8 Feb 2011

Kenangan (PPD)


Beberapa waktu lalu, kampus baru saja mengadakan event besar tahunan yang bernama HOE (Heritage and Organda Expo). Setelah melewati seleksi dari panitia, Kota Solo akhirnya berhasil lolos untuk mengikuti event ini meskipun hanya organda exponya saja. Maklum, heritage (acara adat ruwatan) yang kami usung tak berhasil lolos dalam seleksi yang kebanyakan diisi oleh  tarian daerah dari organda-organda lain. Sebagai konsekuensi atas diterimanya proposal kami dalam organda expo (hanya 24 organda), Solo mewakilkan PPDnya ke ajang ini. Dan aku terpilih sebagai putra daerah mewakili Solo. Walaupun ada perasaan tak berniat untuk mengikuti acara ini, toh akhirnya aku maju juga.
Pemilihan PPD kali ini berjalan agak ruwet dari tahun-tahun sebelumnya. Kami sebagai peserta harus mengikuti diklat setidaknya dalam waktu tak kurang dari dua minggu, dari mulai tanggal 14 Januari sampai pada acara puncaknya tanggal 31 Januari. Tak heran, waktu belajarku agak terganggu akibat acara ini, belum lagi kesibukan dalam menyiapkan diri sebagai calon wakil ketua Paspilo baru periode tahun ini. Pembuatan karya tulis untuk tugas besar  mata kuliah bahasa Indonesia semester ini pun turut berjalan tersendat.
TM pertama tanggal 14 Januari diisi oleh perkenalan antar peserta dan briefing dari panitia, sebagai penutup ada tugas untuk menyusun essay mengenai daerah asal  masing-masing peserta. Aku sendiri akhirnya bisa sedikit meluangkan waktu sejenak untuk menyelesaikan tugas yang dideadlinekan selama 4 hari ini. Selain tugas dia atas, kami juga diwajibkan membuat koreo. Dan inilah tugas memalukan yang pernah ku buat. Aku harus belajar tari dengan Kunthi, rekanku dari Solo. Yah..walaupun akhirnya jadi juga untuk ditampilkan pada hari H.
TM kedua kali ini diisi dengan perkenalan kembali, materi pariwisata dan tentunya mengumpulkan tugas essay. TM dibuka dengan senam pemanasan; aku sendiri datang terlambat. Kunthi apalagi, malah lebih molor lagi datangnya.
Depan Gedung P, dekat kolam air mancur menjadi saksi atas pertemuanku dengan seorang. Bukan apa, entah kenapa ada yang membuat hatiku sedikit bergetar malam itu. Seorang gadis yang juga datang terlambat dan mencari posisi di sampingku. Aku teringat dia berdiri di sebelahku sewaktu senam pemanasan. Dari kegiatan ini setidaknya aku menemukan banyak teman baru dari berbagai daerah. Tak lupa, aku terkadang juga ngobrol banyak dengan mereka, berbicara mengenai budaya dan potensi pariwisata dari daerah kami masing-masing.
Satu minggu sebelum acara puncak, hampir setiap malam kami selalu berada di lapangan A. Diskusi, catwalk, parade, debat, tanya jawab sampai dengan koreo menjadi menu latihan kami. Sesekali kami berlatih dengan vocawardhana sebagai pengiring kami di acara puncak nanti. Entah kenapa, kali ini PPD seolah menjadi prioritas  utamaku, mengesampingkan tugas akhir mata kuliah bahasa Indonesia. Di lain sisi, Ku akui tragedi di depan gedung P kemarin masih menggelayuti pikiranku. Gadis itu terlihat cantik, ada sesuatu yang membuat jiwaku bergetar. Dan tiba-tiba saja diriku tak punya keberanian untuk sekedar mengajak berkenalan dan berbincang. It’s dejavu. Purnama tanggal 25 seakan menggantikan malam tragedi HPP tepat 41 bulan lalu.
Hari minggu terakhir bulan Januari 2011 akhirnya tiba, acara puncak HOE. Dua hari belakangan, selain disibukkan oleh PPD, aku juga harus bekerja bakti dengan paspilovers untuk menyiapkan stand organda expo yang kami ikuti. Kali ini stand kami mengambil tema Pasar Gede Solo , di situ kami menjual berbagai kuliner (seperti pecel ndeso, plencing, selat, beras kencur, es dawet ayu, dan sate kere) yang menjadi salah satu alat untuk menarik pengunjung untuk datang dan membeli apa saja yang ada di stand kami.
Pukul 8 pagi para peserta PPD diwajibkan kumpul. Dengan memakai beskap yang tak sesuai dengan harapan akhirnya aku datang, meski sebelumnya harus sedikit dipermak di salon. Penampilanku terlihat paling sederhana jika dibandingkan dengan peserta lain. Gadis itu sendiri terlihat sangat cantik hari itu dengan pakain adat daerahnya.
Malamnya, ada deklarasi budaya yang kami ikrarkan beserta perwakilan dari Depbudpar, sebelum akhirnya ditutup oleh penampilan dari penari internasional, Didi Nini Towok. Di backstage kami sempat foto-foto bersama dengan seniman serba bisa ini. Sewaktu menyaksikan humor segar yang dibawakan Om Didi, ternyata gadis itu turut menyaksikan duduk dekat dibelakangku, sedikit sekali aku berbincang dengannya. Tak ada, hanya percakapan angin. Dan semua berlalu begitu saja sewaktu pertunjukkan usai. Ada sesuatu yang membuat lidahku kaku.
Aku masih mencari kata untuk memahami apa yang kurasa. Entah apa pun itu namanya. Ini seperti penyesalan yang sama pernah ku rasakan sewaktu HPP tiga tahun lebih yang lalu. Ku akui, gadis itu seperti halnya Reta dalam tragedi HPP. Dan entah kenapa hal itu masih membayang dalam pikiranku hingga kini dengan segala realita yang menyudutkanku. Seolah perasaan yang sama hadir kembali. Terkadang aku hanya berfikir, ini bukanlah cinta.  Namun, aku juga tak berfikir tentang hal lain. Bukankah cinta dengan akal sehat hanya bisa tumbuh ketika kita dekat dan mengenal obyeknya secara lebih dekat?



Di tengah perjalanan pulang malam itu, aku membisikkan nama gadis itu pada angin malam.

**

3 Feb 2011

Bertualang ke Pulau Sempu



Liburan Natal kemarin,  proyek petualangan ke Pulau Sempu yang sudah ku rencanakan sejak lulus SMA setahun lebih lalu akhirnya terwujud. Meskipun ini merupakan proyek pribadi, aku mencoba untuk mengajak beberapa teman.

Selepas  UTS kemarin, kampus libur dua minggu untuk menyambut Natal dan Tahun Baru . Tak ada salahnya liburan kali ini ku gunakan untuk menyandarkan sejenak pikiran dengan kembali menikmati keindahan alam.

Pada mulanya aku hanya akan  berangkat dengan Riris. Karena takut terkesan “maho”, maka jadilah aku menghubungi beberapa kawan sehari sebelum hari keberangkatan ke Malang. Orang-orang inilah yang akhirnya menjadi korban: Aryo, sang petualang amatir.  Panjul, sang petualang tak bermodal. Tatang (nama sebenarnya adalah Cholik tapi gak tau kok bisa dipanggil Tatang). Selain ketiga nama tersebut, tentunya tak ketinggalan ada Riris, dan temannya, Rohman. Sebenarnya banyak teman yang coba ku ajak tapi (mungkin) karena acaranya yang terkesan serba mendadak, ya jadilah cuma mereka yang bisa ikut.

Jumat (2412’10) pukul 14.30, kami bertiga (Aku, Aryo, dan Panjul) berangkat menuju Surabaya via Sumber Kencono (30ewu @orang).  Walaupun sangat sangar karena terkenal dengan kecepatannya, bus ini harus mogok di Nganjuk. Kami akhirnya dioper ke bus SK yang lain.

Lama perjalanan dari Solo ke SBY diluar perkiraan kami. Pukul Setengah 11 , kami baru tiba di Terminal Bungurasih.  Dari terminal ini, kami  berganti bus menuju ke Malang (8ewu @orang). Tengah Malam, kami sampai di Arjosari. Malamnya kami menginap di kosan Rohman. Paginya, Tatang yang berangkat dari Surabaya ikut menyusul ke sini.

Setelah sarapan dengan oges lecep yang rasanya nayamul, kami berenam berangkat ke Sendang Biru dengan motor pinjaman anak Prodip 1 BC Malang. Perjalanan untuk sampai di pantai ini dari Arjosari memerlukan waktu 2jam lebih dikit.

Gerimis di siang bolong menyambut kedatangan kami di Sendang Biru. Pantai ini cukup ramai oleh pengunjung yang sedang menikmati musim liburan kali ini. Sebagai sebuah pantai, bisa dibilang pantai ini tidak terlalu bersih dan tak ada yang menarik kecuali terdapat tempat pelelangan ikan di mana pengunjung bisa membeli ikan dengan harga yang relative murah. Di pelalangan ini, aku dan Tatank sempat membeli dua ikan tuna untuk kami bawa ke Pulau Sempu. Sementara itu, Riris dan Rohman sedang mengadakan perundingan dengan Perhutani terkait izin untuk berkemah di Sempu. Sayangnya, perundingan ini gagal. Kesangaran Riris seolah sirna tak bersisa ketika menghadapi pasukan polisi hutan. Awalnya, kami memang ditolak untuk berkemah di Sempu sampai pada akhirnya ada beberapa kawan dari Bojonegoro yang membantu perijinan jadi lebih licin meskipun dompet kami harus terkuras ke kantong polisi hutan itu.

Dengan menyewa perahu bertarif 100ewu (termasuk PP) per gerombolan (kami tergabung dengan kawan-kawan Bojonegoro), akhirnya kami pergi meninggalkan Pulau Jawa.
Kapal penyeberangan

Setelah mendarat di Pulau Sempu pemandangan hutan bakau yang masih liar dan penuh dengan lumpur menyambut kami. Laguna segara anakan yang dibilang sangat indah itu ternyata masih ada di seberang pulau. Perjalanan ke sana dari pendaratan perahu tadi ternyata memerlukan waktu sekitar 2jam (itu kalau cepet). Di sinilah aku merasa tertipu oleh internet. Jalan untuk menuju ke laguna yang ku bayangkan pada awalnya seperti jalan setapak di gunung-gunung yang pernah kami daki. Tak dinyana, jalan setapak di sini dipenuhi oleh lumpur yang cukup dalam dan licin. Baru sebentar berjalan, kami harus menanggalkan sandal kami di sebuah tempat persembunyian.

Lama berjalan, sesekali letih mencoba menghentikan langkah kami.  Semangat dan Perjuangan untuk bisa melihat keindahan sang maha kuasa itulah yang akhirnya bisa menghantar kami sampai di Segara Anakan. Setelah sampai di sana, kami segera berfoto-foto dengan sisa-sisa lumpur di sekujur tubuh dan pakaian kami sebagai tanda perjuangan. Aku sendiri segera mencuci diri dengan air yang ada di laguna. Baru ku tahu, kakiku robek cukup lebar dan dalam akibat menginjak karang di perjalanan tadi. Namun, semua terbayar tuntas, inilah pantai terindah yang pernah ku kunjungi. Air yang begitu hijau dan pasir yang begitu bersih.
Sesaat setelah tiba di Segara Anakan


Sore sebelum gelap, kami mendirikan tenda dan berganti pakaian. Malamnya kami mulai memasak nasi dan ikan yang tadi dibeli. Apes, hujan tiba-tiba mengguyur deras. Tenda kami tak sanggup mengcover kami dari air hujan. Tak ada yang tak basah. Aku sendiri harus tidur telanjang pada malam harinya, hanya bersandangkan kampes dan sarung. Makanan yang tadi dimasak akhirnya hanya dinikmati beberapa orang saja. Aku sendiri tak sudi untuk mencicipinya. Ketidakbersahabatan alam berlanjut.  Pukul 9 malam, air laut mulai pasang. Tenda kami ikut tergerus ombak yang kian dekat menepi. Terpaksa tendanya kami pindah ke tempat yang agak tinggi. Pagi dinihari, rintik hujan kembali turun dan sempat mengganggu tidur malam kami yang tak cukup nyenyak karena memang semua serba basah. Riris dan Panjul tidur di luar, sedang yang lain tidur di tenda yang berbau campuran aroma tubuh kami. Di sini juga banyak hewan sejenis undur-undur yang membuat kami risih karena menggerayangi tubuh kami.

Paginya, aku dan Rohman bangun lebih awal. Air mulai surut dan kami berdua mencari sudut tempat untuk mengambil gambar.  Setelah usai berjalan-jalan menyusuri laguna agak ke tengah, kami kembali ke tenda untuk membangunkan kawan-kawan kami. 
Menikmati kebersamaan di pagi hari


Ketika hari mulai beranjak cerah kami mulai memasak untuk sarapan. Beras yang sudah habis dimasak tadi malam terpaksa membuat kami untuk memutuskan masak mie saja dengan beberapa kornet dan sarden. Secangkir teh dan kopi di minggu pagi itu sungguh membuat seolah kami terjaga dalam sebuah hangatnya kebersamaan. Tak lupa rokok juga turut serta menyegarkan pikiran kami. Sesudah makan, kami segera packing. Sebelum kami meninggalkan Segara anakan, kami naik ke sebuah tebing yang mengelilingi laguna ini. Di sana terlihat ganasnya ombak biru laut selatan, di lain sisi segara anakan adalah sebuah  keindahan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Menjelang pukul 10pagi, kami  berfoto-foto untuk yang terakhir kali di tempat ini.  Dan akhirnya, jalanan yang begitu berat kembali harus dilalui untuk sampai di dermaga kapal yang akan menjemput kami.
Foto terakhir sebelum kembali dengan rombongan Bojonegoro


Sekembalinya dari Segara anakan menuju Arjosari, hujan sempat membuat kami terhenti beberapa kali. Salah satunya menuntun kami untuk menikmati makan siang di sebuah warung yang menjajakan tahu telor, makanan khas Ngalam.

Pada malam harinya, aku berkeliling kota di mana ayahku dulu pernah menjadi mahasiswa di sini. Menikmati malam di Kota Malang sungguh peristiwa yang tak terlupakan, meski kota ini besar, tata kotanya sungguh rapi. Malam hari, aku dan Riris berkeliling dengan sepeda Vixion barunya di jalanan kota ini, mencari nasi goreng yang pada akhirnya tak ketemu. Final pertama Piala AFF antara Indonesia-Malaysia menjadi terlewatkan.

Malam pukul 10 kami bertiga (Aku, Aryo, dan Panjul) meninggalkan Arjosari untuk kembali ke Bungurasih. Tatang sudah kembali ke Surabaya waktu sorenya. Bus yang kami naiki kali ini sungguh tak manusiawi. Mungkin karena ini bus malam yang terakhir membawa penumpang dari Malang ke Surabaya, jadilah bus ini penuh sesak. Kami sendiri harus terus berdiri sepanjang perjalanan.

Setibanya di Bungurasih, kami berganti bus SK lagi (kali ini yang ber AC boz, haha) yang akhirnya membawa kami kembali ke Kota Bengawan. Perjalanan Surabaya-Solo waktu malam ternyata tak memakan waktu lebih dari 4,5 jam.

Tips dan Trik Ke Sempu
1.       Bawa teman yang banyak, biar biaya bisa makin ditekan.
2.       Berpandai-pandailah meloby dengan petugas yang ada di sana. Masalah yang kami hadapi adalah sewaktu melobi, teman berdua kami tersebut tak punya kemampuan bernegoisasi.
3.       Bawa air yang banyak, di sana tak ada air tawar. Ada sumber air tawar di segoro lele, tapi letaknya jauh dari Segara Anakan.
4.       Bawa Sepatu boat. Trust me, it works!
5.       Jangan lupa rokok, kartu poker, dan snack ringan.
6.       Peralatan camping yang memadai (ojo modal awak sehat thok!)
7.       Menjaga sikap, perkataan, dan perbuatan
8.       Kamera, wajib!
9.       Jaga keindahan dan kelestarian lingkungan. Meskipun hanya penikmat alam, tetap lah selalu berpijak pada pedoman “take nothing but pictures, leave nothing but footprints, kill nothing but time”.

Sang Petualang, Tatank, panjul, Riris, Rohman, Aziz, Aryo

Sang Petualang
Laut biru begitu lapang
dan gelombang menghalau bosan
Petualang bergerak tenang,
melihat diri untuk pergi lagi

Ya sejenak, hanya sejenak
Dia membelai semua luka
Yang sekejap, hanya sekejap
Dia merintih pada samudra

Sebebas camar kau berteriak
Setabah nelayan menembus badai
Seikhlas karang menunggu ombak
Seperti lautan engkau bersikap

Petualang merasa sunyi,
Sendiri di hitam hari
Petualang jatuh terkapar,
Namun semangatnya masih berkobar
Petualang merasa sepi, merasa sunyi
Sendiri di kelam hari
Petualang jatuh terkulai,
Namun semangatnya bagai matahari

December, 2010

23 Nov 2010

Cerita di Balik Kabut


menyusur kembali jejak masa lalu. batin terhanyut oleh keramahanmu. dalam balut sejuk dan indahmu. masih membayang di benakku. kau tawarkan coklat dengan lugu. dan kemanisan senyummu berpadu. mengalun bersama angin gunung yang turun. menyejukkan irama saat itu. 
aku tak berbicara tentang cinta,,karena itu hanya berbuah luka
terlepas dari itu, ku harap kau masih menyimpan. asa dalam jalan setapak, kebisuan riak lakuku. gemercik bening sungai yang mengacakan letih kita.
aku tak berbicara tentang cinta, karena kita belum saling kenal. dibalik bukit itu, semua terukir. lekat terbayang dalam ingatan. meski tak kan pernah terulang. 

sekali lagi aku tak berbicara tentang cinta, bukankah kau sudah bosan membicarakannya?

Agustus, 09

17 Nov 2010

kegalauan


Beberapa hari yang lalu, Cendy (temanku yang sekarang kuliah di FH UI) bercerita kepadaku soal asmara yang kini melandanya. Dia mengakui jika gadis yang satu ini memang berbeda dari teman-teman wanitanya selama ini. Bila boleh ku katakan, mungkin dia sedang jatuh hati pada gadis tersebut. Gadis itu adalah mahasiswa FIB. Hal itu yang membuatku berfikir, bagaimana bisa Cendy yang selama ini ku kenal sebagai orang yang apatis tiba-tiba malam kemarin bercerita tentang hal itu.

Masalahnya mungkin bukan hal itu saja. Dia dihadapkan pada sebuah konsekuensi dari pandangan logisnya untuk tidak pacaran. Menurutnya, pacaran merupakan hal yang tidak rasional. Meski begitu , ia tetap mengakui jika yang ia alami sekarang membawanya pada sebuah posisi yang  sulit. Terang saja ia lantas berharap semua bakal menjadi angin, yang datang lalu pergi.

Memikirkan hal itu, aku serasa menj
adi melankolis dan membayangkan sesosok gadis yang selama ini turut menyumbangkan rasa pada hatiku. Secara terus terang ingin ku katakan bahwa gadis tadi sudah merupakan racun bagi diriku yang mengendap dalam tubuh selama hampir tiga tahun belakangan ini. Parahnya aku bukanlah orang yang mudah menanggalkan perasan-perasaan lama. Sudah lama ku akui jika aku tertarik pada paras manisnya, dan itu seolah menjadi getir yang ku kecap sendiri ketika sepi melanda dan membuatku bertanya-tanya pada Tuhan.

Sering aku berharap semua itu menj
adi angin lalu saja, sama seperti kisah-kisah yang telah terlalui sebelumnya. Namun, aku mungkin sama dengan Cendy, terasa disudutkan oleh sebuah kenyataan. Bedanya aku bertahan dalam lingkaran ini lebih lama. Lebih tepatnya aku galau pada hatiku mengenai hal ini apabila harus dihadapkan pada kenyatan-kenyataan yang ada saat ini. Aku sadar, mengutuki takdir tak akan membuat semua masalah menjadi selesai. Di lain sisi, perasaan ini tak ubahnya seperti sekam. Menyala di tengah keterpadaaman.

Bagiku, dia adalah sebuah cinta yang berlalu tanpa pesan. Apalagi kalau bukan segunung perbedaan yang membentang antara aku dengan dia. Tak ada kata yang terlintas untuk mengungkapkan, atau memang tak ada kesempatan. Entahlah. Semua berlalu seperti angin, tapi sialnya angin itu berputar di sekitarku. Kalaupun berhembus ke tempat lain, bayangannya tak terbawa. Perasaan seperti ini yang terkadang membuatku ingin berpaling dari kenyataan yang terasa semakin menyudutkanku.

Hanya rindu yang kini kerap menyandang ketika malam datang. Perjumpaan seolah menjadi sesuatu yang muskil untuk saat ini. Dan rasa itu kini terakumulasi di dalam mimpi. Memang hanya di dalam mimpi, terkadang semua terasa indah.

Apalagi memang yang harus ku perjuangkan di atas perasaan yang bernama cinta. Kecuali aku memang hanya bisa menyerahkannya pada takdir. Sementara waktu berjalan dan membuatku menjadi semakin tahu pasti. Ia tak kan mungkin bisa ku miliki.


13 Nov 2010

Pendaki Gunung Gede



Beberapa waktu lalu, selepas dari Merbabu, aku sempat berkeinginan untuk pensiun dari kegiatan mendaki Gunung. Alasanku untuk tak lagi mendaki adalah peristiwa yang aku alami di merbabu kemarin. Namun, beberapa bulan setelah itu, rasa-rasanya aku harus menelan kembali kata-kataku.
Kegiatan awal perkuliahanku semester ini praktis tak ada kesibukan. Setiap akhir pekan aku jadi mahasiswa pengangguran. Parahnya lagi, ini terjadi selama tiga hari berturut-turut dari Sabtu-Senin. Sewaktu ada acara pendakian umum yang diadakan oleh STAPALA awal bulan lalu, aku akhirnya memutuskan untuk ikut. Hal yang membuatku tertarik untuk ikut dalam msii ini adalah karena gunung yang akan kami daki adalah G. Gede, sebuah gunung yang beberapa tahun lalu sempat terfikir olehku untuk ku daki. Aku sendiri belum sekalipun pernah mendaki gunung ini. Tanggal 5-7 November kemarin aku berangkat ke sana.
Hari Pertama
Malam sabtu pukul 9 malam, kami serombongan dengan menggunakan dua truck TNI berangkat dari kampus. Jalur pendakian yang kami ambil adalah melalui G. Putri. Selama lebih dari 3 jam kami dikopyok di dalam truck karena jalan yang bergeronjal sewaktu mendekati tujuan. Maklum, di dalam satu truck berisi lebih dari 45 peserta! Lepas tengah malam, kami akhirnya sampai di tempat tujuan untuk selanjutnya mendirikan tenda dan mulai mendaki keesokan harinya.

Hari Kedua
Pukul 8 pagi, kami bersebelas akhirnya bertolak dari G. Putri untuk selanjutnya mendaki ke puncak. Tergabung dalam kelompok 2 yang mayoritas beranggotakan pendaki berpengalaman, kami langsung melesat menyusul kelompok 1.
Kelompok 2

Medan di awal pendakian menuju puncak G. Gede melalui jalur G. Putri awalnya melalui ladang penduduk. Selepas berjalan selama satu jam, kami memasuki pintu gerbang Taman Nasional Gede Pangrango. Awalnya Kombinasi jalannya adalah berbatu dan bertanah tetapi tak begitu berat. Setelah tiga jam berjalan, kami dihadapkan pada track yang begitu menanjak dan menguras banyak tenaga. Di sini kami sering break, apalagi kabutnya begitu tebal karena hujan turun. Di perjalanan kami juga sempat bertemu dengan banyak pendaki lain. Tak lupa kami juga mengabadikan beberapa sepenggal dari perjalanan kami dalam foto.
Di perjalanan, Sancong menjadi guide kami


Lelah selama berjalan tak kurang dari lima jam, akhirnya semua terbayar setelah sampai di Surya Kencana, sebuah padang edelweiss seluas lebih dari  50 hektar. Di sini kami foto-foto sebentar kemudian mendirikan tenda. Di tepi tenda kami ada sebuah sungai kecil yang bersih dan arusnya kuat. Kami sering mengambil air dari sungai ini untuk berbagai keperluan. Sayangnya, cuaca di sini sering tak tentu dan cenderung tak bersahabat karena hujan acap kali sering turun.
Hujan di jalan setapak Surya Kencana

Malamnya kami memasak segala apa yang kami bawa, sarden, kornet, mie, nasi, susujahe dll. Memang makanan apa saja terasa nikmat bila dimakan di Gunung. Persahabatan memang acap terjalin di dalam hangatnya tenda, begitulah suasana kami malam itu dengan diselingi canda tawa dan berbagai cerita dari masing-masing dari kami.
Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda

Hari ketiga
Pagi buta pukul 3, kelompok kami berencana untuk memuncak dan mendapatkan sunrise tetapi tak diperbolehkan oleh panitia karena kelompok lain masih terlelap dan panitia menginginan untuk berangkat bersama-sama saja. Kami kecewa, karena tak dapat sunrise dan akhirnya terpaksa mencari spot di sekitar Surya Kencana untuk beraL4y ria. Selepas berfoto-foto, kami kembali ke tenda dan sarapan pagi bersama.  Pukul 9 pagi kami bertolak ke puncak. Dari Surya Kencana, puncak dapat ditempuh selama kurang dari satu jam dengan medan yang sedikit agak nge-track.
Di puncak Gede
Sesampainya di puncak kami kembali berfoto-foto dengan berbagai gaya. Sayangnya kabut menutupi pemandangan di sekitar. Beberapa waktu kemudian gerimis turun dan membuat kami terpaksa untuk turun. Dua jam di puncak cukup membuatku kembali merasakan nafas alam. Di situ ada angin yang begitu sejuk terasa, pemandangan awan luas terbentang dipadu dengan kawah dari G. Gede yang masih aktif.
Kawah Gede yang masih aktif dan mengeluarkan asap belerang


Di perjalanan turun, kami sempat digoda oleh hujan yang sesekali turun lalu berhenti lalu turun lagi. Kami sempat terpisah satu sama lain. Walaupun begitu, akhirnya kami bertemu lagi di Kandang badak. Di perjalanan turun inilah ada sesuatu yang membuatku berdecak kagum dan membuat rasa lelahku dalam berjalan seolah terentaskan. Pertama adalah saat menyeberangi sungai yang airnya panas karena mengandung belerang. Kedua, kami sering menemui sungai lainnya yang membentuk air terjun. Ketiga, kami berhenti di air terjun Cibereum, untuk break dan berfoto-foto serta tak lupa melakukan ibadah. Di sini terdapat tiga air terjun dengan ketinggian lebih dari 50 meter dan masih terlihat bersih. Ada juga ganggang/semacam lumut merah yang endemic di sini. Dan kekaguman terakhir kami adalah melihat telaga biru (berwarna biru karena dipenuhi oleh ganggang biru) yang berada di dekat gerbang pendakian Cibodas. Total waktu turun adalah 6 jam.
Air terjun Cibeureum


Selepas Maghrib kami memutuskan untuk mencari makan di area perkampungan warga di sekitar basecamp dan berburu pernak-pernik mengenai TNGP (Taman Nasional Gede Pangrango).
Pukul 9 malam, kami meninggalkan Cibodas dan tiba di kampus kembali waktu tengah malam. It’s unforgettable memories!!!


Yang ikut dalam misi ini: Aziz, Yores, Apim, Gawon, Ali, Yoga, Sancong, Abu dkk.
November, 2010