13 Feb 2010

Terasing



Bagai ombak yang terdampar di pantai kehidupan. Terkirimlah aku  dalam keterasingan. Sementara gelombang pecah di tepian karang. Nada-nada kehidupan masih terdengar sumbang. Sekian waktu aku termangu. Melamutkan segala rindu pada masa lalu. Bayang-bayang yang ku kenal terasa makin jauh. Hingga ku sadari,  diri ini sendiri.

Agustus, 2009,

5 Feb 2010

Boeat Repoeblik Napsu

Entah masih berapakah hari tersisa yang masih bisa kita lewati. Malam ini ku coba untuk tak kutitihkan air mata, mengenang perjalanan waktu yang semakin berlalu. Kebersamaan itu telah bermuara ke dalam telaga jiwa, berpadu dalam kenangan dan harapan hidup menuju ke depan.

Dulu kita hampir selalu bersama mewarnai hari bercerita tentang idealisme dalam kehidupan yang semakin membiru. Hanya berharap, semoga semua akan tetap abadi dalam diri kita masing-masing. Rasanya kita memang tak punya banyak prasasti, kecuali apa-apa yang masih kita simpan di hati untuk saat ini dan nanti.

Tak terasa sebuah masa begitu cepat terarungi, dan kita semua telah menyelesaikan ini. Kehidupan selanjutnya telah menanti di depan. Kawan-kawan baru akan segera datang. Dan agaknya kita akan sedikit lupa akan masa lalu.


 (27 Juni 2009)

8 Nov 2009

Ujung Perjalanan



Tiba kita pada ujung sebuah perjalanan

Kehidupan berawal tanpa rencana
kita hanya bisa menyusuri sampai tepi
Dan
pulang kembali dalam ketiadaan yang sepi

Ada kalanya tanpa sadar
jiwa kita terengut
terjerumus dalam bayang-bayang kesemuan
sampai jiwa kita begitu rapuh

Sesalkan apa yang harus disesalkan
Namun semua terlanjur terjadi
Dan kita telah sampai di ujung perjalanan ini
Bersandar pada senja yang akan segera beranjak petang
dan membiarkan lewat begitu saja,
Waktu-waktu yang
datang dan pergi tanpa pernah mengucap salam

Takdir yang akan menjawab segala tanya dalam kehidupan
Apakah kita akan mengubah apa yang telah digariskan
Atau hanya bisa pasrah pada nasib dan keadaan,   

Tiba kita pada akhir sebuah perjalanan
terkadang semua harapan tak akan jadi kenyataan


Jogja, September 2009

7 Nov 2009

The Meaning of .T!


Istilah ini sebenarnya muncul sekitar 2 tahun yang lalu, kiranya waktu awal tahun 2008. Pertama kali dicetuskan oleh Riris, kemudian laksana jamur di musim penghujan para pengikut setia monster babi (Riris Fans Communty) seperti Pongo, Basuki, Ahim, TPP, bahkan sekarang Segawon terlihat kerap menggunakannya dalam kosakata bahasa tulis. Disinyalir, kata ini diperoleh Riris dari teman-temannya (Anak-anak SMA 5, STM Manahan dll. Seperti Istanto, Panji cs).

gw sendiri pada mulanya tidak tau maksud dari istilah ini, bahkan saking “enggak tahunya”, gw dulu sering menggunakannya pada orang-orang baik dan orang-orang sekitar yang gw cintai. Baru kemudian selang beberapa bulan (cukup lama) pada akhirnya gw tau maksudnya setelah Pongo memberi tau artinya.

Dan tahukah kalian maksud dari .T! itu? .T! adalah Lonthe (pelacur). Istilah ini dipakai sebagai ungkapan emosi kepada orang yang diajak komunikasi karena beberapa hal yang membuat salah satu pihak dikesalkan. Meski bahasanya kasar dan cenderung tak sopan, tetapi karena katanya tercover dengan bagus, istilah ini menjadi sebuah kelucuan tersendiri sekaligus melambangkankan suatu symbol tersendiri bagi Fans setia Mr. Riris (monster naga berkepala babi).

Sebuah karya kreativ anak bangsa, yang tidak patut dicontoh.ckck

9 Nov 2008

Grey

Gerimis membawaku datang padamu,
Sementara diri masih diliputi ragu oleh masa lalu
Seketika kau hadir
membawa diri dalam lamunan

Dalam diam rasa itu menyelinap membawaku pada ketakutan,
untukku mengungkap dan mengatakan

Terkadang aku ingin menanggalkan saja semua ini,
pada setiap kabut dan embun yang menetes
dari daun dan ranting edelweis




Terlalu cepat semua berlalu
semua terbuka tanpa kau pahami.
Mungkin hanya terbesit satu kata maaf yang terucap
bila aku memendam perasaan kepadamu

Aku menyepi dalam kegalauan
memeluk erat-erat mimpi yang makin sirna
Sedang aku masih bergeming tentang cinta dan keindahan
yang tak mereka mengerti

Mencoba memutar waktu,
merindu kembali dirimu
yang dulu pernah dekat dan hangat kepadaku.

Mengingat kembali langkah-langkah kita kala itu
ketika bersama menyusuri jalan setapak
yang membawa kita menggapai Hargodumilah.

Mengenang kembali kicau burung pagi itu,
saat mentari terbit menghangatkan raga kita yang beku

Pada setiap waktu,
terkadang aku terngiang yang terjadi hari itu
Meski semua tak pernah sama ketika aku kembali ke sana karena rindu