notes: Penggusuran dan penutupan lokalisasi Dolly di Surabaya kemarin membuatku teringat akan puisi dari Willy, si Anjing liar dari Jogjakarta.
Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
Telah diganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu
Sesalkan mana yang mesti kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban
Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kaurela dibikin korban
Sarinah
Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu
Dan kau Dasima
Khabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai disampingmu
Ototnya keburu tak berdaya
Politisi dan pegawai tinggi
Adalah caluk yang rapi
Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bisa bilang ‘tidak’
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna
Para kepala jawatan
Akan membuka kesempatan
Kalau kau membuka kesempatan
Kalau kau membuka paha
Sedang diluar pemerintahan
Perusahaan-perusahaan macet
Lapangan kerja tak ada
Revolusi para pemimpin
Adalah revolusi dewa-dewa
Mereka berjuang untuk syurga
Dan tidak untuk bumi
Revolusi dewa-dewa
Tak pernah menghasilkan
Lebih banyak lapangan kerja
Bagi rakyatnya
Kalian adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan
Namun
Sesalkan mana yang kau kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kau rela dibikin korban
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Berhentilah tersipu-sipu
Ketika kubaca di koran
Bagaimana badut-badut mengganyang kalian
Menuduh kalian sumber bencana negara
Aku jadi murka
Kalian adalah temanku
Ini tak bisa dibiarkan
Astaga
Mulut-mulut badut
Mulut-mulut yang latah bahkan seks mereka politikkan
Saudari-saudariku
Membubarkan kalian
Tidak semudah membubarkan partai politik
Mereka harus beri kalian kerja
Mereka harus pulihkan darjat kalian
Mereka harus ikut memikul kesalahan
Saudari-saudariku. Bersatulah
Ambillah galah
Kibarkan kutang-kutangmu dihujungnya
Araklah keliling kota
Sebagai panji yang telah mereka nodai
Kinilah giliranmu menuntut
Katakanlah kepada mereka
Menganjurkan mengganyang pelacuran
Tanpa menganjurkan
Mengahwini para bekas pelacur
Adalah omong kosong
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Saudari-saudariku
Jangan melulur keder pada lelaki
Dengan mudah
Kalian bisa telanjangi kaum palsu
Naikkan tarifmu dua kali
Dan mereka akan klabakan
Mogoklah satu bulan
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina
Dengan isteri saudaranya.
20 Jun 2014
6 Mar 2014
Pengakuan
rasanya baru
seperti kemarin kau memasuki masa remaja. waktu menuntun kau beranjak dewasa. masa remaja yang penuh
warna telah terlalui sebagai satu
fase yang mengantarkan kau pada detik ini.
satu hal yang masih sama, aku masih menyimpan rasa yang sama kepadamu. kemanisan yang terpahat dalam parasmu tlah menggoda sukmaku tenggelam dalam manisnya
euphoria bernama cinta. walau
hanya terbayang dan tak pernah nyata untuk ku rengkuh. mungkin inilah salah satu nikmatnya sebuah lamunan.
merenungi nasib-nasib yang berlalu, seolah waktu
mengingatkanku kembali padamu. hatimu
memang telah jauh
tertambat di sana, terkurung dalam keyakinan yang berbeda. kehadiranmu
dalam hidupku bukanlah suatu yang patut dipertanyakan. kita hanya mengikuti titah Tuhan. Meski aku sendiri terkadang
tak bisa percaya. satu
hal yang pasti, hidupku
dan hidupmu adalah suatu keseimbangan.
Bandung, Nov 2009
5 Mar 2014
Bioskop
Apa yang terlintas ketika pertama
kali mendengarkan nama “bioskop”? Tentu saja adalah film release terbaru. Bagi
yang hobi nonton, film ini pasti akan sayang sekali untuk dilewatkan kalau
tidak nonton di bioskop. Apalagi kalau film tersebut merupakan jenis box
office, dibintangi aktor terkenal dan tentu saja kehadirannya ditunggu banyak
pecinta film.
Aku
selalu ingat film yang pertama kali
kutonton di bioskop. Spiderman 3. Grand Cinema 21 di Solo Grand Mall adalah
saksinya. Saat itu terjadi pada tanggal 24 April 2007. Aku tak sendirian waktu
itu dalam menonton. Ada beberapa kawan kos yang menemani. Maklum, aku hampir
selalu sendiri setiap kali ke bioskop. Lebih tepatnya mungkin karena aku tak
punya gebetan cewek untuk diajak nonton.
Hobi
menonton film sudah aku geluti sejak usia 8 tahun. Waktu itu, Andi dan beberapa
tetanggaku sering menyewa film untuk ditonton dengan menggunakan VCD player
punyaku. Kebiasaan dalam menyewa dan menonton film ini masih kulakukan sampai
sekarang. Hanya saja, aku baru sempat
pertama kali ke bioskop di usia 16. Ada beberapa hal mengapa aku lebih senang
menyebut diriku telat dalam mengenal bioskop. Salah satunya karena di kotaku,
Sukoharjo Makmur, tak ada gedung bioskop. Sebenarnya, kotaku punya gedung
bioskop tapi sudah tutup karena tak laku. Menurut beberapa warga yang dulu
sering nonton, fasilitas gedung bisokop ini jauh dari kata memadai. Apalagi
film yang diputar bukanlah film new release. Selain itu, entah kenapa aku
menganggap bioskop adalah tempat yang tabu sehingga urung untuk menyaksikan
film di dalamnya.
Bagiku,
bioskop sudah menjadi banyak saksi dari beberapa kenangan dan latar belakang
kenapa aku memutuskan untuk menonton. Ini bukan saja tentang film new release.
Bioskop sudah menjadi tempat pelarianku ketika problematika hidup datang
melanda. Dari kejadian itu, aku memutuskan untuk menonton sendiri. Kehangatan
melewatkan waktu bersama kawan-kawan juga menjadi peristiwa penting yang tak
lepas dari bioskop.
Berikut
ini adalah beberapa film yang masih kuingat dan kutonton dari pertama kali aku
ke bioskop sampai sekarang. Ada beberapa notes mengenai film-film tersebut.
1. Spiderman 3 (2007)
Ini film pertama yang kutonton di
bioskop. Waktu itu aku menonton bareng kawan-kawan kos semasa SMA. Aku selalu hampir teringat film ini karena
jam tayangnya paling akhir di hari itu dan memaksaku pulang larut tengah malam
ke rumah.
@solo grand
2. Laskar Pelangi (2008)
Film domestik pertama yang kutonton
karena ajakan yang sangat memaksa dari kawan-kawan IPA 1. Film yang diadaptasi
dari novel best seller dengan judul yang sama ini saat itu bisa dibilang film terlaris
saat minggu pertama release. Jangan heran, waktu itu aku bahkan sampai dapat
seat nomer terdepan. Pulang dari bioskop mataku juling.
@solo grand
3. Terminator Salvation (2008)
Aku hampir lupa mengenai catatan
film ini kecuali adegan tembak-tembakan yang memenuhi di hampir sepanjang waktu
pemutaran. Saat itu aku menonton dengan kawan-kawan kos SMA.
@solo grand
4. Knowing (2008)
Alasan kenapa menonton film ini saat
itu lebih disebabkan karena ada nama besar Nicholas Cage. Bukan rahasia jika
dia adalah aktor kesukaanku. Film ini tak berjarak jauh dari Terminator. Aku
juga menontonnya dengan kawan-kawan kos SMA.
@solo grand
5. Quatum of Solace (2008)
Ide menonton film ini sebenarnya tak
terencana. Saat itu aku coba berkunjung ke Grand Cinema 21 untuk melihat film
apa yang bagus. Tak disangka, saat itu hari pertama Film ke 22 James Bond ini
release. Seketika Aku mengajak beberapa kawan kos SMA untuk menonton film ini.
Salah satunya adalah Alwan. Aku tak tahun sense film yang ada di jiwa kawanku
satu ini seperti apa. Aku heran karena dia bisa tertidur di tengah film yang
jelas full action seperti ini. Satu hal yang masih terkenang dari menonton film
ini waktu itu adalah tragedy di mana aku membawa martabak ukuran jumbo dari
luar untuk kami makan ke dalam bioskop. Untungs aja tak ketahuan sama security.
@solo grand
6. F inal Destination 4 (2009)
Ini satu-satunya film yang kutonton
di bioskop pada tahun 2009. Ini juga satu-satunya film yang kutonton berdua
dengan cewek. Hanya berdua.
@xxi jogja
7. Avatar (2010)
Sampai sekarang, film ini masih
menyandang status sebagai film dengan pendapatan tertinggi di sepanjang sejarah
dunia perfilman. Mega karya James Cameroon ini memang layak untuk ditonton.
Jalan cerita dan tentu saja animasi gambar di dalamnya memag pantas untuk
mendapatkan Oscar. Film ini adalah film pertama yang kutonton dalam format 3D.
Saat itu dalam film 3D tidak ada subtitle, sedikit berbeda dengan film 3D
sekarang.
@ciwalk
8. Prince of Persia (2010)
Film ini kutonton saat memasuki era
“nothing to lose” di Bandung. Dan
akan beranjak pergi meninggakan segala mimpi yang pernah kugantungan di kota
tersebut.
@ciwalk
9. Sang Pemimpi (2010)
Sekuel kedua laskar pelangi ini
membuatku menangis ketika menontonnya. Bagaimana tidak, saat itu kondisi
kuliahku di ITB berantakan. Dan tiba-tiba saja film ini mengingatkan tentang
ayahku di rumah.
@ciwalk
10. Edge of Darkness (2010)
Mel Gibson adalah alasan kenapa aku
menonton film ini. Film ini juga menjadi saksi hari-hari kelamku sewaktu di
Bandung.
@ciwalk
11. Deathly Hallows part I (2010)
Sebenarnya aku bukan penggemar film
Harry Potter. Akan tetapi, aku tidak serta merta juga melewatkan setiap sekuel
filmnya. Film ini merupakan film pertama
yang kutonton ketika tiba di Bintaro. David dan beberapa kawan di
Paspilo yang mengajakku. Saat pulang tengah malam, kami kehujanan di jalan.
Mengambil jalan memutar komplek yang saat itu sudah terportal.
@bintaro plaza
12. Clash of Titans (2010)
Tidak ada alasan jelas kenapa aku
menonton film ini. Aku hanya merasa tidak ada kegiatan di Bandung saat sudah
memutuskan keluar dari ITB.
@ciwalk
13. Legion (2010)
Film yang dibintangi Paul Bettany
ini juga menyita perhatianku karena aku tak punya kegiatan di Bandung. Aku
selalu ingat diriku saat itu yang begitu ringkih dan hampir jatuh menyongsong
masa depan kuliahku. Hampir semua film yang kutonton di bioskop kulewatkan
sendiri saat masih di Bandung.
@ciwalk
14. Skyfall (2012)
Ada sedikit rencana untuk menonton
film ini dengan mantan kekasihku waktu itu. Namun, aku tak mampu menahan ajakan
kawan-kawan 3M. Hari pertama release, kami langsung booking ticket. Film ketiga
Daniel Craig dalam memerankan agent secret service dari Inggris ini bisa
dibilang lebih bagus dari Quantum of Solace.
@bintaro plaza
15. 5cm (2012)
Filmnya biasa. Aku tertarik menonton
film ini karena unsur Semeru yang baru saja kudaki beberapa bulan sebelum film
ini release. Film pertama yang ditonton oleg Ceger 31 secara berjamaah.
@bintaro plaza
16. The Dark Knight Rises (2012)
Christopher Nolan sekali lagi
menunjukkan kepiawaiannya dalam menuntaskan Trilogi Batman garapannya. Film ini
kulewatkan sendiri.
@bintaro plaza
17. The Hobbit I (2012)
Sebenarnya aku sudah diajak oleh
beberapa kawan 3M untuk menonton ini. Namun, aku tak mampu menahan godaan untuk
menonton lebih duluan. Memang tak sebagus Lord of the Rings tapi masih layak
untuk disaksikan.
@bintaro plaza
18. 2 Guns (2013)
Sedikit iseng sebenarnya menonton
film ini, karena sudah lama tak nonton ke bioskop. Kebetulan ada film yang duo
aktornya kusuka: Denzel Washington dan Mark Wahlberg. Film action yang biasa.
@bintaro plaza
19. Iron man 3 (2013)
Kalau bukan ajakan kawan-kawan 3M,
mungkin aku tak akan menonton film ini di bioskop. Dan benar saja, untuk film
superhero di era sekarang, aku menilai film ini sebagai yang terburuk. Kalah
jauh dari Man of Steel dan The Dark Knight Rises yang release lebih duluan.
Uang yang tak sedikit harus kugocek dari dompet karena melewatkan film ini di
iMax.
@gandaria city
20. Man of Steel (2013)
Tak sekeren The Dark Knight Rises
tapi ini adalah sekuel Superman yang paling top. Dalam film ini, Superman
akhirnya sadar jika kampes memang harus digunakan di dalam celana. Layak dan
pantas sekali untuk ditonton.
@bintaro plaza
21. The Hobbit II
Film ini merupakan lanjutan dari The
Hobbit I. Aku tak mengerti kenapa Peter Jackson mengadaptasi sebuah novel yang
tidak tebal ke dalam 3 film yang bersambung.
Film ini punya animasi cukup bagus tapi sejujurnya aku kurang puas
dengan hasilnya. Jika dibandingkan dengan The Hobbit yang pertama, film ini masih
kalah bagus.
@lotte bintaro
22. Soekarno
Atas rekomendasi Ahimsa, aku
memutuskan melewatkan film ini di bioskop. Harus diakui, film ini adalah karya
Hanung yang terbaik meskipun banyak kontroversi di balik pembuatannya. Sebagai anak bangsa yang mengagumi sosok Soekarno,
kurasa seluruh pemuda Indonesia mesti menyaksikan film ini.
@bintaro plaza
23. Captain Phillips (2013)
Film Midnight pertama yang kutonton.
Dan hasilnya tak mengecewakan. Nama besar Tom Hanks jelas menjadi garansi dalam
film ini. Namun sejujurnya, perhatianku lebih mengarah pada sosok Paul Grengrass
tang menjadi sutradara.
@lotte bintaro
24. Thor, The Dark World (2013)
Sore itu sepulang kerja aku
memutuskan untuk ke Obsat. Hanya saja saat itu masih tersisa banyak waktu untuk
menunggu. Aku memutuskan untuk meluncur ke iMax dan mendapatkan film ini.
@gandaria city
25. Muse live in Rome (2013)
Ardian kali ini yang mengajakku ke
bioskop untuk menonton sesuatu yang sedikit di luar nalar. Menonton konser
music di bioskop. Tak apa, karena kami
adalah fans berat muse. Sedikit catatan, ini pertama kali aku nonton ke Blitz
Megaplex.
@grand indonesia
26. Gravity (2013)
Film ini biasa tapi luar biasa.
Hampir sepanjang waktu memang drama monolog tapi ada sensasi luar biasa di
sana. Bercerita tentang seorang biologist yang hidup sendiri di luar angkasa
dan mencoba kembali ke bumi setelah hujan meteor menimpa kru timnya dan
menewaskan mereka semua.
@bintaro plaza
27. Wolf of Wallstreet (2014)
DiCaprio memang luar biasa dalam
memerankan Jordan Belford. Film ini kutonton ketika depresi berat sedang
melandaku di tengah kesibukan sebagai auditor.. Martin Scorsesse sekali lagi
membuktikan sebagai sutradara yang selalu menelurkan film-film berkualitas. Aku
tak terima jika film ini tak mendapatkan Oscar tahun ini, khususnya untuk
kategori Best Actor.
@lotte bintaro
28. American Hustle (2014)
Sedikit rumit dan membosankan di
tengah, tapi film ini punya ending yang tak bisa ditebak. Keempat aktor utama (
Christian Bale, Amy Adams, Bradley Cooper,
Jennifer Lawrence) dalam film ini tampil ciamik. Sepertinya film ini
bakal menjadi saingan terberat Wolf of Wallstreet di Academy Award tahun ini.
Film terakhir yang kutonton di Bintaro.
@bintaro plaza
29. Robocop (2014)
Sore itu aku terjebak hujan di Solo.
Aku memutuskan untuk menepi ke Paragon Mall dan touchdown ke XXI. Dapatlah film
ini.
@solo paragon
30. Edensor (2014)
Hari pertama tahun 2014 kulewaktkan
dengan menonton film ini. Sebagai sekuel ketiga Laskar Pelangi, film ini bisa
dibilang paling buruk. Kehadirannya sudah ditunggu 4 tahun tapi hasilnya jauh
dari kenyataan. Poin penting dari novel Edensor yang menceritakan perjalanan
ical menjelajah eropa bahkan tidak diadaptasi ke dalam film oleh sang
sutradara. Aku jelas kecewa.
@lotte bintaro
31. Tenggelamnya Kapal Van der Wijk (2014)
Alasan kenapa aku menonton film ini
adalah Buya Hamka. Salah satu novel mega karya beliau akhirnya diadaptasi ke
dalam film. Secar subyektif, aku menilai film ini bagus hanya pada awalnya
saja.
@bintaro plaza
32. 47 Ronin (2014)
Keanu reeves kembali ke layar lebar.
Kali ini dengan cerita mengenai peristiwa dengan latar belakang sejarah di
Jepang. Film yang menceritakan jiwa kepahlawanan para Ronin yang legendaris.
Sebenarnya kisah ini sudah berkali-kali diangkat ke layar lebar. Namun, baru
kali ini masuk ke industry Hollywood. Walaupun kisahnya sedikit di luar nalar dan
tentu saja ada yang berbeda dengan kisah aslinya, film ini masih layak untuk
ditonton.
@bintaro plaza
24 Jan 2014
Masa TK
Mencoba
mengingat kembali kenangan-kenangan yang terjadi sewaktu kecil dulu. Perjalanan
mengenai pendidikanku dimulai di TK BA Aisyiah Gayam, tak jauh dari rumahku.
Waktu itu aku masuk tahun 1995. Dulu, aku termasuk anak yang sulit sekali
diyakinkan agar mau bersekolah. Tak mengherankan jika disuruh sekolah, aku
ogah-ogahan. Sebenarnya yang membuat aku demikian adalah tipe penakutku. Ini
bukan masalah keanehan. Anak usia 4 tahun yang baru masuk sekolah pasti juga
merasakan demikian. Apalagi waktu itu aku termasuk anak yang tak bisah pisah
dengan ibunya.
Dan jelaslah,
untuk membuatku tetap bersekolah, Ibuku harus menungguku. Sekolah TK ku dimulai
pukul 08.00 sampai 10.00 pagi. Waktu itu nama kelasnya adalah nol kecil. Ada
cerita mengenai perjalananku waktu sekolah di nol kecil ini. Di saat setiap
mengikuti kelas, aku harus memastikan bahwa ibu menungguku. Menunggu ini
maksudnya, bahwa beliau ada selama kelas berlangsung dari bel masuk sekolah
sampai pulang sekolah. Untuk memastikan hal tersebut, aku meminta ibuku untuk
mejagaku dengan ikut pelajaran di kelas. Tentunya dengan bangku yang berbeda.
Saat itu, biasanya para orangtua murid disediakan bangku di dekat pintu untuk
menjaga anak-anaknya. Pernah suatu ketika, ibuku meminta untuk menunggu di
luar. Lalu aku mengizinkannya. Namun, betapa tersedunya aku menangis setelah ku
tunggu beberapa menit beliau tak kunjung kembali ke kelas. Dalam hal ini, aku
menuntut jika ibuku tak mau menjagaku selama sekolah, aku tidak akan pergi
sekolah. Kejadian seperti ini berlangsung cukup lama. Masalah mengenai
ketakutanku ini tak bisa hilang oleh waktu. Apalagi waktu kecil aku adalah anak
yang selalu mengandalkan ibuku. Aku akan selalu menangis jika pulang ke rumah
dan tak mendapati beliau ada.
Hari sabtu
adalah hari yang paling ku tunggu. Para murid diharuskan membawa bekal untuk
pesta di kelas. Di hari sabtu pula, seminggu sekali kelas kami diisi dengan
permainan. Ibuku selalu membawakanku bekal berupa nasi rames yang dibeli di es
teler boncel milik orangtua temanku. Dalam hal masalah fashion, aku mungkin
termasuk orang yang banyak tuntutan. Maklum, semua atributku waktu itu harus
menyala. Salah satunya seperti sepatu yang bisa menyala. Entah kenapa waktu itu
sesuatu yang menyala menjadi trend di antara kami selaku balita.
Temanku waktu
itu yang masih membekas di ingatanku saat ini adalah Wawan, Bowo, dan Indra.
Wawan bisa di bilang adalag orang yang lurus dan neko-neko, dia cerdas dan
pintar. Sedangkan Bowo dan Indra adalah sebaliknya. Aku sendiri cenderung
berkawan dengan Bowo dan Indra. Aku tak tau mengapa demikian. Wawan hanya
setahun di sekolah ini. Setelah lulus dari nol kecil, dia langsung SD. Hal ini
dikarenakan karena kecerdasannya di atas rata-rata. Kami pun berpisah saat aku
naik ke nol besar atau biasa disebut tahun kedua di TK ini. Setelah itu, nyaris
kami tak pernah bertemu sampai saat ini.
Mengawali
lembaran baru di tahun kedua. Aku masih tak banyak berubah pada awal-awalnya.
Sekolah masih diantar oleh ibuku dengan sepeda onthel tuanya dan tentunya
beliau harus menunggu. Bedanya kali ini saya tak lagi menangis jika harus
ditinggal di tengah pelajaran sedang berlangsung. Dalam bersahabat, aku masih
berteman dengan preman TK waktu itu, siapa lagi kalau bukan Bowo dan Indra.
Isu-isu di dunia taman kanak-kanak sebenarnya berkutat pada dunia mainan yang
lagi ngeterend dan ada di pasar malam. Lalu kemudian teman saat itu temanku bernama
Topan memilikinya, lantas aku iri dan merengek minta bapak buat membelikannya.
Sebagai trio
sahabat yang mungkin waktu itu terkenal paling bandel karena hampir selalu
ngutang ke tempatnya mbah rumpyuh dan lek surati yang saat itu jadi penjaga
kantin. Lalu kemudian orangtua kami yang akhirnya membayarnya. Kenakalan kami
lainnya adalah sering meminjam mainan teman kami sampai ia menangis karena
tidak kami kembalikan. Waktu itu aku terkena candu dengan minuman extra joss.
Kakakku, waktu itu sering membeli untuk digunakan sebagai doping karena ia
keranjingan sekali main badminton. Suatu ketika aku mencoba minuman itu dan
rasanya memang sungguh enak. Tak heran apabila aku ketagihan. Suatu hari aku
mengambil extra joos itu dari kamar kakakku, lalu membagi-bagikannya kepada
teman di kelas. Sampai pada kahirnya ketahuan oleh ibuku, dan tentu saja dia
bilang jika minuman itu tak bagus buat kesehatan tubuh.
Aku masih
ingat guru TK ku waktu itu, namanya Bu Waginem. Dari sekian pengajar dan
pendidik yang pernah meracuniku dengan ilmu dan tindak-tanduk, beliau mungkin
salah satu yang terkenang karena aku merasa berhutang budi padanya. Dia adalah
yang pertama kali membentuk kepribadianku di pendidikan formal. Aku selalu
teringat dengan dongeng-dongengnya. Pertengahan tahun 1997 aku lulus.
30 Des 2013
Kisah Pendakian Perdana Sang Legenda
-Based on True Story-
Penulis : Riris Aditya
Editor: Munawar Adi
Akhir-akhir ini dunia pendakian sedang menjadi sorotan. Hal ini tak lepas dari beberapa pendaki yang tewas ketika melakukan pendakian. Banyak hal yang menyebabkan peristiwa ini terjadi. Entah itu karena kondisi cuaca yang ekstrem dan tidak bersahabat maupun ketidaksiapan pendaki itu tersendiri dalam menghadapi berbagai macam resiko ketika melakukan pendakian.
Riris Aditya mencoba mengungkapkan kembali kisah petualangannya sewaktu muda dulu. Mendaki gunung adalah salah satu kegiatan olahraga esktrem dan petualangan yang dulu pernah ia geluti. Seperti halnya dengan pemuda pada umumnya, gejolak jiwa yang masih labil tapi penuh semangat dan bermodal nekat lekat menjadi identitasnya waktu itu. Potret perkembangan pemuda saat ini juga tak jauh beda. Bertualang demi mendapatkan kesenangan tapi abai dengan resiko dan bahaya yang menyertainya.
6 tahun lalu, Riris menjalani debutnya di dunia pendakian. Tanpa perbekalan dan persiapan yang matang, ia mencoba menakhlukkan ganasnya Gunung Lawu yang terkenal sebagai gunung paling angker dan dingin se-antero Pulau Jawa. Pendaki legendaris pendiri TPS ini melakukan pendakian pada bulan Januari ketika intensitas curah hujan sedang tinggi-tingginya. Namun, hal itu tak menyiutkan nyali sang Legenda.
Bersama rekan-rekannya, ia terjebak badai sewaktu menuju puncak tanpa perbekalan dan peralatan yang memadai. Karena ketangguhan dan kejantanannya itulah, ia disebut sebagai legenda. Benar-benar pendaki legendaris yang tidak bisa dibandingkan dengan pendaki-pendaki newbie saat ini.
![]() |
| Sang Legenda di Puncak Rinjani |
“Waktu itu aku mengajak Aziz untuk mendaki gunung. Aku terobsesi oleh cita-citaku, yaitu sesuatu yang berbau militer. Impianku ketika itu adalah menjadi seorang polwan, tapi mana mungkin aku hanya lelaki. Karena tidak mungkin, kualihkan cita-citaku menjadi TNI, tapi tidak kesampaian. Untuk itulah aku ingin menguji fisikku dengan mendaki gunung. Pertimbanganku mengajak Aziz waktu itu karena orangnya sedikit tolol, enak diajak bercanda, selain juga alasan utama dia pernah kesana sebelumnya.
Pendakian perdanaku pun dimulai. Waktu itu Aziz menjadi ketua tim karena sudah pernah naik gunung sebelumnya. Harus diakui Aziz memang punya pengalaman, tapi pengalaman taek. Sedikit-sedikit lelah, minta break. Saya agak bimbang waktu itu. Di satu sisi Aziz klemak-klemek kayak bencong sapoy, sementara teman saya Istanto yang seorang petinju amatir bergerak cepat bagai ular. Istanto dan Panji yang memimpin di depan waktu itu melahap setiap trek jalan setapak Lawu. Hanya Cendy yang mampu mengimbangi waktu itu. Saya tau Wowor juga mampu mengimbangi tapi karena kesetiakawanan saya dan Wowor yang tinggi kami memutuskan mengimbangi Aziz. Jarak kami dengan grup depan bisa dikatakan hampir 300-500 m. Saya juga kadang di depan menyuruh agak pelan, tapi lebih banyak dibelakang.
Di tengah perjalanan Aziz membuang beberapa wedang putih untuk mengurangi beban dengan alasan musim hujan. Sesuatu hal yang bisa disebut sebagai tindakan kebodohan. Anda bisa menebak sendiri mengapa saya berkata kebodohan, pikirku waktu itu “o.. ya mungkin ini pengalaman”. Perlu digaris bawahi pengalaman.
Kisah pun berlanjut. Saat itu terjadi clash antara kami. Ya memang benar, saat itu terjadi clash antara Aziz dan Istanto tapi masih dalam taraf yang wajar. Jujur Istanto merasa geli dengan tingkah laku Aziz yang sok berpengalaman perlu digaris bawahi tapi kenyataannya klemak-klemek.
Akhirnya kami pun terpisah, saya dan Istanto cs. melanjutkan perjalanan sedangkan Aziz dan antek-anteknya berhenti di Shelter III. Sebenarnya, yang menyebabkan saya melanjutkan perjalanan bukan soal clash tapi karena gojekan Istanto untuk mengejar daging kambing yang dibawa pendaki lain. Saat itu di perjalanan, kami memang melihat beberapa pendaki yang membawa kambing hidup ke atas. Gojekan Istanto ini sebenarnya mengetes siapa yang berani lanjut. Saya yang bermodal tekad bulat untuk mendapatkan sunrise memutuskan lanjut. nDarun dan Panji hanya ikut-ikutan lanjut (mungkin obsesi daging). Dingin benar-benar menyelimuti kami dalam perjalanan waktu itu.
Bermodalkan badan sehat, kami menuju ke atas, horas beh !!
Tidak peduli dengan Aziz dan antek-anteknya. Setelah berjalan menahan dingin dan menerjang badai selama berjam-jam, akhirnya kami berempat tiba di Shelter IV. Saat itu pula, dengan penuh semangat mengejar puncak dan mengejar daging kambing, kami langsung tancap gas menuju puncak.
Baru 20 menit mendaki ke atas, kami melihat pemandangan yang begitu menakjubkan. Lampu-lampu kota yang sangat indah. Sampai saya terharu bila mengingatnya. Namun, tiba-tiba….. ASU……. badai besar datang. Kami hampir tersapu olehnya. Kami bergerak cepat kembali turun ke Shelter IV. Ini cerita paling menyedihkan, saya menulis biar semua orang tahu.
Dengan kondisi cuaca yang dingin seperti itu ditambah dengan badai dan rintik hujan, saya dan teman-teman memutuskan istirahat sejenak. Menunggu sampai cuaca kembali bersahabat. Minimal tidak hujan dan badai segera hilang.
Dingin kembali saya katakan. Dingin yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kami gelar mantol milik panji, karena itulah satu-satunya peralatan yang kami bawa. Kami berencana untuk beristirahat sejenak. Akan tetapi, setelah menunggu hampir 1 jam lebih, cuaca tidak memihak. Badai malah semakin besar sehingga kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan besok.
Di Shelter IV dengan kondisi sebagian atap hilang, beralaskan mantel, dan berselimutkan satu sarung yang kami pakai buat berempat, kami mencoba menyalakan api. Beruntung ada kayu-kayu yang agak basah disekitar Shelter IV. Anehnya, di sini saya lupa minta paraffin kepada Aziz yang kuakui memang peralatan dia lengkap.
Dengan tidak berputus asa, aku keluarkan lilin dari dalam tasku yang kuambil di meja dapur rumahku sebelum berangkat, kira aja berguna. Hampir setenggah jam lebih kami mati-matian menyalakan api. Aku sudah frustasi waktu itu. Berkat kegigihan Istanto dan nDarun, akhirnya api berhasil menyala untuk mengurangi dinginnya Shelter IV waktu itu. Dingin yang jujur kuakui sampai menusuk sumsum tulang. Kami akhirnya bisa sampai puncak keesokan harinya setelah matahari terbit menghangatkan tulang-tulang kami. Aziz dan antek-anteknya juga menyusul ke puncak beberapa jam setelah kami. Pada akhirnya, kami selamat sampai pulang ke rumah dan bertemu dengan keluarga kami masing-masing.”
Langganan:
Postingan (Atom)

