12 Sep 2012

Legend Of Kampes


Cak Dikin boleh saja menyebut tali kotang sebagai saksi cintanya yang suci. Akan tetapi, kami punya kampes sebagai tanda persahabatan yang abadi.

                Beginilah ceritanya:

September 2010.
Hujan mengguyur Merbabu. Waktu itu, Aku, Rudy, Riris, Ramdhan, Pongo dan Basuki sedang melakukan pendakian. Jarang sekali kami bisa berkumpul bersama semenjak lulus SMA. Maklum, kami berada di kota yang terpisah satu sama lain untuk melanjutkan study masing-masing. Rudy, Ramdhan, dan Basuki ada di Surabaya. Riris di Malang. Pongo yang memang tipe kurang suka tantangan tetap di Solo. Sedangkan aku ditakdirkan di Bandung. Untuk mengisi kegiatan libur lebaran edisi tahunan kali ini akhirnya kami memutuskan untuk mendaki Merbabu.
Hujan deras sudah mengguyur kami semenjak tiba di base camp. Ramdhan yang waktu itu menjadi pendaki newbie tak disangka ternyata membawa bekal pakaian yang cukup komplit termasuk baju, jaket, dan kampes serep untuk mengantisipasi keadaan cuaca. Betul ternyata, kampes serepnya Ramdhan ternyata berguna juga karena cuaca memang tidak bersahabat. Riris yang waktu itu kurang antisipasi akhirnya mau tak mau harus meminjam kampesnya Ramdhan karena kampes yang dia bawa basah semua. Ramdhan sendiri baru membeli kampes itu untuk dipakai di Merbabu dan belum sempat memakainya.  Sampai kami turun, kampes itu tetap melekat di selangkangnya Riris bahkan terbawa sampai ke Kota Malang.

Desember 2010.
                Libur Natal mengantarku ke Kota Malang. Agenda kali ini adalah mengunjungi Pulau Sempu. Aku berangkat dari Solo bersama Aryo dan Panji. Untuk mensukseskan misi ini, tentu saja aku mengajak Riris karena aku tau dia bisa dimanfaatkan. Apalagi dia masih di Malang meskipun telah menyelesaikan kuliah D1 nya. Cerita tentang kisah petualangan ke P. Sempu bisa dibaca di postingan lamaku. Yang menjadi masalah dalam edisi “mbolang” kali ini adalah aku tak mau membawa sisa pakain kotorku. Maka aku titipkan saja pada Riris biar diloundrykan dan membawanya ke Solo kalau dia balik nantinya biar bisa ku ambil. Aku sendiri akhirnya meminjam pakaian dan bahkan kampesnya untuk ku kenakan dalam perjalanan menuju pulang. Uniknya, kampes yang ia pinjamkan adalah kampes yang dulu ia pernah pinjam dari Ramdhan sewaktu di Merbabu. Jadilah ini menjadi sebuah lingkaran setan. Kampes itu berwarna biru. Sampai saat ini, kampes itu sudah tidak ku kenakan dan ku museumkan di lemari rumah.

Oktober 2011.
                Riris yang sudah penempatan di Batam akhirnya main dan menginap di kosku. Kebetulan saat itu ia baru saja mengikuti diklat prajab di Depok. Beberapa hari menginap di kosku ternyata membuat persediaan kampesnya habis. Dia tak sempat mencucinya. Membeli barupun enggan. Ternyata sebagai bentuk dendam, dia menyuruhku untuk meloundry dan meminjamkan kampesku kepadanya seperti halnya yang pernah dia lakukan kepadaku sewaktu di Malang dulu. Karena merasa kasihan meihatnya merengek-rengek terus, akhirnya ku pinjamkan juga kampesku.

Begitulah cerita tentang persahabatan kami yang senantiasa dihiasi oleh tragedi kampes. Maaf saja kalau postingan kali ini tak disertai gambar karena sungguh saru dan memalukan jika harus dicantumkan.  Berharap pembaca bisa menggunakan imajinasinya sendiri untuk meresapi cerita di atas. Hehehe

6 Agu 2012

Railbus Batara Kresna



Hari minggu, 5 Agustus 2012, railbus Batara Kresna akhirnya untuk pertama kalinya resmi beroperasi. Saya sendiri berksempatan menjajal ikon transportasi terbaru kota solo ini sehari setelahnya. Kali ini saya sengaja menggunakan rute Sukoharjo-Solo yang letak stasiunnya tak jauh dari rumah. Selain melayani rute Solo-Sukoharjo, railbus ini juga melayani trayek Solo-Jogjakarta.


Waktu parkir di stasiun

              Rencana untuk mencoba railbus ini memang sudah saya rencanakan malam sebelumnya. Saya tidak tau kenapa alat transportasi ini dinamakan railbus, karena menurut saya transportasi ini sama saja dengan kereta api pada umunya. Bentuk luarnya saja yang lebih modernis jika dilihat lokomotifnya. Gerbongnya sendiri tak kalah semarak dengan motif yang sedikit norak. Mungkin alasan politis tertentu terutama terkait strategi menggaet wisatawan sehingga transportasi ini dinamakan railbus.
             Dari stasiun Sukoharjo, railbus berangkat pukul  07.45 tepat (no ngaret!). Untunglah saya yang baru bangun pukul 07.30 segera bergegas pergi ke stasiun dan sempat membeli tiket sesaat sebelum railbus berangkat.  Sedikit nostalgia dengan stasiun kecil yang berada di kota Sukoharjo ini. Dulu sewaktu masih kecil, Alm. Ibuku sering mengajakku ke Wonogiri naik kereta dari stasiun ini. Sudah lama rasanya memang saya tak naik kereta dari stasiun ini. Saya masih ingat terakhir kali naik kereta dari sini adalah sewaktu tadabur alam dengan teman-teman TPA masjidku, Juli 2000. Dulu sewaktu saya masih kecil kereta jurusan Sukoharjo-Wonogiri cukup terkenal dan sering dipakai sebagai sarana transportasi utama bersaing dengan bus. Saya masih ingat kereta itu bergambar punokawan sehingga namanya pun “sepur punokawan”. Model warnanya biru dengan penampilan terbuka tanpa kaca smaping layaknya sepur kelinci yang sering dipakai oleh anak-anak.  Entah kenapa, dalam perjalanan saya menuju dewasa, kereta ini sudah lama sekali tidak terlihat.


interior railbus batara kresna

              Di dalam railbus batara kresna ini, saya sedikit mengamati interior dan mengajak berbincang dengan petugas pengecekan tiket. Kebetulan penumpang yang naik dari stasiun Sukoharjo ini hanya segelintir orang. Saya sendiri berada di gerbong II yang hanya diisi oleh 2 orang penumpang saja. Railbus ini membawa 3 gerbong. Interior railbus ini tak jauh berbeda bahkan bisa dikatakan sama dengan KA Madiun Jaya yang pernah saya tumpangi. Menurut petugas KAI yang saya tanyai tadi  sebenarnya railbus ini akan beroperasi sampai Wonogiri. Akan tetapi, kondisi trek yang masih belum memungkinkan menyebabkan railbus ini hanya beroperasi sampai di Sukoharjo saja. Memang dalam beberapa tahun terakhir ini PT. KAI sudah memperbaiki lintasan yang menuju Wonogiri tetapi tetap saja kondisi trek memang belum layak diperuntukkan bagi railbus ini. Dari Sukoharjo-Solo saja, railbus ini paling banter kecepatannya hanya 30 KM/Jam. Hal ini bisa diamati di papan digital tiap gerbong yang juga menampilkan stasiun berikut yang dituju serta waktu yang menunjukkan sekarang. Hal yang sedikit membuat saya merasa spesial tentu saja adalah railbus ini menjadi pusat perhatian bagi siapa saja yang melihat sepanjang perjalanan Sukoharjo-Solo yang memakan waktu selama 60 menit, terlebih saat railbus ini melintas di sepanjang Jalan Slamet Riyadi.

papan digital

            Ada yang membuat saya sedikit bertanya-tanya sepanjang perjalanan. Railbus ini mungkin mungkin menjadi sebuah prestasi dan kebanggaan warga Solo dan sekitarnya karena menjadi alternative transportasi umum selain bus. Di lain sisi saya juga bertanya apakah railbus ini mampu bertahan untuk beberapa tahun ke depan. Kalau dilihat dari peruntukkan komersil pariwisata, railbus ini terbilang punya beberapa kelemahan.
Hal pertama tentu berkaitan dengan potensi pariwisata itu sendiri. Kota di sekitar Solo harus saya akui tidak mempunyai potensi wisata yang bisa diandalkan (dalam konteks ini adalah Sukoharjo). Saya tak perlu bercerita panjang lebar soal ini. Untuk Wonogiri potensinya memang sedikit di atas Sukoharjo  seandainya nanti jadi dibuka jalur railbus ke sana. Hal ini tak berlaku untuk Jogja yang memang punya potensi wisata.
Masalah yang kedua adalah masalah waktu. Untuk orang yang menghargai waktu, railbus bukanlah solusi tepat untuk perjalanan Solo-Sukoharjo-Wonogiri. Terkecuali untuk Solo-Jogja karena kondisi lintasan memang sudah bagus dan menjadi salah satu jalur utama kereta api di Pulau Jawa. Waktu tempuh untuk Solo-Sukoharjo dipastikan akan lebih lama dibandingkan dengan naik bus AKDP apabila kecepatan railbus masih begini-begini saja.
Masalah ketiga adalah tarif. Tarif yang diberlakukan untuk railbus ini terbilang  cukup mahal, untuk jurusan Sukoharjo-Solo saja sebesar Rp 10.000,- bandingkan dengan apabila naik bus yang hanya sekitar Rp 3.000,- sampai RP 4.000,-. Bagitupun untuk jurusan Solo-Jogja yang dibanderol Rp 20.000,- ini jauh lebih mahal 2x lipatnya dari KA Prameks dan Madiun Jaya yang beroperasi pada jalur yang sama.
Terlepas dari berbagai macam persoalan di atas, rail bus ini memang layak untuk dicoba bagi masyarakat penghobi perjalanan khususnya yang masih penasaran dengan ikon baru transportasi Kota Solo ini. Terlebih railbus ini menambah keberagaman transportasi Kota Solo setelah sebelumnya muncul bus tingkat Werkudara dan Batik Solo Trans yang muncul jauh-jauh sebelumnya.  Hanya berharap semoga PT. KAI mampu meningkatkan kinerja dan pelayanannya sehingga railbus ini bisa tetap eksis dan dipercaya sebagai transportasi umum utama penunjang mobilitas masyarakat, khususnya turis.


Berkitu Jadwal Railbus Batara Kresna (sementara) :

- Dari Solo Balapan - Stasiun Purwosari pukul 06.00
- Dari Stasiun Purwosari - Stasiun Sukoharjo pukul 06.05
- Dari Stasiun Sukoharjo - Stasiun Purwosari 
pukul 07.45
- Dari Stasiun Purwosari - Stasiun Tugu Yogyakarta pukul 09.00
- Dari Stasiun Tugu Yogyakarta - Stasiun Purwosari pukul 14.15
- Dari Stasiun Purwosari - Stasiun Sukoharjo pukul 15.18
- Dari Stasiun Sukoharjo - Stasiun Purwosari pukul 16.44

Untuk sementara belum sampai ke Wonogiri, menunggu perbaikan fasilitas penunjang yang belum selesai ..

Untuk sementara railbus yang terdiri dari 3 gerbong baru melayani rute Solo-Sukoharjo dua kali dalam sehari dan rute Solo-Yogyakarta sekali sehari. Pekan depan, masing-masing menjadi dua kali sehari.


Tarif Railbus AC :
- Solo - Sukoharjo : Rp 10.000
- Solo - Jogja : Rp 20.000
- Sukoharjo - Jogja : Rp 30.000

Tiket bisa didapat di masing-masing stasiun.

Railbus hanya berhenti di Stasiun Balapan, Stasiun Purwosari, Stasiun Sukoharjo, Stasiun Maguwo, Stasiun Lempuyangan, dan Stasiun Tugu.
 .


2 Agu 2012

Cerita dari Pangumbahan


             Pangumbahan merupakan salah satu deretan pantai yang berada di ujung selatan Sukabumi, Jawa Barat. Orang-orang mungkin lebih familiar dengan nama Ujung Genteng. Namun percayalah, sebenarnya hal ini adalah sebuah  kekeliruan. Pantai ini merupakan salah satu pantai favoritku dari beberapa  pantai yang pernah ku kunjungi. Pantai ini tergolong unik karena selain merupakan tipe pantai coral, di satu sisi juga merupakan pantai tipe berpasir. Pada tipe pantai coral, kita tidak bisa leluasa bermain ombak karena apabila tak hati-hati dan terjatuh hal itu sering membuahkan lecet di tubuh. Namun demikian, hal yang luar biasa dapat kita jumpai di tipe pantai berpasir. Kita bisa leluasa bermain ombak di sini. Ombak di sini cukup menantang, terutama buat para surfer. Beberapa bule bisa kita temui bermain surfing di sini. Meskipun begitu, pengunjung di pantai ini masih sangat sedikit. Minimnya infrastruktur mungkin menjadi penyebab pantai ini belum terlalu dikenal. Akan tetapi nilai plus lain dari tempat ini adalah kondisi pasirnya yang masih putih bersih. Tak heran pantai ini merupakan salah satu dari dua destinasi di Pulau Jawa yang menjadi tujuan bagi penyu untuk bertelur. Pemandangan sunsetnya juga menyiratkan keromantisan alam yang berpadu indah di salah satu sudut barat laut Pulau Jawa ini.

Suasana di Bus

           Perjalanan menuju Pantai Pangumbahan malam itu menyimpan cerita tersendiri. Untuk menjaga kesemarakan kami di perjalanan, aku bahkan rela membawa dua gitar yang akhirnya membawa kami tetap terjaga dalam hangatnya kebersamaan sampai jam 02.00 pagi. Ini belum termasuk 3 kresek kriuk yang menjadi santapan utama kami sepanjang perjalanan. Malam itu kondisi jalan memang sedikit agak macet, terutama ketika kami  mulai meninggalkan Bogor. Memasuki Sukabumi bagian selatan, kondisi jalan bertambah semakin ekstrim. Selepas dari Sukabumi kota, jalan menuju ujung selatan Jawa Barat ini semakin bertambah berkelak-kelok. Tubuh kami sering terhempas di atas jok kami berada akibat kondisi jalannya bergelombang dan sempit. Baru setelah sembilan jam berada di perjalanan, akhirnya  kami tiba juga di Pangumbahan.
          Pada awalnya kami sempat memilih Villa yang salah, yaitu yang berada di Batunungul. Karena pertimbangan view di Batunungul tidak begitu bagus akhirnya kami pindah lokasi yang berada di Pangumbahan. Perlu diketahui, bahwa rombongan yang membawa bus biasanya memilih lokasi Villa yang berada di Batunungul kemudian mereka bisanya melanjutkan perjalanan ke Pangumbahan dengan berjalan kaki selama hampir satu jam.
              Di Villa yang kami tempati, kami benar-benar disuguhi suasana pantai yang aduhai. Maklum, Villa ini berada tepat di bibir pantai. Dari lantai II Villa kami, deburan ombak dan kelincahan para surfer bisa diamati dengan jelas.
Suasana di Villa

         Setibanya di Villa, kami segera mengeluarkan barang-barang yang berada di bus. Baru setelah sarapan, kami akhirnya bisa mencumbui pantai sepuasanya dengan bermain ombak dan pasir. Suasana pada waktu itu benar-benar memanjakan kami. Cuaca begitu cerah. Terlebih lagi, pantai ini seolah menjadi milik kami sendiri karena tak ada pengunjung yang datang ke sini selain kami terkecuali hanya segelintir bule yang bisa dihitung dengan jari tengah bermain surfing.
  Satu hal yang sedikit menjadi halangan kami adalah bahwa hari itu adalah hari Jum’at. Kami yang muslim tentunya wajib menunaikan sholat jumat. Sholat jumat di Pangumbahan kali ini juga punya cerita sendiri. Dari Villa kami musti berjalan selama hampir satu jam untuk sampai di perkampungan dan menemukan masjid.  Kami serasa benar-benar seperti musafir yang melintasi padang pasir dan diterjang teriknya matahari. Ada yang berbeda dari jumatan di kampung yang memang 100% dihuni Orang Sunda ini. Bahasa yang digunakan dalam berceramah adalah bahasa Arab. Sebelum jumatan ada semacam sholawat dan beberapa informasi yang disampaikan dalam bahasa Sunda. Hal ini yang menjadi bahan perbincangan kami selama perjalanan menuju Villa kembali.
  Selepas games, kami kembali bermain di pantai. Beberapa ada yang bermain layang-layang yang memang sengaja di bawa dari kos. Beberapa ada yang merenung dan mengajak berdiskusi dengan ombak. Ada juga yang sibuk dengan kameranya. Aku sendiri memilih untuk bercengkerama dengan  gitarku. Sebelum akhirnya tergoda untuk bergabung bersama mereka.
Bermain layang-layang. cc: Ruli, Me, Ryan, Eko
  Pergi ke penangkaran penyu dan ikut melepaskan tukik ke laut juga menjadi agenda kami sore itu. Kebetulan penangkaran penyu ini tak jauh dari lokasi villa kami berada. Tinggal menyusuri bibir pantai ke arah barat selama setengah jam, maka disebelah kanan akan terlihat bangunan  tersembunyi di balik rimba pohon yang memang dikhususkan untuk konservasi penyu, terutama penyu hijau.
Lokasi Penangkaran Penyu

  Sore itu kami diberi satu ember berisi tukik yang masih imut-imut. Kami tak lupa mengabadikan momen pelepasan ini. Perlu diketahui, penyu hanya akan kembali ke pantai saat mereka akan bertelur. Dan di depan ada sebuah samudera tempat tukik-tukik ini mengarungi kehidupannya sebagai petualang ulung. Memang dari sekian banyak tukik ini, hanya beberapa yang akan kembali ke pantai ini. Oleh karenanya, beberapa teman ada yang terlihat jahil dengan tetap memegang tukik ini untuk enggan melepasnya. Yakh, walaupun belakangan ku ketahui bahwa mereka hanya ingin narsis difoto bersama tukik imut ini.

Saat melepas penyu

  Sunset di pantai ini merupakan sesuatu yang sangat terlalu sayang untuk dilewatkan. Kalau boleh dibilang, sunset di Pangumbahan terlihat lebih romantis dibandingkan dengan yang ada di Kuta. Hal ini yang membuatku bertahan cukup lama di sini hingga hari benar-benar gelap. Ku lihat beberapa kawan sedang asik berbincang dengan kekasihnya. Ada juga yang mencoba mengutarakan cinta. Aku sendiri jomblo yang ditinggal kekasih. Yakh, hidup memang agak terasa hampa jika tak punya kekasih.

Sunset, foto bersama

Beautiful sunset, Pangumbahan

  Malam harinya kami kembali ke Villa dan melakukan santap malam. Makan malam kami kali ini adalah ayam bakar yang sebelumnya dibuka dengan jagung bakar. Kami bawa sendiri segala bahan dan perlengkapan untuk membuat makanan ini. Acara kami pun berlanjut sampai  tidur mengistirahatkan kami jam 02.00 pagi.
  Sabtu pagi datang menjemput. Sebelum bergegas pulang, kami memuaskan diri sekali lagi untuk bermain deburan ombak yang menjadi saksi kehangatan dan kebersamaan kami.  Kami baru benar-benar checkout pukul 15.00  dan melanjutkan perjalanan ke Curug Cikaso.


Perahu yang membawa kami ke curug

  Curug Cikaso adalah salah satu air terjun yang ada di Sukabumi. Rugi rasanya kalau sudah menjelajahi pantai selatan Sukabumi  tanpa  mengunjungi Cikaso. Untuk sampai di curugnya, salah satu modal transportasi yang diperlukan adalah dengan menaiki perahu sewaan. Alternatif lain adalah berjalan kaki melewati area perbukitan dan persawahan mengingat lokasinya berada di ujung seberang sungai. Kami sendiri akhirnya lebih memilih naik perahu karena hari sudah hampir gelap.


Foto bersama di Curug Cikaso

  Tak lama kami berada di Cikaso, karena petugas tak mengizinkan kami berada di lokasi jika hari sudah gelap. Yakh, petugas di sini memang agak sedikit gathel. Sudah pasang tarif mahal, pengunjung juga dibebani pungli yang menyesatkan. Brengsek!
  Dari Cikaso kami langsung kembali ke Bintaro. Mungkin karena kecapekan, beberapa kawan ada yang mabuk sepanjang perjalanan pulang kali ini. Yakh, meski begitu perjalanan pulang terasa lebih cepat karena gak pakai macet. Tengah malam lewat 2 jam kami  sudah tiba di Bintaro. Untunglah semua selamat, meskipun ada salah seorang kawan yang kehilangan kacamata. Aku sendiri kehilangan cincin yang sudah lebih dari dua tahun ku kenakan darinya. Senang rasanya bisa mengajak kalian ke Pangumbahan meski pada awalnya sempat tertunda 3 kali. Semoga ada petualangan yang menyatukan kembali keberasamaan kita kawan.



Pangumabahan Beach

11 Okt 2011

Diskusi Jodoh


Hari Minggu kemarin, (9/10), Cendy datang ke kosku. Ia, sengaja ku suruh datang ke kosku karena kebetulan Riris juga ada di sini, sekedar reunian kecil-kecilan dan tentu saja melakukan obrolan ringan mengenai perempuan. Riris sendiri datang ke sini karena dia baru saja menyelesaikan prajab sebelum balik kembali ke Batam.
Sambil menikmati makanan ringan dan tentunya partner setia kami selama menghadapi perjuangan selama ini yang bernama “rokok”, kami berhasil mencetuskan idea tau teori  baru terkait masalah perjodohan. Beberapa teori berhasil kami floorkan siang itu. Teori ini bukan plagiat dari siapapun, melaiknkan murni dari kami sendiri.


A. Teori Bus
Jodoh ibarat kita menunggu bus. Kita (laki-laki) adalah seorang pelamar pekerja yang sedang menunggu bus di halte untuk pergi ke kantor guna test wawancara sebagai tahap akhir bagi calon pekerja kantor tersebut. Di dalam sayarat peraturan kantor bagi calon pelamar mengindikasikan jika kita tak boleh datang terlambat. Wawancara bagi pelamar kerja dimulai pukul 07.30 pagi. Sedangkan kita sudah berada di halte pukul 07.00 pagi. Perjalanan ke kantor menggunakan bus bisa ditempuh selama 10 menit. Namun, sekali lagi kita tak boleh datang terlambat karena bisa berujung pada tidak diterimanya kita di kantor tersebut. Jalan kaki bukan merupakan langkah realistis karena tak bisa kita lakukan.
                Setelah menunggu 5 menit, bus yang kita tunggu datang. Bus yang datang kali ini masih baru dan kelihatan bagus. Akan tetapi, bus ini sudah penuh dengan orang-orang yang mau pergi berangkat bekerja. Bus itu bisa saja dinaiki tetapi resikonya kita harus berdiri. Karena waktu masih banyak tersisa, kita menghendaki untuk menunggu bus lain saja.
                Pukul 07.10, lewatlah sebuah bus yang sepi tanpa penumpang. Namun, bus tersebut jelek dan kotor serta tak layak pakai, ibaratnya seperti metromini yang sekarang banyak beroperasi di Jakarta. Dengan kondisi bus seperti itu, kita menjadi urung untuk naik dan memutuskan untuk menunggu bus lain saja dengan harapan mendapatkan bus yang baru atau setidaknya bagus dan bersih serta tentunya sepi dari penumpang sehingga kita bisa duduk dengan nyaman.
                Hampir menunggu selama 10 menit, ternyata tak ada bus yang seperti kita harapkan tadi lewat. Lalu tiba-tiba ada bus yang lewat. Mengingat waku kurang 10 menit. Kita mau tak mau harus menumpang bus tadi daripada harus tak dapat kerja. Dan jadilah kita menaiki bus tadi. Kita pun akhirnya bisa datang tepat waktu ke kantor. Selang beberapa hari kemudian kita menerima pengumuman bahwa kita diterima sebagai pekerja baru di kator tersebut.
                Kesimpulan yang dapat diambil dari kisah tadi adalah ketika tiba kita pada waktunya untuk memutuskan sesuatu karena “kepepet”, mau tak mau kita harus berani mengambil keputusan tersebut. Ibaratnya ketika kita sudah matang usia untuk kawin, mau tak mau kita ahrus kawin. Perempuan yang kita kawini terkadang tak sesuai dengan yang kita harapkan seperti yang bus kita tunggu tadi. Namun, sekali lagi kita harus kawin karena hal itu merupakan kebutuhan dan sunah rasul.
Riris, Preman Cukai Batam





B. Teori Badminton
Kita (lelaki) adalah seorang yang tak bisa bermain badminton sama sekali. Dan dalam beberapa hari  ke depan ada kejuaraan yang menuntut kita untuk berpartisipasi. Karena sama sekali tak bisa bermain, maka kita berlatih.
Latihan pertama adalah bagaimana caranya agar kita bisa service shuttlecock. Setelah latihan pertama berhasil, latihan selanjutnya adalah melop bola ke bidang lawan. Kedua bentuk latihan tersebut bisa dibilang menjadi aspek dasar pertama dalam bermain badminton. Akan tetapi, untuk bisa menang, kita tentunya juga harus bisa melakukan smash ke arah bidang lawan dengan pukulan keras dan tajam. Untuk itu, kita berlatih bagaimana caranya melakukan smash dan memukul bola secara sempurna. Kemampuan kita akan menjadi sempurna apabila kita juga bisa bertahan dengan baik menghadapi gempuran lawan. Sebagai penutupnya guna mempersiapkan diri ke kejuaraan, kita berlatih tanding dengan pebulutangkis lain.
Cendy Adam
Cerita yang ditelorkan Cendy di atas bermakna lebih tentang bagaimana kita sebagai seorang pria jomblo bisa mendapatkan perempuan. Hal yang pertama kita lakukan  adalah melakukan pendekatan sedikit demi sedikit sampai akhirnya kita bisa mendapatkan perempuan tersebut. Bisa dibilang, untuk mendapatkan perempuan ibaratnya hal yang kita lakukan adalah menganalogikan hal tersebut dengan sebutan “iseng-iseng berhadiah”. Hal pertama kali yang kita lakukan dalam mendekati perempuan adalah dengan perbuatan iseng-iseng dan secara tak langsung  bertujuan untuk menarik hati sang perempuan. Tanpa berharap lebih jauh untuk bisa mendapatkan sang perempuan ini, kita semestinya juga sudah siap kalau diacuhkan sang perempuan. Namanya juga iseng-iseng. Seperti halnya kita memancing, kadang dapat kadang tidak. Namun, terkadang kita memang harus merayakan kegetiran akibat penolakan perempuan.




9 Okt 2011

Pendakian Gunung Slamet



Prologue
Lagu Leaving on Jet Plane milik John Denver terdengar lirih dari balik ponselku yang sedikit memecah kesenyapan malam itu. Sementara kami masih berada dalam mobil angkutan yang melaju menembus kabut tebal sepanjang perjalanan Serayu ke Bambangan. Kabut tebal ini membuat saya kagum sekaligus sedikit khawatir. Belum pernah saya melihat kabut setebal ini, bahkan apa yang ada pada jarak 1 meter di depan sama sekali tak terlihat. Semuanya serba putih oleh titik air yang terdispersi oleh cahaya. Saya juga sedikit menyimpan rasa heran pada sopir mobil angkutan ini yang tetap mampu menggunakan instingnya melewati jalan pegunungan yang berkelok-kelok. Hampir 12 jam kami menempuh perjalanan dari Solo. Dan ini adalah transportasi terakhir yang kami naiki untuk sampai ke Bambangan, desa terakhir di kaki Gunung Slamet.
                Semua bermula dari sedikit niatan iseng saya yang menjadi pengangguran selama musim liburan kali ini untuk mengajak beberapa teman mendaki ke Slamet. Dari belasan orang yang saya ajak, akhirnya hanya lima orang  yang ikut dalam misi petualangan menaklukkan gunung tertinggi kedua di ranah jawa ini: Rudy, Bernard, David dan Yoga, termasuk saya.
                Senin pagi (5/11), kami berkumpul di Terminal Tirtonadi. Rencana awal kami ingin menaiki bus yang  langsung menuju Purwokerto. Namun, bis yang sedianya kami harapkan ternyata sudah berangkat. Alhasil, kami terlebih dahulu harus ke Terminal Giwangan, Jogjakarta, untuk mencari bus jurusan Purwokerto.

Kumpul di Terminal Tirtonadi, Solo

                Setibanya di Terminal Purwokerto, kami berjumpa dengan tiga pendaki dari Tasikmalaya yang baru saja turun. Dari mereka, saya sedikit mengorek informasi tentang kondisi dan situasi paling “gress” Gunung Slamet. Keharusan memakai ranger (porter) dan kondisi medan menjadi topic percakapan kami sembari beristirahat untuk shalat maghrib. Sebagai kenangan, mereka memberikan 2 dirigen air untuk kami.
                Di terminal ini, kami meneruskan perjalanan menuju Bobotsari dengan microbus dan  turun di pertigaan Serayu. Setibanya di Serayu, kami langsung disambut oleh sopir angkot yang menawarkan jasa untuk mengantarkan kami ke Bambangan. Sebagai kawasan kota terakhir, di sini kami melengkapi perbekalan dan menikmati makan malam dengan dua porsi sate kambing untuk lima orang.
                Kondisi malam di Bambangan sebenarnya tak terlalu dingin tapi kabut amat tebal. Kami yang berencana untuk mendaki pagi hari terlebih dahulu memutuskan untuk mendirikan tenda di Pondok Pemuda dan bermalam di sini. Hal ini kami lakukan karena basecamp sudah tutup karena hari sudah larut malam.
                Selasa (6/11) Pagi hari ketika akan shalat subuh di masjid yang notabene berada di bawah Pondok Pemuda, saya dan Bernard berpapasan dengan tiga pendaki dari Surabaya yang baru saja tiba di Bambangan. Merekalah yang akhirnya menemani petualangan kami.
                Setelah repacking, sarapan, dan membereskan administrasi, kami berdelapan mulai mendaki ditemani oleh seorang porter, Pak Kamen (Nama Samaran).

Merapi dari Pos Bambangan

Problematique
                Beberapa Elang Jawa terlihat terbang, mengalihkan kekaguman kami ketika melintasi ladang perhutani yang sangat terik, kering, dan berdebu. Ya… setelah lebih dari satu jam melewati perkebunan warga sejak pukul 09.00 pagi tadi, kami mengambil break sejenak sambil bercerita tentang pengalaman mendaki kami dengan tiga orang Surabaya tadi.
                Sinar matahari memancar langsung tanpa halangan membakar kulit kami. Vegetasi pepohonan di perhutani tak begitu rapat. Bahkan, akhir-akhir ini kebakaran sering terjadi akibat kondisi yang kering dan berdebu. Sementara itu hujan sudah tak turun selama berbulan-bulan. Di depan, Pos I sudah mulai terlihat tetapi masih menyisakan satu jam lagi untuk bisa sampai di sana. Ini diperparah dengan medan yang terus menanjak sejak keluar dari area perkebunan warga tadi.
                Setelah menapaki jalan selama hampir 2 jam, kami tiba di Pos I. Di sini, kami mengambil break agak lama sambil makan jeruk dan menjemur pakaian kami yang basah oleh keringat. Shelter yang ada di pos ini cukup besar  dan cocok untuk digunakan dalam beristirahat di siang hari. Pemandangan Kota Purbalingga mulai bisa terlihat dari sini. Dari Pos I, kami berpisah dengan tiga pendaki dari Surabaya tadi.
                Pada awal perjalanan menuju Pos II, Pondok Lawang, Yoga mengalami keram. Maklum ini pendakian pertamanya. Syukur Alhamdulillah yah, dia masih bisa melanjutkan perjalanan. Selepas dari Pos I, vegetasi pepohonan mulai agak rapat karena sudah memasuki area hutan gunung. Meskipun demikian, medan pendakian tetap terasa berat karena tracknya terus menanjak. Ketidaktersediaan air membuat kami mau tak mau harus menghemat air. Alhasil, sepanjang perjalanan kami hanya melepaskan dahaga dengan makan jeruk. Lebih dari 1 jam berjalan, kami tiba juga di Pos II.
                Perjalanan yang masih panjang membuat kami harus beranjak segera dari Pondok Walang. Kondisi medan menuju pos III lebih panjang. Saya, David, dan Rudy leading di depan terpisah jauh dengan Yoga dan Bernard yang ada di belakang karena cedera. Bahkan, Kami sempat menunggu cukup lama di Pos III, Pondok Cemara. Di sini juga lah kami berdelapan akhirnya bersama lagi.
                Perjalanan berlanjut ke Pos IV, Pondok Samaranthu. Sama seperti kondisi medan sebelumnya, tak ada diskon yang menyapa kami. Kali ini perjalanan terasa lebih cepat karena tak ada 1 jam selepas dari Pondok Cemara tadi. Stok nutrisari yang setia menemani pelepas dahaga kami habis di pos ini. Keinginan untuk sampai di Pos VII sebelum petang membuat kami bergegas kembali, mengingat waktu sudah menunjukkan hampir ashar.
                Di Pos V, Samyang Rangkah, terdapat sebuah shelter, Kami break cukup lama di sini karena harus sholat. Pendaki dari Surabaya dan Pak Kamen memutuskan untuk meninggalkan kami. Pemandangan Kota Purwokerto dan Purbalingga semakin terlihat jelas dari sini. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami akhirnya sepakat memutuskan untuk mengecamp di Pos VII dan melanjutkan ke puncak keesokkan harinya. Tak ingin terlena, kami segera mengejar waktu untuk bisa sampai di Pos VII sebelum petang.
                Pos VI berada setengah jam dari pos V. Namun, kami tak berhenti dan terus melanjutkan perjalanan. Saya dan David leading di depan. Keletihan David mulai menampakkan hasil. Sepanjang perjalanan menuju Pos VII, dia sering meminta break. Saya sendiri yang tak ingin kehilangan waktu terus memaksa dan menyemangatinya untuk bergegas karena sudah hampir jam 06.00 sore. Dia meminta untuk berganti ransel. Saya menyerahkan carier saya yang lebih berat ditukar dengan daypack yang ia bawa. Tak lama setelah itu, kami tiba juga di Pos VII.
                Pemandangan di sekitar pos VII tak jauh beda dari yang ada di pos V tadi. Bedanya, kali ini tempatnya lebih tinggi. Di sini juga terdapat shelter untuk bermalam. Setelah ini masih ada Pos Pelawangan, sebelum tiba di puncak. Pos ini bernama Samyang Kendhit. Ada sebuah kesia-siaan yang dilakukan Rudy di sini. Dome yang ia bawa serasa tak berguna karena memang kami tak memerlukannya. Shelter di sini cukup tertutup untuk bisa menahan angin karena dilengkapi dengan pintu. Kami tidur di atas dipan kayu yang muat untuk 6 orang. Sedangkan Kawan kami yang berasal dari Surabaya tidur di bawah dipan kami dengan mendirikan tenda, termasuk Pak Kamen yang berada di dalamnya.
                Setelah membersihkan dan merapikan tempat untuk beristirahat, mulailah kami memasak. Sedikit hal yang kami sesali di sini adalah kecerobohan dan keborosan kami dalam menggunakan air untuk membuat mie dan minuman hangat, entah itu kopi, susu, ataupun teh. Penggunaan air untuk hal-hal tersebut baru menjadi kendala ketika pagi buta kami tersadar bahwa air yang kami miliki tinggal dua botol untuk summit attack dan perjalanan turun. Hal ini karena kami memakainya untuk menanak nasi. Belum lagi saya juga sempat membuat bandrek untuk menghangatkan badan serta antisipasi masuk angin karena malamnya saya tak bisa tidur dan berkali-kali hampir muntah.
                Rabu (7/11) Pagi pukul 04.00 kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Kali ini Yoga tak bisa melanjutkan perjalanan. Pendaki dari Surabaya sudah berangkat mendahului kami . Yoga ditemani Pak Kamen di Pos VII.
Pos VII, Samyang Kendhit. Bernard dan Pak kamen

                Hampir 1 jam  kami berjalan, tibalah kami di Pelawangan. Dari Pos VII tadi, kami memang hanya membawa daypack yang berisi makanan kecil dan minuman karena selepas Pelawangan jalan akan sangat menanjak. Seperti halnya dengan gunung vulkanik lain yang masih aktif, kondisi medan dipenuhi oleh pasir dan kerikil yang sangat licin dan berbahaya. Di sini sunrise terlihat, kami memanfaatkan momentum ini untuk mengambil gambar.
Setelah lebih dari 1 jam bergulat dengan medan yang penuh batu, pasir dan kerikil, tibalah kami di puncak Slamet, 3432m.

Foto sesaat tiba di puncak G. Slamet, 3432 mdpl

                Matahari bersinar terang di puncak. Angin di sini bertiup cukup kencang dan dingin. Awan yang mengelilingi kami seolah-olah berbentuk seperti kapas. Gunung Sindoro, Sumbing, dan Ciremai gagah berdiri di hadapan kami. Di bawah kami, letupan asap dari kawah menggoda kami untuk mengunjunginya. Saya, David dan Rudy memutuskan untuk berkunjung ke kawah setelah turun melewati bebatuan terjal dan lautan pasir. Sementara itu Bernard memutuskan untuk kembali ke Pos VII.
                Tak lama kami di kawah karena Pak Kamen yang menyusul ke puncak telah menunggu. Selepas naik dari kawah, kami memutuskan untuk kembali ke Pos VII. Sebelum turun, tak lupa kami mengabadikan kenangan di puncak ini untuk yang terakhir kali.
                Sekembalinya di Pos VII, kami memasak nasi goreng dengan nasi yang telah dibuat tadi dan bumbu racik yang telah saya siapkan. Tak lama setelah sarapan, kami packing dan memutuskan untuk turun karena air yang tersisa tinggal setengah botol dan itu untuk bekal berlima. Pak Kamen dan pendaki Surabaya telah turun mendahului kami. Rasa-rasanya tak mungkin berharap untuk mengemis air dari mereka.

           Rudy, David berada yang terdepan untuk turun, saya menguntit di belakangnya, disusul oleh Yoga dan Bernard. Sengaja kami memang mengambil gap untuk menghindari debu.

Foto bersama sebelum turun

                Perjalanan turun terasa lebih cepat karena kami berlari. Dalam perjalanan turun ke  Pos IV, Rudy mulai kewalahan karena beban berat (dome) yang dibawanya. Saya dan David memutuskan untuk meninggalkan Rudy dengan konsekuensi tak membawa air. Kami berdua turun dengan gesit bagaikan ular hingga akhirnya tiba di Pos I. Di sini saya bertemu dengan Pak Kamen dan pendaki dari Surabaya tadi. Tak tahan akibat haus, kami berdua memutuskan untuk turun lebih dulu. Kami akhirnya sampai di base camp pukul 02.00 setelah menempuh perjalanan 3 jam lebih dari pos VII tadi. Di sini kami langsung membeli air untuk melepas dahaga yang mencekik, tak lupa pula minum kuku bima biar Roso…!

Epilogue
                Setelah ditunggu hampir 1 jam, tiga teman kami belum juga turun. Sembari membersihkan tubuh yang penuh dengan debu, saya putuskan memasak sarden dan air untuk mengisi perut dan menghabiskan bekal yang masih tersisa. Sesaat kemudian, Yoga dan Bernard datang. Kami benar-benar dirundung gelisah ketika waktu menunjukkan pukul 04.00.  Rudy yang dinanti tidak kunjung turun, bermacam prasangka menggelayuti kepala kami. Gap yang lebih dari 2 jam adalah sebuah keanehan mengingat Rudy sebenarnya merupakan pendaki yang cukup gesit. Pikiranku jelas melayang jika dia mungkin dehidrasi mengingat air dibawa oleh Yoga. Mungkin juga dia jatuh terpleset, tersesat, atau diserang Negara Api.
Karena angkot yang mengantar kami dari Serayu kemarin telah datang dan siap untuk menjemput kami, David akhirnya memutuskan untuk kembali mencari. Dan dengan bekal peta yang ia pinjam dari Dora the explorer, David akhirnya menemukannya di perkebunan warga. Rudy ternyata kesleo dan berjalan lambat bagai siput dengan menggunakan tongkat.
                Yah, memang inilah mendaki gunung. Ibarat sebuah perziarahan, kita melangkahkan kaki untuk mencapai tujuan. Dari sini kita bisa merefleksikan diri bagaimana perjalanan hidup ini yang sebenarnya, ada susah, senang, terjal, berliku bahkan terjatuh.
                Oleh sopir angkutan tadi, Pak Aang (Nama samaran), kami serombongan bersama dengan pendaki Surabaya dan pendaki dari Bekasi di antarkan sampai ke Terminal Purwokerto yang berjarak hampir 3 jam karena sempat mampir dulu di stasiun. Meskipun lelah, kami sempat juga membicarakan segala hal termasuk tentang kota ini, Purbalingga-Purwokerto, disertai canda dan logat bahasa Jawa ngapak khas Banyumasan.
                Dari terminal, kami langsung menuju Jogjakarta dengan menggunakan bus patas AC. Lewat tengah malam kami tiba di Giwangan kembali setelah menempuh 3 jam perjalanan. Kami tertahan cukup lama di Giwangan untuk makan malam dan bercerita soal pendakian kali ini.
                Pukul 04.00 kami pulang ke Solo via SK. Secara kebetulan, kami bertemu lagi dengan pendaki yang berasal dari Surabaya tadi, baru diketahui bahawa nama ketiga pendaki tadi adalah Yuko, Saka dan Katara.

Rincian Perjalanan
Pergi:
-          Solo-Jogja
2 jam, 15ribu. Tarif lebaran, jalan masih macet
-          Makan siang
angkringan belakang terminal
5ribu
-          Jogja-Purwokerto
6jam, Bus Ekonomi, 40ribu.
-          Purwokerto-Bobotsari (Turun di pertigaan Serayu)
1,5 jam , 20ribu, Mikrobus
-          Makam malam
Sate kambing 2 porsi untuk 5 orang, 40ribu
-          Serayu-Bambangan
Sewa angkot 90ribu

Pulang:
-          Bambangan-Purwokerto
3 jam, Sewa angkot per orang 30ribu
-          Purwokerto-Jogja
3 jam, 50ribu, Chitra-Adi AC patas
-          Makan Malam-Pagi
10ribu, angkringan belakang terminal
-          Jogja-Solo
1jam, 8ribu, Sumber Kencono




Beberapa Foto




Beberapa koleksi Sunrise di G. Slamet yang tertangkap kamera kami




Panorama di sekitar puncak

David Gilang

Me

Tugu Puncak G. Slamet

Bernard



Panorama di sekitar kawah


Kawah G. Slamet

Samudera Pasir


Rudy Purwanto


Negeri di atas awan






Di Kaki Gunung
Setiap ku rasakan sejuknya angin
Sedang pandanganku menembus bukit dan lembah
Aku tak tahu mengapa slalu ingat kamu
Memang dulu kita sering pergi ke gunung
Banyak bukit dan lereng yang pernah kita datangi
Aku slalu menggosok jarimu bila engkau menggigil
Saat itu slalu terbayang
 meskipun kita tak bersama
Kini kembali di kaki gunung
tanpa engkau bersamaku
Selendang leher yang kau berikan
Kini menyatu di pundakku