Mencoba
mengingat kembali kenangan-kenangan yang terjadi sewaktu kecil dulu. Perjalanan
mengenai pendidikanku dimulai di TK BA Aisyiah Gayam, tak jauh dari rumahku.
Waktu itu aku masuk tahun 1995. Dulu, aku termasuk anak yang sulit sekali
diyakinkan agar mau bersekolah. Tak mengherankan jika disuruh sekolah, aku
ogah-ogahan. Sebenarnya yang membuat aku demikian adalah tipe penakutku. Ini
bukan masalah keanehan. Anak usia 4 tahun yang baru masuk sekolah pasti juga
merasakan demikian. Apalagi waktu itu aku termasuk anak yang tak bisah pisah
dengan ibunya.
Dan jelaslah,
untuk membuatku tetap bersekolah, Ibuku harus menungguku. Sekolah TK ku dimulai
pukul 08.00 sampai 10.00 pagi. Waktu itu nama kelasnya adalah nol kecil. Ada
cerita mengenai perjalananku waktu sekolah di nol kecil ini. Di saat setiap
mengikuti kelas, aku harus memastikan bahwa ibu menungguku. Menunggu ini
maksudnya, bahwa beliau ada selama kelas berlangsung dari bel masuk sekolah
sampai pulang sekolah. Untuk memastikan hal tersebut, aku meminta ibuku untuk
mejagaku dengan ikut pelajaran di kelas. Tentunya dengan bangku yang berbeda.
Saat itu, biasanya para orangtua murid disediakan bangku di dekat pintu untuk
menjaga anak-anaknya. Pernah suatu ketika, ibuku meminta untuk menunggu di
luar. Lalu aku mengizinkannya. Namun, betapa tersedunya aku menangis setelah ku
tunggu beberapa menit beliau tak kunjung kembali ke kelas. Dalam hal ini, aku
menuntut jika ibuku tak mau menjagaku selama sekolah, aku tidak akan pergi
sekolah. Kejadian seperti ini berlangsung cukup lama. Masalah mengenai
ketakutanku ini tak bisa hilang oleh waktu. Apalagi waktu kecil aku adalah anak
yang selalu mengandalkan ibuku. Aku akan selalu menangis jika pulang ke rumah
dan tak mendapati beliau ada.
Hari sabtu
adalah hari yang paling ku tunggu. Para murid diharuskan membawa bekal untuk
pesta di kelas. Di hari sabtu pula, seminggu sekali kelas kami diisi dengan
permainan. Ibuku selalu membawakanku bekal berupa nasi rames yang dibeli di es
teler boncel milik orangtua temanku. Dalam hal masalah fashion, aku mungkin
termasuk orang yang banyak tuntutan. Maklum, semua atributku waktu itu harus
menyala. Salah satunya seperti sepatu yang bisa menyala. Entah kenapa waktu itu
sesuatu yang menyala menjadi trend di antara kami selaku balita.
Temanku waktu
itu yang masih membekas di ingatanku saat ini adalah Wawan, Bowo, dan Indra.
Wawan bisa di bilang adalag orang yang lurus dan neko-neko, dia cerdas dan
pintar. Sedangkan Bowo dan Indra adalah sebaliknya. Aku sendiri cenderung
berkawan dengan Bowo dan Indra. Aku tak tau mengapa demikian. Wawan hanya
setahun di sekolah ini. Setelah lulus dari nol kecil, dia langsung SD. Hal ini
dikarenakan karena kecerdasannya di atas rata-rata. Kami pun berpisah saat aku
naik ke nol besar atau biasa disebut tahun kedua di TK ini. Setelah itu, nyaris
kami tak pernah bertemu sampai saat ini.
Mengawali
lembaran baru di tahun kedua. Aku masih tak banyak berubah pada awal-awalnya.
Sekolah masih diantar oleh ibuku dengan sepeda onthel tuanya dan tentunya
beliau harus menunggu. Bedanya kali ini saya tak lagi menangis jika harus
ditinggal di tengah pelajaran sedang berlangsung. Dalam bersahabat, aku masih
berteman dengan preman TK waktu itu, siapa lagi kalau bukan Bowo dan Indra.
Isu-isu di dunia taman kanak-kanak sebenarnya berkutat pada dunia mainan yang
lagi ngeterend dan ada di pasar malam. Lalu kemudian teman saat itu temanku bernama
Topan memilikinya, lantas aku iri dan merengek minta bapak buat membelikannya.
Sebagai trio
sahabat yang mungkin waktu itu terkenal paling bandel karena hampir selalu
ngutang ke tempatnya mbah rumpyuh dan lek surati yang saat itu jadi penjaga
kantin. Lalu kemudian orangtua kami yang akhirnya membayarnya. Kenakalan kami
lainnya adalah sering meminjam mainan teman kami sampai ia menangis karena
tidak kami kembalikan. Waktu itu aku terkena candu dengan minuman extra joss.
Kakakku, waktu itu sering membeli untuk digunakan sebagai doping karena ia
keranjingan sekali main badminton. Suatu ketika aku mencoba minuman itu dan
rasanya memang sungguh enak. Tak heran apabila aku ketagihan. Suatu hari aku
mengambil extra joos itu dari kamar kakakku, lalu membagi-bagikannya kepada
teman di kelas. Sampai pada kahirnya ketahuan oleh ibuku, dan tentu saja dia
bilang jika minuman itu tak bagus buat kesehatan tubuh.
Aku masih
ingat guru TK ku waktu itu, namanya Bu Waginem. Dari sekian pengajar dan
pendidik yang pernah meracuniku dengan ilmu dan tindak-tanduk, beliau mungkin
salah satu yang terkenang karena aku merasa berhutang budi padanya. Dia adalah
yang pertama kali membentuk kepribadianku di pendidikan formal. Aku selalu
teringat dengan dongeng-dongengnya. Pertengahan tahun 1997 aku lulus.
Akhir-akhir ini dunia pendakian sedang menjadi sorotan. Hal ini tak lepas dari beberapa pendaki yang tewas ketika melakukan pendakian. Banyak hal yang menyebabkan peristiwa ini terjadi. Entah itu karena kondisi cuaca yang ekstrem dan tidak bersahabat maupun ketidaksiapan pendaki itu tersendiri dalam menghadapi berbagai macam resiko ketika melakukan pendakian.
Riris Aditya mencoba mengungkapkan kembali kisah petualangannya sewaktu muda dulu. Mendaki gunung adalah salah satu kegiatan olahraga esktrem dan petualangan yang dulu pernah ia geluti. Seperti halnya dengan pemuda pada umumnya, gejolak jiwa yang masih labil tapi penuh semangat dan bermodal nekat lekat menjadi identitasnya waktu itu. Potret perkembangan pemuda saat ini juga tak jauh beda. Bertualang demi mendapatkan kesenangan tapi abai dengan resiko dan bahaya yang menyertainya.
6 tahun lalu, Riris menjalani debutnya di dunia pendakian. Tanpa perbekalan dan persiapan yang matang, ia mencoba menakhlukkan ganasnya Gunung Lawu yang terkenal sebagai gunung paling angker dan dingin se-antero Pulau Jawa. Pendaki legendaris pendiri TPS ini melakukan pendakian pada bulan Januari ketika intensitas curah hujan sedang tinggi-tingginya. Namun, hal itu tak menyiutkan nyali sang Legenda.
Bersama rekan-rekannya, ia terjebak badai sewaktu menuju puncak tanpa perbekalan dan peralatan yang memadai. Karena ketangguhan dan kejantanannya itulah, ia disebut sebagai legenda. Benar-benar pendaki legendaris yang tidak bisa dibandingkan dengan pendaki-pendaki newbie saat ini.
Sang Legenda di Puncak Rinjani
“Waktu itu aku mengajak Aziz untuk mendaki gunung. Aku terobsesi oleh cita-citaku, yaitu sesuatu yang berbau militer. Impianku ketika itu adalah menjadi seorang polwan, tapi mana mungkin aku hanya lelaki. Karena tidak mungkin, kualihkan cita-citaku menjadi TNI, tapi tidak kesampaian. Untuk itulah aku ingin menguji fisikku dengan mendaki gunung. Pertimbanganku mengajak Aziz waktu itu karena orangnya sedikit tolol, enak diajak bercanda, selain juga alasan utama dia pernah kesana sebelumnya.
Pendakian perdanaku pun dimulai. Waktu itu Aziz menjadi ketua tim karena sudah pernah naik gunung sebelumnya. Harus diakui Aziz memang punya pengalaman, tapi pengalaman taek. Sedikit-sedikit lelah, minta break. Saya agak bimbang waktu itu. Di satu sisi Aziz klemak-klemek kayak bencong sapoy, sementara teman saya Istanto yang seorang petinju amatir bergerak cepat bagai ular. Istanto dan Panji yang memimpin di depan waktu itu melahap setiap trek jalan setapak Lawu. Hanya Cendy yang mampu mengimbangi waktu itu. Saya tau Wowor juga mampu mengimbangi tapi karena kesetiakawanan saya dan Wowor yang tinggi kami memutuskan mengimbangi Aziz. Jarak kami dengan grup depan bisa dikatakan hampir 300-500 m. Saya juga kadang di depan menyuruh agak pelan, tapi lebih banyak dibelakang.
Di tengah perjalanan Aziz membuang beberapa wedang putih untuk mengurangi beban dengan alasan musim hujan. Sesuatu hal yang bisa disebut sebagai tindakan kebodohan. Anda bisa menebak sendiri mengapa saya berkata kebodohan, pikirku waktu itu “o.. ya mungkin ini pengalaman”. Perlu digaris bawahi pengalaman.
Kisah pun berlanjut. Saat itu terjadi clash antara kami. Ya memang benar, saat itu terjadi clash antara Aziz dan Istanto tapi masih dalam taraf yang wajar. Jujur Istanto merasa geli dengan tingkah laku Aziz yang sok berpengalaman perlu digaris bawahi tapi kenyataannya klemak-klemek.
Akhirnya kami pun terpisah, saya dan Istanto cs. melanjutkan perjalanan sedangkan Aziz dan antek-anteknya berhenti di Shelter III. Sebenarnya, yang menyebabkan saya melanjutkan perjalanan bukan soal clash tapi karena gojekan Istanto untuk mengejar daging kambing yang dibawa pendaki lain. Saat itu di perjalanan, kami memang melihat beberapa pendaki yang membawa kambing hidup ke atas. Gojekan Istanto ini sebenarnya mengetes siapa yang berani lanjut. Saya yang bermodal tekad bulat untuk mendapatkan sunrise memutuskan lanjut. nDarun dan Panji hanya ikut-ikutan lanjut (mungkin obsesi daging). Dingin benar-benar menyelimuti kami dalam perjalanan waktu itu.
Bermodalkan badan sehat, kami menuju ke atas, horas beh !!
Tidak peduli dengan Aziz dan antek-anteknya. Setelah berjalan menahan dingin dan menerjang badai selama berjam-jam, akhirnya kami berempat tiba di Shelter IV. Saat itu pula, dengan penuh semangat mengejar puncak dan mengejar daging kambing, kami langsung tancap gas menuju puncak.
Baru 20 menit mendaki ke atas, kami melihat pemandangan yang begitu menakjubkan. Lampu-lampu kota yang sangat indah. Sampai saya terharu bila mengingatnya. Namun, tiba-tiba….. ASU……. badai besar datang. Kami hampir tersapu olehnya. Kami bergerak cepat kembali turun ke Shelter IV. Ini cerita paling menyedihkan, saya menulis biar semua orang tahu.
Dengan kondisi cuaca yang dingin seperti itu ditambah dengan badai dan rintik hujan, saya dan teman-teman memutuskan istirahat sejenak. Menunggu sampai cuaca kembali bersahabat. Minimal tidak hujan dan badai segera hilang.
Dingin kembali saya katakan. Dingin yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kami gelar mantol milik panji, karena itulah satu-satunya peralatan yang kami bawa. Kami berencana untuk beristirahat sejenak. Akan tetapi, setelah menunggu hampir 1 jam lebih, cuaca tidak memihak. Badai malah semakin besar sehingga kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan besok.
Di Shelter IV dengan kondisi sebagian atap hilang, beralaskan mantel, dan berselimutkan satu sarung yang kami pakai buat berempat, kami mencoba menyalakan api. Beruntung ada kayu-kayu yang agak basah disekitar Shelter IV. Anehnya, di sini saya lupa minta paraffin kepada Aziz yang kuakui memang peralatan dia lengkap.
Dengan tidak berputus asa, aku keluarkan lilin dari dalam tasku yang kuambil di meja dapur rumahku sebelum berangkat, kira aja berguna. Hampir setenggah jam lebih kami mati-matian menyalakan api. Aku sudah frustasi waktu itu. Berkat kegigihan Istanto dan nDarun, akhirnya api berhasil menyala untuk mengurangi dinginnya Shelter IV waktu itu. Dingin yang jujur kuakui sampai menusuk sumsum tulang. Kami akhirnya bisa sampai puncak keesokan harinya setelah matahari terbit menghangatkan tulang-tulang kami. Aziz dan antek-anteknya juga menyusul ke puncak beberapa jam setelah kami. Pada akhirnya, kami selamat sampai pulang ke rumah dan bertemu dengan keluarga kami masing-masing.”
Catatan
perjalanan kali ini akan menceritakan
pengalaman yang saya dapati ketika melakukan Backpacker ke Belitung pertengahan
September lalu. Perjalanan ini merupakan Solo Travelling kedua yang saya lakukan setelah ke
Sumatera Barat beberapa waktu lalu. Semua bermula dari promo penerbangan
Citilink 55rb pertengahan Agustus lalu. Dan langsung saja saya memilih rute
Jakarta – Tanjung Pandan PP. Tak pernah terbesit sebelumnya jika tahun ini saya
bakal melakukan perjalanan ke Belitung karena selama ini saya terbius oleh
keinginan untuk menjelajah ke Lombok. Anehnya lagi, keinginan ke Lombok itu
belum pernah terealisasi meskipun sudah menghanguskan 2 tiket promo ke sana.
Burung besiku siap mengangkasa
Itinerary
ke Belitung saya dapati beberapa hari sebelum pergi ke sana. Ada beberapa informasi
yang saya kumpulkan terkait obyek yang akan saya kunjungi, penginapan, dan
tentunya transportasi yang bisa saya gunakan selama di sana. Berbekal dari
salah satu catatan perjalanan yang ada di traveller kaskus dan print out peta
Pulau Belitung, saya akhirnya terbang juga dari Terminal 1C Bandara Soekarno
Hatta minggu pagi.
Perjalanan
dari Jakarta ke Tanjung pandan ditempuh selama kurang lebih 50 menit. Pukul
07.00 pagi saya sudah mendarat di Bandar Udara Hanandjoeddin, Tanjung Pandan.
Ada beberapa hal yang membuat saya takjub ketika pertama kali menginjakkan kaki
di negeri laskar pelangi ini. Bangunan bandara di sini sangat kecil. Bandara
Hanandjoeddin merupakan bandara terkecil dari beberapa bandara yang pernah saya
kunjungi. Airport taxnya pun tergolong murah, hanya 11ribu! Tidak ada nama
Angkasa Pura di sini. Oiya, jaringan 3 celluler di sini tidak ada sama sekali.
Bandar Udara Hanandjoeddin
Untuk mencapai kota Tanjung Pandan,
tidak ada transportasi umum yang bisa digunakan dari bandara. Satu-satunya
transportasi yang ada hanyalah travel. Travel di sini berupa mobil yang biasa
disewakan semacam avanza dan sejenisnya. Saya sendiri menggunakan travel untuk
menuju ke Hotel Surya di Kota Tanjung Pandan. Meskipun hanya berjarak sekitar
25 menit, tarif travel dari bandara ke pusat kota dipatok sebesar 40ribu. Yakh,
lumayan mahal menurut saya.
Hotel
Surya berada di Jalan Dipati Endek dekat kawasan pecinan pusat kota Tanjung
Pandan. Hotel ini terletak di lantai II sebuah bangunan tua di sisi kiri jalan.
Di hotel ini lah saya menginap selama dua malam. Menurut penuturan petugas
hotel, banyak para backpacker sebelumnya yang menginap di hotel ini. Meskipun
tergolong sederhana, hotel ini cukup nyaman ditempati. Selain itu, tarifnya
juga terjangkau dan letaknya berada di pusat kota. Salah satu fasilitas yang
diberikan oleh hotel ini adalah sarapan pagi. Di hotel ini kita bisa menyewa
motor dengan tarif 70k untuk jenis Mega pro dan 60k untuk jenis bebek. Saya
sendiri jelas lebih memilih Mega pro sebagai partner untuk menjelajahi jalanan
Pulau Belitung.
Hari
pertama saya putuskan untuk menjelajah sebelah barat laut pulau ini. Kondisi
jalanan di Belitung sangat memanjakan sekali buat bikers. Tidak ada cacat aspal
yang saya temui. Bahkan jalanannya pun lebar dan sepi. Saya sangat menikmati
sekali perjalanan kali ini. Satu hal yang menjadi kekurangan di sini adalah
tidak adanya SPBU yang buka sehingga untuk mengisi bahan bakar hanya bisa
didapatkan melalui eceran. Hal ini tak begitu menjadi masalah karena penjual
bensin eceran pun tidak sulit untuk didapatkan. Harga untuk satu liter bensin
di sini dipatok sebesar 8k.
Tanjung Binga, Kampung Para Nelayan
Tempat
pertama yang saya kunjungi adalah Tanjung Binga. Tempat ini merupakan desa
nelayan. Banyak sekali kapal nelayan yang bisa ditemui di sekitar dermaga.
Sayangnya, momen kedatangan saya ke tempat ini kurang tepat. Biasanya tempat
ini diburu oleh wisatawan ketika pagi hari di mana para nelayan baru saja
pulang melaut. Saya sendiri sampai di tempat ini pukul 10.00.
Perjalanan
saya berlanjut ke Tanjung Kelayang. Di perjalanan menuju ke sana, saya tertarik
melihat plakat arah sebuah pantai bernama Pantai Babilaian. Jaraknya tertulis
3km dari jalan utama dan harus masuk menembus hutan ilalang. Kondisi jalannya
tidak beraspal melainkan jalan tanah merah. Pantai ini termasuk pantai yang
baru resmi dibuka. Pada plakat arah disebutkan jika tempat ini merupakan hasil
KKN mahasiswa UGM tahun 2013. Berbicara
mengenai pantai ini, hanya satu ungkapan yang bisa saya katakan “really so
beautiful”. Hamparan pasir putih dengan ombak begitu tenang dan air yang
dangkal sungguh sangat memanjakan sekali sebagai tempat untuk mencari
ketenangan. Apalagi pantai ini sangat sepi dan tersembunyi. Keberadaan
batu-batu granit juga menjadi nilai kesempurnaan tersendiri bagi pantai ini.
Plakat arah ke Pantai Babilaian
Jalan akses ke Pantai Babilaian
Pantai Babilaian
Setelah cukup puas menikmati keelokan Pantai Babilaian, saya bergegas ke
Tanjung Kelayang. Niatan saya mulanya di Tanjung Kelayang adalah mencari
wisatawan yang bisa saya ajak buat share cost untuk menyeberang ke Pulau
Lengkuas. Maklum untuk penyebarangan, satu kapal tarifnya 400k. Kapal ini bisa
digunakan untuk 10 orang. Sayangnya, kali ini saya tak dapat barengan. Alhasil,
saya hanya memandangi laut dari tepi sambil menikmati kelapa muda ditemani rokok dan
berbincang dengan penduduk setempat.
Tanjung Kelayang
Pantai Tanjung Kelayang
Salah satu sisi keindahan Tanjung Kelayang
Pantai Tanjung Kelayang
Setelah
dirundung rasa kecewa karena tak bisa ke Pulau Lengkuas, saya langsung beranjak
ke pantai paling terkenal se-Belitung. Ya, Pantai Tanjung Tinggi. Pantai yang
terkenal karena film laskar pelangi. Di pantai inilah salah satu scene film tersebut dibuat. Di bandingkan dengan
Pantai Babilaian, pantai ini jauh lebih ramai oleh pengunjung. Akan tetapi
batuan granit di sini sungguh tiada bandingannya. Kondisi airnya juga jernih
dan sangat memanjakan wisatawan untuk bermain di sekitaran pantai bahkan hingga
agak ke tengah laut. Di sini juga banyak terdapat penjual makanan yang
menjajakkan menu hasil laut. Makan siang saya lewatkan di sini dengan menu cumi
tepung goreng.
Scene pembuatan film Laskar Pelangi
Pantai Tanjung Tinggi
Pantai Tanjung Tinggi yang dipenuhi batu granit
Di tepi jalan yang mengakses Tanjung Tinggi sudah banyak dipenuhi oleh resort dan penginapan. Hal ini juga terlihat di sekitar Pantai Tanjung Kelayang. Sesuatu yang menurut saya sedikit heran mengenai obyek wisata di pulau ini adalah ketiadaan retribusi memasuki kawasan wisata dan biaya parkir. Hal ini tentunya sangat berbeda sekali dengan obyek wisata di Pulau Jawa.
Saya sempat lama berada di Tanjung Tinggi karena memang terpukau dengan keindahannya. Apalagi gerimis tipis membuat
suasana menjadi redup-redup romantis. Ah, seseorang ketika itu sedang saya
harapkan berada di sini. Tuhan mungkin telah memberi spoiler tentang gambaran surga
dalam sebuah landscape di salah satu ujung utara Pulau Belitung.
Sehabis ashar saya beranjak kembali ke
hotel melalui Sijuk menuju Tanjung Pandan. Jalanan yang basah setelah diguyur
hujan membuat saya teringat lagunya Ipang, Sahabat Kecil. Di sepanjang jalan
banyak sekali ilalang, pantai, dan perkampungan. Ada kedamaian hati yang tak
terungkap dibalik kuda besi yang saya pacu melintasi keindahan. Keindahan yang
sangat berbeda dari apa yang pernah saya lihat. Keindahan yang suatu saat ingin
saya lewatkan dengan seseorang.
Sejarah dunia mencatat, sebuah gunung di perairan Selat Sunda meletus pada tahun 1883. Letusan yang sampai saat ini masih menjadi legenda karena kedahsyatannya. Letusan tersebut mengakibatkan tsunami dan menelan tak kurang dari 36.000 jiwa. Tidak hanya itu, letusan ini juga berdampak pada perubahan iklim dunia. Sesaat setelah letusan ini, dunia digelapkan oleh abu vulkanisnya selama lebih dari dua hari.
Menurut Pak Chandra selaku penduduk
lokal yang menjadi nahkoda dan guide kami selama di perjalanan ini, letusan Krakatau
menyebabkan daratan dimana gunung tersebut dulu berdiri terbelah dan terpisah
menjadi dua, yaitu Gunung Rakata yang tinggal setengahnya saja dan Pulau
Panjang. Dan di antara keduanya, pada
tahun 1930 munculah Gunung Anak Krakatau. Gunung berapi ini punya satu
keistimewaan dimana setiap tahun tingginya bertambah 4 cm dari permukaan laut.
Sampai saat ini Anak Krakatau telah berumur 83 tahun dengan memiliki ketinggian
230 m.
Perjalanan
kami menuju anak Krakatau dimulai dari stasiun tanah abang. Kami serombongan
terdiri atas 21 pria, tanpa wanita. Entahlah, sudah berapa kali perjalanan
telah terlewatkan tanpa kehadiran seorang wanita. Rombongan kami terdiri atas 7
orang alumni STAN Bintaro, sisanya alumni STAN Bea Cukai. Seperti biasa,
sebagai ketua rombongan, saya selalu tiba paling akhir di stasiun.
Meeting Points di Stasiun Tanahabang
Dari stasiun tanah abang kami
memesan tiket KA Ekonomi Krakatau. KA yang melayani rute Merak – Madiun PP ini
tergolong sebagai kereta baru. PT KAI sendiri baru meluncurkan dan mengoperasikan
kereta ini beberapa bulan yang lalu. Seumur-umur, inilah kereta ekonomi terbaik
dan ternyaman yang pernah saya tumpangi. Tempat duduknya yang masih tersegel rapi
dengan formasi seat 2 -2. Tidak hanya itu kondisi pendingin udara (AC) masih
sangat berfungsi dengan baik.
Suasana di dalam kereta
Tepat pukul 22.30 kereta berangkat
menuju Stasiun Merak, kami serombongan berada di dalam satu gerbong yang malam
itu benar-benar kami kuasai. Perjalanan selama kurang lebih tiga setengah jam
kami isi dengan bermain kartu, narsis dan report perjalanan di depan kamera,
serta canda tawa dibalik cerita. Meskipun ada juga yang sedari masuk ke dalam
kereta langsung amblas tertelan mimpi, contohnya @princemelon dan @ian_nurseto.
Bermain bridge di dalam kereta
Setibanya di Stasiun Merak, kami
langsung bergegas menuju kapal fery yang akan mengantar kami ke Bakauheuni.
Letak stasiun dan pelabuhan begitu dekat, sehingga untuk menuju ke deck kapal
kami cukup melewati jembatan penyeberangan. Di dalam kapal kami langsung
upgrade ke ruang executive agar bisa leluasa beristirahat sambil menunggu kapal
berlabuh.
Suasana di kapal fery yang menuju Bakauheuni
Estimasi penyeberangan yang semula
kami rencanakan memerlukan waktu dua jam kali ini meleset. Sewaktu akan
berlabuh, kapal kami ternyata harus menunggu giliran. Peristiwa semacam ini
memang diluar kebiasaan atau bisa dibilang luar biasa. Baru pada pukul 06.00,
kami akhirnya mendarat di Pulau Sumatera. Setelah belanja di Indomaret
pelabuhan Bakauheuni, kami langsung bergegas menuju Dermaga Canti via Angkot
yang kami carter.
Isa, Dinto, nDolo, Nopek
Dermaga Canti
Perjalanan ke Dermaga Canti dari
Bakauheuni lumayan jauh. Kondisi jalanan yang naik turun membuat angkot kami
sempat mogok di tanjakan. Penantian selama satu jam lebih akhirnya berujung
pada sebuah dermaga kecil bernama Canti. Di sinilah perjalanan ke Krakatau
benar-benar baru akan dimulai.
Hampir tiga jam kami
terombang-ambing di dalam kapal yang melaju melintasi lautan. Cuaca siang itu
sangat cerah, tak kuasa kulit kami terbakar matahari. Tujuan kami selepas dari
Dermaga Canti tadi adalah Pulau Sebesi, pulau kecil berpenghuni terdekat dari
Anak Krakatau. Pada awal perjalanan, saya memutuskan tidur di deck bawah karena
memang saya mengantuk sekali. Kondisi di deck atas sangat panas karena tidak
ada peneduhnya. Sudah lumrah memang karena kulit saya sangat alergi sekali
dengan panasnya sinar matahari sehingga hanya sesekali saya naik ke deck atas
hanya jika ingin melihat pemandangan dan mengistirahatkan telinga dari suara
bising mesin. Bau solar di deck bawah sebenarnya juga sangat menusuk dan bikin
tak betah tapi mau bagaimana lagi memang beginilah kondisinya.
Setelah dua jam lebih di perjalanan,
kapal kami berhenti sebentar di sekitar Pulau Sebuku. Di perairan Pulau Sebuku
ini, wisatawan biasanya melakukan snorkeling, begitu juga dengan kami. Akan
tetapi, karena kami tidak membawa (baca: tidak mendapat persewaan) alat
snorkeling, terpaksalah kami snorkeling tanpa alat. Mungkin lebih tepatnya
disebut berenang di laut lepas. Saya sendiri urung melakukan hal ini.
Berenang bebas di laut
Perjalanan dari Sebuku menuju Sebesi
bisa ditempuh selama 30 menit. Kedatangan kami di Pulau Sebesi langsung disambut
oleh Bapak Hayun yang sebelumnya sudah saya hubungi untuk menyediakan akomodasi
selama kami berada di sini. Perlu diketahui, Bapak Hayun merupakan orang
kepercayaan Pemerintah Provinsi Lampung yang ditugasi untuk menyediakan
akomodasi bagi para wisatawan yang melakukan perjalanan ke sini. Dari Beliau,
kita bisa memesan penginapan, makanan, dan bahkan kapal serta alat snorkeling.
Pendaratan kapal di Dermaga Sebesi
Sedikit gambaran mengenai Pulau
Sebesi. Pulau ini merupakan satu-satunya pulau berpenghuni dari sekian gugusan
pulau yang berada di dekat Krakatau. Para wisatawan biasanya menginap di sini
sebelum melanjutkan perjalanan ke Krakatau. Tidak heran, apabila warga di sini
merelakan rumahnya untuk dijadikan homestay. Kondisi di pulau ini tidak jauh
berbeda dengan perkampungan desa pada umumnya. Infrastruktur berupa jalan raya
sudah tersedia. Selain itu, fasilitas berupa sekolah dan puskesmas juga bisa
dijumpai di pulau ini. Hanya saja, ketersediaan listrik di pulau ini hanya bisa
didapati waktu menjelang maghrib sampai tengah malam.
Pulau Sebesi dari dekat
Kondisi homestay
Suasana jalan di Pulau Sebesi
Perkampungan di Pulau Sebesi
Rasa lelah selama perjalanan di
kapal tadi kami lampiaskan dengan beristirahat sambil menikmati kelapa muda
yang dipadu dengan sejuknya sepoi-sepoi angin pantai. Setelah makan siang dan
sholat dzuhur, perjalanan kami lanjutkan dengan island hopping dan beach
exploring di Pulau Umang dan sekitaran Pulau Sebesi. Pulau Umang letaknya tak
begitu jauh dengan Pulau Sebesi, pasir putih dan bebatuan karang menjadi ciri
khas pulau yang ukurannya hampir sama dari lapangan bola ini. Jernihnya air di sekitaran pulau ini juga
menjadi nilai plus tersendiri.
Hendra, Arya, Papang, David, Suryo di Pulau Umang
Menjelang senja, kami mengeksplorasi
sisi lain Pulau Sebesi. Salah satu obyek yang kami kunjungi adalah rumah pohon.
Rumah ini bisa disewa dan ditempati
tetapi kondisinya kurang begitu terawat. Sebagai sajian terakhir di hari
pertama kami di sini, terbenamnya matahari menjadi pelengkap indahnya
perjalanan dan penutup senja hari itu. Pemandangan eloknya cakrawala ini kami
dapati di tengah-tengah antara Pulau Sebuku dan Sebesi. Mungkin ini sunset
terbaik yang pernah kami dapati di atas
kapal.
Rumah Pohon
Sunset di atas kapal
Ketika hari mulai beranjak gelap,
kami kembali Ke Sebesi. Setelah mandi dan makan malam, praktis tak ada kegiatan
yang kami lakukan. Ada dua homestay yang kami sewa sehingga kebersamaan kami
agak sedikit terpisah malam itu. Apalagi malam itu saya memutuskan untuk tidur
lebih awal mengingat esok pagi buta kami haru sudah bergegas lagi ke dalam
kapal dan melanjutkan perjalanan menuju Anak Krakatau.
Gelombang laut pagi itu cukup besar.
Hampir selama dua jam kami terhempas oleh ganasnya lautan. Saya sendiri komat
kamit baca doa di sepanjang perjalanan yang penuh memacu adrenalin itu.
Bagaimana tidak seringkali kapal yang kami tumpangi miring ke kiri seolah-olah
mau karam. Bahkan di deck depan, air sampai masuk ke dalam kapal. Pelayaran
penuh mendebarkan itu akhirnya berakhir setelah kapal kami bersandar di Pulau
Anak Krakatau. Hamparan pasir hitam yang katanya mengandung banyak bijih besi
menjadi ciri khas tersendiri dari tepian pulau ini. Pagi itu, banyak kapal yang
berlabuh. Suasana cukup ramai oleh kehadiran para wisatawan. Di antara dari
mereka bahkan banyak yang mendirikan tenda di sekitaran tepi pantai.
Pantai di Pulau Anak Krakatau, kapal berlabuh
Sunrise di Pantai Krakatau
Untuk mendaki gunung ini,
wisatawan perlu mengurus izin terlebih
dahulu. Maklum, tempat ini termasuk kawasan cagar alam. Biaya administrasi dan
guide di sini sudah termasuk dengan biaya sewa kapal. Jadi tak perlu
mengeluarkan uang lagi. Setelah proses izin selesai, kami kembali melanjutkan
perjalanan yang menjadi intisari perjalanan ini, mendaki Gunung Anak Krakatau. Medan
pendakian Gunung Anak Krakatau tak begitu sulit, maklum gunung ini hanya
memiliki ketinggian 230mdlp dengan banyak hamparan pasir dan bebatuan. Pendaki
tidak diperbolehkan mendaki sampai ke puncak mengingat tidak ada jalur yang
bisa diakses untuk menuju ke sana. Overall,
pemandangan yang ditawarkan oleh gunung ini cukup mengesankan.
Cagar Alam Krakatau
Pendakian ke Anak krakatau
Spot tertinggi di Anak Krakatau yang
bisa dijangkau berupa puncak punggungan bukit. Di sini kami banyak mengambil
gambar. Membuat pesan dan berfoto narsis. Ada kejadian sedikit unik di sini,
karena saya bertemu dengan Yohan. Dia adalah kawan kami (rombongan Bintaro)
sewaktu ke Pulau Seribu tahun lalu. Kebetulan dia sedang mangadakan trip
bersama rekan-rekan kantornya.
Foto bersama Yohan (Army) di Krakatau
untitle
Foto sebelum turun
Sesaat setelah turun, kami sarapan sambil
menyaksikan pemadangan bule berenang. Tak mau kalah @yanuarAU juga menjadi
hiburan tersendiri bagi kami pagi itu. Setelah perut terisi, perjalanan kami
lanjutkan ke Legoon Cabe untuk snorkeling. Saya dibuat terkesima akan
pemadangan yang terdapat di antara Anak Krakatau dan Legoon Cabe. Dibandingkan
dengan spot lainnya di sekitar gugusan kepulauan ini, Legoon Cabe menawarkan
pemandangan bawah laut dan ikan yang lebih beraneka ragam. Sayangnya kami tak
bisa lama-lama di sini karena hari sudah menjelang siang.
Perjalanan turun
Legoon Cabe
Tiba
di Pulau Sebesi, kami segera packing dan bergegas untuk pulang. Tak lupa,
sebagai traveller beriman kami sholat terlebih dahulu setelah dapat jatah makan
siang. Lama perjalanan ketika kembali ke
Dermaga Canti seolah menjadi lebih singkat kali ini. Cuaca juga cukup
bersahabat dan tidak paans seperti waktu kami berangkat kemarin. Dengan
menggunakan angkot yang sama seperti yang telah kami pesan kemarin, kami langsung
menuju Pelabuhan Bakauheuni untuk menaiki Fery yang akan membawa kami kembali
ke Pulau Jawa.
Di
Terminal Merak, rombongan Bintaro dan Rawamangun terpisah karena kami menggunakan
bus yang berbeda jurusan. Sedikit berbeda dengan kereta yang kami gunakan
sewaktu berangkat, perjalanan menggunakan bus ternyata membutuhkan waktu yang
lebih singkat. Namun tetap saja, kami tiba di Bintaro sudah larut pagi. Dan
hampir semua estimasi waktu yang kami perkirakan meleset dari tujuan yang ada
di itinerary kami.
Pelaksanaan Itinerary
Hari I (Jumat, 6
September)
-22.00 : Meeting Point di Stasiun
Tanah Abang
-22.30 : Berangkat ke Pelabuhan
Merak
Hari II (Sabtu, 7
September)
-02.00 : Tiba di Pelabuhan Merak
-02.30 : Menyeberang ke Pelabuhan
Bakauheuni
-06.00 :Tiba di Pelabuhan
Bakauheuni
-06.30 : Perjalanan ke Dermaga
Canti
-08.00 : Tiba di Dermaga Canti,
sarapan
-09.00 : Perjalanan ke Pulau
Sebesi
-11.30 :
Snorkeling di Sebuku
-12.30 : Tiba di Pulau Sebesi,
Ishoma, Check in homestay
-15.00 : Island hopping dan beach
exploring di Umang-umang dan Sebesi
-17.30 : Sunset di tengah laut
-18.00 : Kembali ke Pulau Sebesi
-19.00 : Istirahat
Hari III (Minggu, 8 September)
-03.30 : Bersiap menuju Krakatau
-06.00 : Eksplore Anak Krakatau
-09.00 : Snorkeling di Lagoon Cabe
-11.00 : Kembali ke Pulau Sebesi
-12.30 – 15.00 : Ishoma, Packing, Sarapan, kembali ke
Dermaga Canti
-17.30 : Tiba di Dermaga Canti,
kembali ke Pelabuhan Bakauheuni
-19.00 :
Penyeberangan ke Pelabuhan Merak
-22.00 : Tiba di Pelabuhan Merak
-23.00 : Perjalanan ke Jakarta
-03.00 : Tiba di Bintaro
Rincian Biaya
-KA Krakatau Tanah
Abang – Merak 30k
-Kapal fery
Merak – Bakauheuni PP 24k
-Upgrade kapal
ke kelas eksekutif PP 20k
-Angkot
Bakauheuni – Dermaga Canti PP 340k
-Sewa Kapal 3,5d
-Sewa 2
Homestay 400k
-Makan @15k x 5 75k
-Bus Merak –
Jakarta 23k
Tips n Trick
-Ketersediaan
alat snorkeling di Pulau Sebesi sangat terbatas, kondisinya pun sudah banyak
yang rusak, sehingga perlu membawa alat snorkeling sendiri dari Jakarta. Tarif
yang dibebankan untuk alat snorkeling di Pulau Sebesi berdasarkan item, yaitu
berupa life jacket, snorkel, dan fin, masing-masing alat dibanderol 20k. Hal
ini sangat berbeda sistem persewaannya dibandingkan yang ada di Kep. Seribu
yang memasang tarif 30-35k per hari.
-Untuk Kapal
yang dipakai buat eksplore di sekitar kawasan Pulau Sebesi dan Krakatau
alangkah lebih bijak dipesan jauh-jauh hari terlebih dahulu. Hal ini untuk
mencegah perjalanan ke Dermaga Canti menjadi tidak sia-sia mengingat terkadang kalau sedang ramai oleh wisatawan,
kapal biasanya habis terpesan.