanan menuju ke sana, saya tertarik melihat plakat arah sebuah pantai bernama Pantai Babilaian. Jaraknya tertulis 3km dari jalan utama dan harus masuk menembus hutan ilalang. Kondisi jalannya tidak beraspal melainkan jalan tanah merah. Pantai ini termasuk pantai yang baru resmi dibuka. Pada plakat arah disebutkan jika tempat ini merupakan hasil KKN mahasiswa UGM  tahun 2013. Berbicara mengenai pantai ini, hanya satu ungkapan yang bisa saya katakan “really so beautiful”. Hamparan pasir putih dengan ombak begitu tenang dan air yang dangkal sungguh sangat memanjakan sekali sebagai tempat untuk mencari ketenangan. Apalagi pantai ini sangat sepi dan tersembunyi. Keberadaan batu-batu granit juga menjadi nilai kesempurnaan tersendiri bagi pantai ini. 

Plakat arah ke Pantai Babilaian
Jalan akses ke Pantai Babilaian
Pantai Babilaian
Setelah cukup puas menikmati keelokan Pantai Babilaian, saya bergegas ke Tanjung Kelayang. Niatan saya mulanya di Tanjung Kelayang adalah mencari wisatawan yang bisa saya ajak buat share cost untuk menyeberang ke Pulau Lengkuas. Maklum untuk penyebarangan, satu kapal tarifnya 400k. Kapal ini bisa digunakan untuk 10 orang. Sayangnya, kali ini saya tak dapat barengan. Alhasil, saya hanya memandangi laut dari tepi sambil  menikmati kelapa muda ditemani rokok dan berbincang dengan penduduk setempat.


Tanjung Kelayang
Pantai Tanjung Kelayang
Salah satu sisi keindahan Tanjung Kelayang
Pantai Tanjung Kelayang
                Setelah dirundung rasa kecewa karena tak bisa ke Pulau Lengkuas, saya langsung beranjak ke pantai paling terkenal se-Belitung. Ya, Pantai Tanjung Tinggi. Pantai yang terkenal karena film laskar pelangi. Di pantai inilah salah satu scene  film tersebut dibuat. Di bandingkan dengan Pantai Babilaian, pantai ini jauh lebih ramai oleh pengunjung. Akan tetapi batuan granit di sini sungguh tiada bandingannya. Kondisi airnya juga jernih dan sangat memanjakan wisatawan untuk bermain di sekitaran pantai bahkan hingga agak ke tengah laut. Di sini juga banyak terdapat penjual makanan yang menjajakkan menu hasil laut. Makan siang saya lewatkan di sini dengan menu cumi tepung goreng.

Scene pembuatan film Laskar Pelangi
Pantai Tanjung Tinggi
Pantai Tanjung Tinggi yang dipenuhi batu granit
Di tepi jalan yang mengakses Tanjung Tinggi sudah banyak dipenuhi oleh resort dan penginapan. Hal ini juga terlihat di sekitar Pantai Tanjung Kelayang. Sesuatu yang menurut saya sedikit heran mengenai obyek wisata di pulau ini adalah ketiadaan retribusi memasuki kawasan wisata dan biaya parkir. Hal ini tentunya sangat berbeda sekali dengan obyek wisata di Pulau Jawa. 
Saya sempat lama berada di Tanjung Tinggi karena memang terpukau dengan keindahannya. Apalagi gerimis tipis membuat suasana menjadi redup-redup romantis. Ah, seseorang ketika itu sedang saya harapkan berada di sini. Tuhan mungkin telah memberi spoiler tentang gambaran surga dalam sebuah landscape di salah satu ujung utara Pulau Belitung.

Sehabis ashar saya beranjak kembali ke hotel melalui Sijuk menuju Tanjung Pandan. Jalanan yang basah setelah diguyur hujan membuat saya teringat lagunya Ipang, Sahabat Kecil. Di sepanjang jalan banyak sekali ilalang, pantai, dan perkampungan. Ada kedamaian hati yang tak terungkap dibalik kuda besi yang saya pacu melintasi keindahan. Keindahan yang sangat berbeda dari apa yang pernah saya lihat. Keindahan yang suatu saat ingin saya lewatkan dengan seseorang.      

Perjalanan Pulang