6 Okt 2013

Catatan Perjalanan ke Krakatau


Sejarah dunia mencatat, sebuah gunung di perairan Selat Sunda meletus pada tahun 1883. Letusan yang sampai saat ini masih menjadi legenda karena kedahsyatannya. Letusan tersebut mengakibatkan tsunami dan menelan tak kurang dari 36.000 jiwa. Tidak hanya itu, letusan ini juga berdampak pada perubahan iklim dunia. Sesaat setelah letusan ini, dunia digelapkan oleh abu vulkanisnya selama lebih dari dua hari.



Menurut Pak Chandra selaku penduduk lokal yang menjadi nahkoda dan guide kami selama di perjalanan ini, letusan Krakatau menyebabkan daratan dimana gunung tersebut dulu berdiri terbelah dan terpisah menjadi dua, yaitu Gunung Rakata yang tinggal setengahnya saja dan Pulau Panjang.  Dan di antara keduanya, pada tahun 1930 munculah Gunung Anak Krakatau. Gunung berapi ini punya satu keistimewaan dimana setiap tahun tingginya bertambah 4 cm dari permukaan laut. Sampai saat ini Anak Krakatau telah berumur 83 tahun dengan memiliki ketinggian 230 m.
                Perjalanan kami menuju anak Krakatau dimulai dari stasiun tanah abang. Kami serombongan terdiri atas 21 pria, tanpa wanita. Entahlah, sudah berapa kali perjalanan telah terlewatkan tanpa kehadiran seorang wanita. Rombongan kami terdiri atas 7 orang alumni STAN Bintaro, sisanya alumni STAN Bea Cukai. Seperti biasa, sebagai ketua rombongan, saya selalu tiba paling akhir di stasiun.


Meeting Points di Stasiun Tanahabang 
Dari stasiun tanah abang kami memesan tiket KA Ekonomi Krakatau. KA yang melayani rute Merak – Madiun PP ini tergolong sebagai kereta baru. PT KAI sendiri baru meluncurkan dan mengoperasikan kereta ini beberapa bulan yang lalu. Seumur-umur, inilah kereta ekonomi terbaik dan ternyaman yang pernah saya tumpangi.  Tempat duduknya yang masih tersegel rapi dengan formasi seat 2 -2. Tidak hanya itu kondisi pendingin udara (AC) masih sangat berfungsi dengan baik.


Suasana di dalam kereta
Tepat pukul 22.30 kereta berangkat menuju Stasiun Merak, kami serombongan berada di dalam satu gerbong yang malam itu benar-benar kami kuasai. Perjalanan selama kurang lebih tiga setengah jam kami isi dengan bermain kartu, narsis dan report perjalanan di depan kamera, serta canda tawa dibalik cerita. Meskipun ada juga yang sedari masuk ke dalam kereta langsung amblas tertelan mimpi, contohnya @princemelon dan @ian_nurseto.


Bermain bridge di dalam kereta
Setibanya di Stasiun Merak, kami langsung bergegas menuju kapal fery yang akan mengantar kami ke Bakauheuni. Letak stasiun dan pelabuhan begitu dekat, sehingga untuk menuju ke deck kapal kami cukup melewati jembatan penyeberangan. Di dalam kapal kami langsung upgrade ke ruang executive agar bisa leluasa beristirahat sambil menunggu kapal berlabuh.


Suasana di kapal fery yang menuju Bakauheuni
Estimasi penyeberangan yang semula kami rencanakan memerlukan waktu dua jam kali ini meleset. Sewaktu akan berlabuh, kapal kami ternyata harus menunggu giliran. Peristiwa semacam ini memang diluar kebiasaan atau bisa dibilang luar biasa. Baru pada pukul 06.00, kami akhirnya mendarat di Pulau Sumatera. Setelah belanja di Indomaret pelabuhan Bakauheuni, kami langsung bergegas menuju Dermaga Canti via Angkot yang kami carter.


Isa, Dinto, nDolo, Nopek

Dermaga Canti
Perjalanan ke Dermaga Canti dari Bakauheuni lumayan jauh. Kondisi jalanan yang naik turun membuat angkot kami sempat mogok di tanjakan. Penantian selama satu jam lebih akhirnya berujung pada sebuah dermaga kecil bernama Canti. Di sinilah perjalanan ke Krakatau benar-benar baru akan dimulai.
Hampir tiga jam kami terombang-ambing di dalam kapal yang melaju melintasi lautan. Cuaca siang itu sangat cerah, tak kuasa kulit kami terbakar matahari. Tujuan kami selepas dari Dermaga Canti tadi adalah Pulau Sebesi, pulau kecil berpenghuni terdekat dari Anak Krakatau. Pada awal perjalanan, saya memutuskan tidur di deck bawah karena memang saya mengantuk sekali. Kondisi di deck atas sangat panas karena tidak ada peneduhnya. Sudah lumrah memang karena kulit saya sangat alergi sekali dengan panasnya sinar matahari sehingga hanya sesekali saya naik ke deck atas hanya jika ingin melihat pemandangan dan mengistirahatkan telinga dari suara bising mesin. Bau solar di deck bawah sebenarnya juga sangat menusuk dan bikin tak betah tapi mau bagaimana lagi memang beginilah kondisinya.
Setelah dua jam lebih di perjalanan, kapal kami berhenti sebentar di sekitar Pulau Sebuku. Di perairan Pulau Sebuku ini, wisatawan biasanya melakukan snorkeling, begitu juga dengan kami. Akan tetapi, karena kami tidak membawa (baca: tidak mendapat persewaan) alat snorkeling, terpaksalah kami snorkeling tanpa alat. Mungkin lebih tepatnya disebut berenang di laut lepas. Saya sendiri urung melakukan hal ini.


Berenang bebas di laut
Perjalanan dari Sebuku menuju Sebesi bisa ditempuh selama 30 menit. Kedatangan kami di Pulau Sebesi langsung disambut oleh Bapak Hayun yang sebelumnya sudah saya hubungi untuk menyediakan akomodasi selama kami berada di sini. Perlu diketahui, Bapak Hayun merupakan orang kepercayaan Pemerintah Provinsi Lampung yang ditugasi untuk menyediakan akomodasi bagi para wisatawan yang melakukan perjalanan ke sini. Dari Beliau, kita bisa memesan penginapan, makanan, dan bahkan kapal serta alat snorkeling.


Pendaratan kapal di Dermaga Sebesi
Sedikit gambaran mengenai Pulau Sebesi. Pulau ini merupakan satu-satunya pulau berpenghuni dari sekian gugusan pulau yang berada di dekat Krakatau. Para wisatawan biasanya menginap di sini sebelum melanjutkan perjalanan ke Krakatau. Tidak heran, apabila warga di sini merelakan rumahnya untuk dijadikan homestay. Kondisi di pulau ini tidak jauh berbeda dengan perkampungan desa pada umumnya. Infrastruktur berupa jalan raya sudah tersedia. Selain itu, fasilitas berupa sekolah dan puskesmas juga bisa dijumpai di pulau ini. Hanya saja, ketersediaan listrik di pulau ini hanya bisa didapati waktu menjelang maghrib sampai tengah malam.

Pulau Sebesi dari dekat

Kondisi homestay



Suasana jalan di Pulau Sebesi

Perkampungan di Pulau Sebesi

Rasa lelah selama perjalanan di kapal tadi kami lampiaskan dengan beristirahat sambil menikmati kelapa muda yang dipadu dengan sejuknya sepoi-sepoi angin pantai. Setelah makan siang dan sholat dzuhur, perjalanan kami lanjutkan dengan island hopping dan beach exploring di Pulau Umang dan sekitaran Pulau Sebesi. Pulau Umang letaknya tak begitu jauh dengan Pulau Sebesi, pasir putih dan bebatuan karang menjadi ciri khas pulau yang ukurannya hampir sama dari lapangan bola ini.  Jernihnya air di sekitaran pulau ini juga menjadi nilai plus tersendiri.


Hendra, Arya, Papang, David, Suryo di Pulau Umang
Menjelang senja, kami mengeksplorasi sisi lain Pulau Sebesi. Salah satu obyek yang kami kunjungi adalah rumah pohon. Rumah ini bisa disewa dan  ditempati tetapi kondisinya kurang begitu terawat. Sebagai sajian terakhir di hari pertama kami di sini, terbenamnya matahari menjadi pelengkap indahnya perjalanan dan penutup senja hari itu. Pemandangan eloknya cakrawala ini kami dapati di tengah-tengah antara Pulau Sebuku dan Sebesi. Mungkin ini sunset terbaik yang pernah kami dapati  di atas kapal.


Rumah Pohon

Sunset di atas kapal
Ketika hari mulai beranjak gelap, kami kembali Ke Sebesi. Setelah mandi dan makan malam, praktis tak ada kegiatan yang kami lakukan. Ada dua homestay yang kami sewa sehingga kebersamaan kami agak sedikit terpisah malam itu. Apalagi malam itu saya memutuskan untuk tidur lebih awal mengingat esok pagi buta kami haru sudah bergegas lagi ke dalam kapal dan melanjutkan perjalanan menuju Anak Krakatau. 
Gelombang laut pagi itu cukup besar. Hampir selama dua jam kami terhempas oleh ganasnya lautan. Saya sendiri komat kamit baca doa di sepanjang perjalanan yang penuh memacu adrenalin itu. Bagaimana tidak seringkali kapal yang kami tumpangi miring ke kiri seolah-olah mau karam. Bahkan di deck depan, air sampai masuk ke dalam kapal. Pelayaran penuh mendebarkan itu akhirnya berakhir setelah kapal kami bersandar di Pulau Anak Krakatau. Hamparan pasir hitam yang katanya mengandung banyak bijih besi menjadi ciri khas tersendiri dari tepian pulau ini. Pagi itu, banyak kapal yang berlabuh. Suasana cukup ramai oleh kehadiran para wisatawan. Di antara dari mereka bahkan banyak yang mendirikan tenda di sekitaran tepi pantai. 


Pantai di Pulau Anak Krakatau, kapal berlabuh
Sunrise di Pantai  Krakatau

Untuk mendaki gunung ini, wisatawan  perlu mengurus izin terlebih dahulu. Maklum, tempat ini termasuk kawasan cagar alam. Biaya administrasi dan guide di sini sudah termasuk dengan biaya sewa kapal. Jadi tak perlu mengeluarkan uang lagi. Setelah proses izin selesai, kami kembali melanjutkan perjalanan yang menjadi intisari perjalanan ini, mendaki Gunung Anak Krakatau. Medan pendakian Gunung Anak Krakatau tak begitu sulit, maklum gunung ini hanya memiliki ketinggian 230mdlp dengan banyak hamparan pasir dan bebatuan. Pendaki tidak diperbolehkan mendaki sampai ke puncak mengingat tidak ada jalur yang bisa diakses untuk menuju ke sana. Overall, pemandangan yang ditawarkan oleh gunung ini cukup mengesankan.


Cagar Alam Krakatau


Pendakian ke Anak krakatau
Spot tertinggi di Anak Krakatau yang bisa dijangkau berupa puncak punggungan bukit. Di sini kami banyak mengambil gambar. Membuat pesan dan berfoto narsis. Ada kejadian sedikit unik di sini, karena saya bertemu dengan Yohan. Dia adalah kawan kami (rombongan Bintaro) sewaktu ke Pulau Seribu tahun lalu. Kebetulan dia sedang mangadakan trip bersama rekan-rekan kantornya.


Foto bersama Yohan (Army) di Krakatau

untitle


Foto sebelum turun
Sesaat setelah turun, kami sarapan sambil menyaksikan pemadangan bule berenang. Tak mau kalah @yanuarAU juga menjadi hiburan tersendiri bagi kami pagi itu. Setelah perut terisi, perjalanan kami lanjutkan ke Legoon Cabe untuk snorkeling. Saya dibuat terkesima akan pemadangan yang terdapat di antara Anak Krakatau dan Legoon Cabe. Dibandingkan dengan spot lainnya di sekitar gugusan kepulauan ini, Legoon Cabe menawarkan pemandangan bawah laut dan ikan yang lebih beraneka ragam. Sayangnya kami tak bisa lama-lama di sini karena hari sudah menjelang siang.


Perjalanan turun
Legoon Cabe
                Tiba di Pulau Sebesi, kami segera packing dan bergegas untuk pulang. Tak lupa, sebagai traveller beriman kami sholat terlebih dahulu setelah dapat jatah makan siang.  Lama perjalanan ketika kembali ke Dermaga Canti seolah menjadi lebih singkat kali ini. Cuaca juga cukup bersahabat dan tidak paans seperti waktu kami berangkat kemarin. Dengan menggunakan angkot yang sama seperti yang telah kami pesan kemarin, kami langsung menuju Pelabuhan Bakauheuni untuk menaiki Fery yang akan membawa kami kembali ke Pulau Jawa.

                Di Terminal Merak, rombongan Bintaro dan Rawamangun terpisah karena kami menggunakan bus yang berbeda jurusan. Sedikit berbeda dengan kereta yang kami gunakan sewaktu berangkat, perjalanan menggunakan bus ternyata membutuhkan waktu yang lebih singkat. Namun tetap saja, kami tiba di Bintaro sudah larut pagi. Dan hampir semua estimasi waktu yang kami perkirakan meleset dari tujuan yang ada di itinerary kami.

Pelaksanaan Itinerary
Hari I (Jumat, 6 September)
-          22.00                     : Meeting Point di Stasiun Tanah Abang
-          22.30                     : Berangkat ke Pelabuhan Merak
Hari II (Sabtu, 7 September)
-          02.00                     : Tiba di Pelabuhan Merak
-          02.30                     : Menyeberang ke Pelabuhan Bakauheuni
-          06.00                     :Tiba di Pelabuhan Bakauheuni
-          06.30                     : Perjalanan ke Dermaga Canti
-          08.00                     : Tiba di Dermaga Canti, sarapan
-          09.00                     : Perjalanan ke Pulau Sebesi
-          11.30                     : Snorkeling di Sebuku
-          12.30                     : Tiba di Pulau Sebesi, Ishoma, Check in homestay
-          15.00                     : Island hopping dan beach exploring di Umang-umang dan Sebesi
-          17.30                     : Sunset di tengah laut
-          18.00                     : Kembali ke Pulau Sebesi
-          19.00                     : Istirahat
Hari III (Minggu, 8 September)
-          03.30                     : Bersiap menuju Krakatau
-          06.00                     : Eksplore Anak Krakatau
-          09.00                     : Snorkeling di Lagoon Cabe
-          11.00                     : Kembali ke Pulau Sebesi
-          12.30 – 15.00      : Ishoma, Packing, Sarapan, kembali ke Dermaga Canti
-          17.30                     : Tiba di Dermaga Canti, kembali ke Pelabuhan Bakauheuni
-          19.00                     : Penyeberangan ke Pelabuhan Merak
-          22.00                     : Tiba di Pelabuhan Merak
-          23.00                     : Perjalanan ke Jakarta
-          03.00                     : Tiba di Bintaro

Rincian Biaya
-          KA Krakatau Tanah Abang – Merak                          30k
-          Kapal fery Merak – Bakauheuni PP                          24k
-          Upgrade kapal ke kelas                 eksekutif PP                       20k
-          Angkot Bakauheuni – Dermaga Canti PP                                340k
-          Sewa Kapal                                                                         3,5d
-          Sewa 2 Homestay                                                            400k
-          Makan @15k x 5                                                               75k
-          Bus Merak – Jakarta                                                       23k

Tips n Trick
-          Ketersediaan alat snorkeling di Pulau Sebesi sangat terbatas, kondisinya pun sudah banyak yang rusak, sehingga perlu membawa alat snorkeling sendiri dari Jakarta. Tarif yang dibebankan untuk alat snorkeling di Pulau Sebesi berdasarkan item, yaitu berupa life jacket, snorkel, dan fin, masing-masing alat dibanderol 20k. Hal ini sangat berbeda sistem persewaannya dibandingkan yang ada di Kep. Seribu yang memasang tarif 30-35k per hari.
-          Untuk Kapal yang dipakai buat eksplore di sekitar kawasan Pulau Sebesi dan Krakatau alangkah lebih bijak dipesan jauh-jauh hari terlebih dahulu. Hal ini untuk mencegah perjalanan ke Dermaga Canti menjadi tidak sia-sia mengingat terkadang kalau sedang ramai oleh wisatawan, kapal biasanya habis terpesan.

CP:
Bapak Chandra 081369686243 (Sewa Kapal)
Bapak Hayun 081369923312 (Homestay dan akomodasi)               

Video Perjalanan


27 Agu 2013

Perjalanan Menggapai Menara Suci Ranah Dewata


                Ada yang kurang rasanya jika akan melewatkan waktu lebih dari sebulan di Bali tanpa mengunjungi  puncak tertinggi di pulau ini. Pemandangan pantai, mungkin sudah jadi sajian setiap hari yang begitu dengan mudahnya dijangkau. Akan sedikit berbeda jika tempat yang dikunjungi adalah ranah tertinggi  di Pulau Dewata: Gunung Agung. Bukan hanya keindahan alam yang membuat jiwa petualang kami terpanggil melainkan juga sensasi kemistisan yang membuat kami tertarik mengunjungi salah satu tempat yang disucikan oleh Umat Hindu di Bali ini sehingga kami rela membawa carier yang membebani punggung, melangkahkan kaki yang terbelenggu rasa lelah, dan menyalakan gelora semangat dalam setiap nafas yang letih.
                Malam hari akhir pekan pertama bulan Juli, perjalanan dari Denpasar menuju Pura Besakih di Kabupaten Karangasem, masih terkenang di ingatan. Mobil Xenia yang kami tumpangi sudah penuh sesak dengan 8 orang: Saya, Nopek, Nana, Budi, Tumbur, Puye, Yoga dan Anom sebagai sopir pribadi kami. Kapastitas 8 orang yang mengisi Xenia ini sebenarnya sudah terlalu dipaksakan apalagi di dalamnya masih terdapat beberapa carier berat berisi perbekalan dan peralatan kami selama pendakian. Hal ini masih diperparah dengan gangguan yang terdapat dalam sistem klakson mobil kami yang tidak berfungsi.
                Perjalanan kurang lebih sekitar dua jam kami tempuh dari Denpasar menuju Pura Besakih. Jalanan yang sepi membuat saya tertidur selama berada di mobil meskipun jalurnya menanjak dan berkelok-kelok. Sesekali terjaga yang saya lihat hanya anjing yang sering kami jumpai di pinggir jalan. Lewat tengah malam kami tiba di Pura Besakih, pura terbesar di Pulau Bali. Kondisi saat itu dingin dengan suasana malam khas mencekam, terlebih gonggongan anjing saling bersahutan di sekitar kami. Satu hal yang menjadi nilai plus malam itu adalah kondisi langit bertabur bintang yang sungguh indah.
                Kesalahan kami dalam perjalanan kali ini adalah ketidaktahuan rencana mengenai hal pertama yang harus dilakukan setibanya di Pura Besakih, terlebih dengan kondisi larut malam seperti ini. Kami tidak tahu ke mana mesti beristirahat  dan melapor perizinan terlebih dahulu sebelum melakukan pendakian. Untunglah gelagat kami yang mencurigakan dengan memutari jalanan di sekitar pura mendapat respon oleh orang-orang sekitar yang kebetulan sedang melakukan ritual keagamaan. Setelah bertanya dan memberitahu maksud kami, mereka akhirnya menyarankan kami untuk pergi ke Pos Polisi (Pospol) yang ada di seberang belakang pura.
                Pos Polisi yang kami jumpai tidak begitu jauh lokasinya dari pura, di kantor ini terdapat seorang polisi yang kebetulan sedang dinas malam. Dari polisi tersebut kami menggali informasi tentang persyaratan dan perizinan melakukan pendakian. Dan yang lebih penting lagi, akhirnya kami menemukan toilet setelah menahan kencing selama perjalanan tadi. Salah satu syarat yang harus kami penuhi ketika akan melakukan pendakian adalah keharusan memakai jasa guide. Maklum, jasa guide sudah menjadi kewajiban sebagai pemandu bagi pendaki. Hal ini mulai diberlakukan setelah kecelakaan menimpa pendaki dari Bandung beberapa tahun lalu. Perlu diketahui, apabila terjadi kecelakaan yang menewaskan pendaki, umat hindu di sini harus melakukan ritual pembersihan gunung yang menghabiskan biaya tidak sedikit. Oleh karena itu, jasa guide ini dimaksudkan untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan. Tarif untuk seorang pendaki di sini tergantung proses negoisasi. Pada awalnya guide kami mematok harga 900k, setelah kami tawar akhirnya harganya menjadi 500k. Tarif setengah juta ini sebenarnya diluar ekspektasi kami yang memperkirakan hanya sekitar 350k saja.
Pos Polisi di Besakih
                Dari kedelapan orang, hanya 6 orang yang ikut dalam pendakian ke Gunung Agung. Yoga dan Anom tidak ikut karena memutuskan untuk memilih liburan sendiri ke Lovina di Singaraja. Pendakian kami mulai pukul 9 pagi setelah berbekal sarapan dengan pop mie. Mencari makanan yang halal di sini memang susah makanya untuk yang aman kami makan pop mie saja. Medan awal pendakian dipenuhi oleh ladang perkebunan warga selama satu jam pertama sampai akhirnya kami tiba di Pura Pengubengan. Di Pura Pengubengan kami dituntun oleh guide kami untuk melakukan ritual meminta keselamatan selama melakukan pendakian. Setelah istirahat dan berdoa sejenak, kami melanjutkan perjalanan.

Ritual di Pura Pengubengan

 Medan pendakian di Gunung Agung menurut saya termasuk kategori ekstrem karena jalannya selalu menanjak dan tak ada bonus sama sekali. Suasana mistis jelas bisa terasa karena sepanjang perjalanan terdapat bekas persembahan. Belum lagi gunung ini termasuk gunung yang tidak ramai dan umum untuk dijadikan obyek pendakian. Hal ini bisa dilihat dari sepanjang perjalanan yang jarang sekali terlihat sampah. Waktu itu bahkan hanya ada satu rombongan yang ada di depan kami.
Selama melakukan pendakian, mata kami sangat sedikit sekali dimanjakan oleh pemandangan mengingat jalur yang kami lewati selepas dari Pura Pengubengan tadi langsung menembus hutan belantara dan melewatii jalur punggung gunung yang terus menanjak. Di dalam perjalanan ini kami terpisah menjadi dua. Di posisi depan ada Tumbur dan saya yang ditemani oleh guide kami sedangkan di belakang ada Nana, Nopek, Puye, dan Budi. Formasi ini terjaga sampai sesekali kami beristirahat untuk saling menunggu.

Tim Pendaki: Tumbur, Budi, Nana, Saya, Puye, dan Nopek
Saya dan Tumbur  yang di depan semakin jauh meninggalkan kawan kami berempat dibelakang. Puncaknya adalah ketika kami berdua tiba dipersimpangan jalan yang menuju arah Girikusuma. Di sini saya memutuskan untuk menunggu Nopek dkk yang ada di belakang dan membiarkan Tumbur dan guide kami untuk leading di depan karena mereka hendak mendirikan tendak terlebih dahulu di Watu Tulis sehingga saat kami tiba di sana kami tinggal beristirahat.

Persimpangan Parang Girikusama
Persimpangan Girikusuma merupakan tanda bahwa perjalanan sudah sampai setengahnya. Di sini ada dua jalur, ke kanan berarti menuju sumber mata air yang disucikan dan tak bisa seenaknya diambil dan jalur ke kiri yang akan menuntun perjalanan sampai ke puncak. Waktu itu kami tiba di Girikusuma pukul setengah 4 sore. Jauh dari rencana estimasi waktu kami yang menargetkan tengah siang. Selama hampir satu jam saya menunggu sendirian di Girikusuma, saya melewatkan waktu dengan memutar playlist lagu-lagu milik John Denver dan Franky Sahilatua. Sedikit mengusir rasa takut dan membayangkan seseorang di sana.
Pukul setengah 5 sore, rombongan Nopek dkk. tiba juga di Girikusuma. Setelah istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini Saya dan Nana leading di depan dan semakin jauh meninggalkan Nopek, Puye, dan Budi di belakang. Kondisi yang semakin senja membuat kami bergegas untuk segera sampai di Watu tulis sebelum matahari tertelan oleh malam.

Senja di perjalanan menuju Watu tulis
Saya dan Nana akhirnya tiba juga di Watu tulis dan menemui Tumbur. Dengan kondisi tenda belum beres, kali ini kami bertiga mesti mendirikan tenda bersama. Saat itu waktu menunjukkan pukul 7 malam. Sedangkan Nopek dkk. baru sampai satu jam setelah kami. Dengan cemilan makanan seadanya kami mengisi waktu yang berlalu sambil menunggu kedatangan Nopek dkk. saat itu kondisi kami benar-benar dilenyapkan oleh kelemasan akibat tak ada makanan berat cukup kalori yang bisa kami makan selama pendakian tadi. Lebih parahnya, kami belum makan nasi selama hampir 24 jam. Apalagi paginya cuma sarapan pop mie. Tak banyak kami terjaga selama malam itu mengingat perjalanan kami keesokan hari masih akan berlanjut.

Suasana kehangatan tenda di Watu tulis
Pukul 4 pagi kami sudah siap melakukan summit attack dan mengejar sunrise. Sayangnya kali ini Puye dan Budi tak bisa ikut karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan. Puye sendiri sejak awal pendakian sudah menunjukkan gejala gangguan fisik yang tidak biasa. Medan selepas Watu tulis berupa bebatuan yang menanjak semakin terjal. Kali ini kami tidak sendiri karena banyak rombongan di belakang kami yang menyusul ke puncak, kebanyakan dari mereka adalah Turis asing. Kondisi alam selama perjalanan menuju puncak kali ini diselimuti kabut yang sesekali jatuh dalam bentuk gerimis tipis. Satu hal yang menggugah nyali di pagi itu adalah angin yang berhembus kencang. Toh, dengan tekad, asa, dan semangat yang tersisa akhirnya kami menapaki juga puncak agung di ketinggian 3081 mdpl.

Puncak Gunung Agung
Gunung Agung memilik tiga puncak, sayangnya puncak ketiga tidak bisa digapai karena jalan ke sana sudah putus. Dari menara suci ini terlihat Pulau Bali yang berada di bawah naungan awan, lautan biru yang masih terjaga dalam tidurnya, Pulau Jawa yang masih terselimuti gelap di ufuk barat, dan mentari terbit dari sela-sela Rinjani. Tuhan, alangkah agung ciptaanMu dan betapa kecilnya kami….

Nopek, Saya, The Guide, Tumbur, dan Nana di Puncak Agung

Perjalanan Turun dari Puncak




28 Apr 2013

Backpacker ke Ranah Minang

Tengah malam pukul 02.00 saya mesti bergegas, berjalan kaki sendirian menerobos gelap dan horornya malam dari Kos menuju Bintaro IX. Travel X-Transyang membawa ke Bandara paling pagi berangkat pukul 03.00. Sebenarnya saya agak was-was karena jadwal pesawat yang ada di tiket mengharuskan saya check in sebelum pukul 05.00. Antisipasi waktu sebenarnya telah saya lakukan dengan memesan tiket X Trans keberangkatan pukul 21.00 malam sebelumnya. Akan tetapi, saya datang terlambat beberapa menit.Dan jadilah saya ditinggal. Dari sini saya belajar banyak jika waktu memang sungguh berharga bro, apalagi waktu yang hilang tersebut harus dibayar dengan uang yang sebenarnya tidak diikhlaskan. Rp 35.000,00 melayang sia-sia! 


Selama di dalam travel sudah jelas pikiranku diliputi kecemasan. Was-was kalau travel kejebak macet atau tiba di bandara tak sesuai dengan estimasi waktu yang saya perkirakan.Namun, toh akhirnya rasa cemas itu sirna juga karena tepat pukul 04.25 saya sudah berada di lorong antrian check in terminal 3. Selepas check ini saya bergegas sholat subuh dan menuju ruang tunggu. Di ruang tunggu tak ada kesibukan yang bisa saya lakukan, berbeda  mungkin dengan para calon penumpang lainnya yang sibuk dengan telepon genggam atau gadget mereka. Maklum, untuk sekedar pamitan saya tak tau harus berpamitan dengan siapa selain dengan orangtua. Tak ada pesan kepada pacar “yang, aku berangkat ke Padang dulu ya, hati-hati selama aku tinggal. Jangan lupa sholat, tugas penelitian jangan lupa dikerjakan. Sekalian itu baju kotorku tolong kau loundrykan. Sayang kamu....”. Liburan tetap saja berasa melankolis untuk yang masih berusaha menyembuhkan hati yang luka.Akhirnya, pukul 05.35 tepat pesawat mengudara meninggalkan Jakarta.
Di kabin pesawat tak banyak yang saya lakukan kecuali memandangi awan berarak di balik jendela yang terkena semburat mentari pagi atau sesekali memperhatikan pramugari mandala yang menurutku masih kalah seksi dengan milik maskapai lion air.
Sesaat setelah landing di Bandara Minangkabau, saya bergegas mencari Bus Damri yang akan membawa saya menuju Kota padang. Di sana lah kawan-kawan Padang Backpacker Community (PBC) menunggu saya di basecamp. Kebetulan sebelumnya saya telah mengontak dan berkonsultasi dengan mereka terlebih dahulu. Sambutan mereka benar-benar hangat. Sejak turun dari Damri di depan kantor Trakindo, saya langsung dijemput oleh Riko menuju ke Basecamp PBS yang beralamat di Jl. Bunda III A. Sesampainya di basecamp yang tak lain adalah kontrakan miliknya, saya berjumpa dengan Fakhruddin atau yang biasa disapa Fakh. Fakh ini merupakan anak Bontang yang kebetulan kerja di Jakarta tepatnya di kawasan Cilandak. Beberapa waktu lalu kami sempat berkenalan di forum BPI karena kesamaan rencana kami yang bakal mengeksplorasi Sumatera Barat. Hanya saja backpacker yang lebih gemar jalan-jalan ke luar negeri ini hanya memiliki waktu 3 hari selama di ranah minang. Dan di hari kedatanganku ini adalah hari terakhir dia sebelum malamnya cabut untuk kembali ke Jakarta.

Basecamp Padang Backpacker Community di Jl Bunda IIIA
Selepas sarapan dengan nasi dan mie goreng bersama di basecamp, kami memutuskan untuk berkeliling dan mengunjungi obyek wisata yang ada di Kota Padang. Kali ini saya,  Bayu, dan Fakh sebagai pejalan ditemani oleh anak-anak PBC Dzikri, Yura dan Anto (Adminnya PBC). Bayu sendiri adalah pejalan juga dari Jakarta. Seluruh tempat penting bagi traveller di Indonesia hampir semua pernah dia kunjungi. Satu hal yang membuat saya merasa klop dengan Bayu adalah dia bisa berbahasa Jawa karena memang dia  aslinya anak Tulung Agung. Maka jadilah kami berboncengan via motor pinjaman siang itu menuju obyek lokasi wisata yang hendak kami kunjungi. Walaupun berada di ranah minang, bahasa jawa tetep usefull buat ngobrol asal ngobrolnya sama dengan orang jawa juga, heuheu.
Tujuan kami yang pertama kali ini adalah museum Adityawarman. Saya tak bisa menjelaskan tentang banyak tentang museum ini karena museum ini tiap hari senin ditutup untuk pengunjung. Maka jadilah kami hanya sebatas berfoto-foto di area halaman museum. Obyek lain yang kami kunjungi di siang itu adalah Gunung Padang. Akses menuju Gunung Padang bisa ditempuh kurang lebih sekitar 5 menit dengan motor dari jembatan Siti Nurbaya. Sebenarnya ini tak bisa disebut Gunung, saya sendiri lebih suka menyebutnya sebagai bukit. Di bukit ini terdapat makam Siti Nurbaya. Panorama yang disuguhkan pun cukup indah karena bukit ini tepat berdiridan berbatasan langsung dengan laut. Untuk mencapai puncaknya perlu tracking sekitar 30 menit dan itu cukup melelahkan. Namun, tak perlu khawatir karena jalanan sudah dibuat tangga. Di sini saya menjumpai beberapa anak SMA yang cabut dari sekolahan.

Musem Adityawarman

Sore harinya kami menikmati senja di pantai. Anak-anak PBC menyebut pantai ini sebagai Pantai Bung Hatta karena letaknya dibelakang kampus Universitas Bung Hatta. Pantai ini berada tidak jauh dari basecamp sehingga kami cukup berjalan kaki untuk menuju ke sana.
Sementara malam harinya Fakh, Bayu, dan beberapa pejalan yang sempat singgah di basecamp balik ke bandara, saya memutuskan untuk mencari kuliner di kawasan kinol dengan Riko. Perlu saya kenalkan, Riko ini adalah peserta master chef yang gugur sewaktu menuju 70 besar. Wawasan kulinernya harus saya akui memang luas. Pekerjaan sehari-harinya sebagai dosen sekaligus mahasiswa S2 di UNP. Perburuan makan malam kami yang pertama adalah es durian ganti nan lamo. Es krim durian memang  menjadi salah satu trade mark di Kota Padang, khususnya di kawasan kinol. Perjalanan kami berlanjut ke Pantai Padang. Di kawasan ini saya hanya mencicipi telur penyu yang di makan mentah-mentah. Rasanya lebih asin daripada telur ayam mentah yang biasa saya coba. Dan kuliner terakhir malam itu adalah sate padang KMS. Berbeda dengan sate padang yang biasanya di jual di Jakarta yang umumnya memakai jeroan. Sate di sini bervariasi, tak hanya jeroan semata karena ada daging bahkan lemaknya juga.
Selepas kuliner, kami langsung balik ke basecamp. Berkaca pada hari pertama yang telah dilalui, itenaries yang sudah saya susun ternyata berjalan tak sesuai rencana. Namun, bukan berarti ini bisa dibilang gagal. Karena semenjak saya tiba di basecamp pagi tadi, semua itenaries dihancurkan semua oleh Riko.
Perjalanan hari kedua kali ini saya pergi ke Kabupaten Pesisir Selatan. Sebenarnya tujuan yang satu ini pada awalnya tidak termasuk dalam itenaries yang telah saya susun. Bisikan-bisikan dari Riko yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk mencoba menjelajahi wilayah yang berada di tepi barat bagian selatan Sumatera Barat ini. Dan sudah jelas pula dia yang harus bertanggung jawab. Maksudnya soal akomodasi dan transportasi.
Riko merupakan salah seorang asli putera dari Painan, Ibukota Kabupaten Pesisir Selatan. Sebenarnya ajakan dia bukan tanpa alasan. Maksud dan tujuannya sangat baik. Saya akan menceritakan sedikit dibalik alasan dia mengajak setiap pejalan yang singgah di Padang untuk mengunjungi daerah di mana dia berasal ini. Harus diakui bahwa potensi pariwisata di Kabupaten Pesisir Selatan sungguh sangat indah dan masih alami. Akses jalan ke sana pun sudah cukup mumpuni  untuk sekedar menunjang transportasi. Banyak aneka wisata yang bisa dieksplore di Pesisir Selatan. Mulai dari Jembatan Akar, Pantai Carocok, Wisata bahari ke pulau-pulau, panorama bukit Langkisau, dan Air terjun tujuh tingkat. Ini belum termasuk obyek wisata lainnya yang belum saya kunjungi. Sayangnya, potensi alam yang sedemikian rupa ini ternyata masih belum cukup dikenal oleh para pejalan  yang datang ke ranah minang. Pada umumnya mereka lebih suka mengeksplore Kota Padang dan Bukit Tinggi. Itulah alasan kenapa Riko begitu sangat ingin mengenalkan keistimewaan Kabupaten Pesisir Selatan kepada para pejalan.
Air terjun tujuh tingkat
Perjalanan menuju Kabupaten Pesisir Selatan dapat ditempuh sekitar dua jam lebih dari Kota Padang. Di sepanjang perjalanan, saya disuguhi pemandangan yang sangat indah karena jalan raya yang saya lintasi berada tepat di samping bibir pantai.
Benteng Portugis di Pulau Cinguak bersama Riko
Memasuki hari ketiga, saya banyak membuang waktu di basecamp karena malam sebelumnya saya kecapekan selepas pulang dari Pesisir Selatan. Agenda hari ketiga ini adalah menuju Bukit Tinggi, Ibukota Republik Indonesia  ketika terjadi Agresi Militer Belanda. Kali ini  saya berangkat dari Kota Padang sendiri dengan menggunakan Travel. Di Bukit Tinggi saya nge-host sama Fahmi, anak PBC  yang tinggal di Bukik (sebutan Kota Bukit Tinggi). Perjalanan menuju Bukik ditempuh selama dua jam dari Kota Padang. Salah satu pemandangan eksotis selama di perjalanan adalah ketika melewati Lembah Anai. Di sana terdapat air terjun yang tepat berada di tepi jalan.
Setelah turun di Terminal Aur Kuning, saya melanjutkan perjalanan dengan mengunakan angkot menuju Pasar atas. Dari pasar atas saya langsung menuju Jam Gadang. Di sini saya bertemu dengan Fahmi yang akan menjadi host saya selama berada di Bukik. Sedikit informasi, jam gadang merupakan salah satu ikon kota Bukit Tinggi. Jam ini merupakan hadiah dari ratu belanda. Pada awalnya, jam ini  atasnya bukan atap rumah gadang. Kalau diperhatikan ada sedikit keunikan dari jam yang angkanya menggunakan angka romawi ini. Angka “4” tidak ditulis dengan angka romawi “IV” melainkan “IIII”, sedangkan angka lainnya tetap menggunakan angka romawi secara normal.
Setibanya di jam gadang saya langsung memotret suasana di jam gadang sore itu yang cukup ramai oleh pengunjung dan penjual segala jenis makanan dan souvenir. Pertemuan saya dengan Fahmi kali ini  lebih banyak membicarakan tentang Kota Bukit Tinggi sambil berjalan-jalan ke pasar atas dan pasar bawah. Satu hal yang jangan sampai dilupakan kalau mampir ke Kota Bukik, rasakan kuliner Nasi Kapaunya. Dijamin Lamak Bana! Malamnya sudah jelas saya menginap di rumahnya Fahmi. Sambutan keluarganya sangat hangat dan bersahabat.
Jam Gadang, Bukittinggi
Hari keempat kami mengunjungi Ngarai Sianok, Goa Jepang, Jembatan gantung dan tembok great wall yang kemarin baru saja diresmikan. Setelah dari tempat-tempat tersebut, kami ke Puncak Lawang yang berada di Kabupaten Agam. Di puncak inilah, Danau Maninjau terlihat begitu cantik dan memesona. Selepas dari Puncak Lawang, kami turun melintasi kelok 44 Maninjau. Dan diperjalanan pulang ke Bukit Tinggi kami sempatkan minum kopi kawa. Kopi khas dari ranah minang. Minuman kopi ini terbuat bukan dari biji kopi tetapi dari daun kopi. Konon waktu jaman Belanda dulu, minuman kopi hanya diperuntukkan untuk kalangan masyarakat atas dan para mener.  Untuk mencari solusi menikmati kopi, para pribumi dan masyarakat bawah berinisatif membuat kopi dari daunnya. Cara penyajiannya juga tidak dengan menggunakan gelas atau cangkir tetapi menggunakan bathok kelapa.
Greatwall bersama Fahmi

Danau Maninjau
Ketika senja tiba, saya memutuskan untuk meninggalkan Bukittinggi dan menuju Kota Payakumbuh. Kedatangan saya di Payakumbuh ternyata sudah ditunggu oleh Adal yang kali ini gentian emnjadi host selama saya berada di sana. Oiya, link untuk nge-host dengan Adal saya peroleh dari Ika, seorang pejalan juga yang saya temui di basecamp PBC. Kebetulan juga hari sebelumnya selama di Payakumbuh, dia nge-host juga dengan Adal. Satu kata untuk host saya ini “Gila”. Bagaimana tidak, dia baru saja pulang ke Kota Asalnya setelah menjelajah bumi nusatntara dengan hanya bermodal 800k! Dan cerita ini bisa dibuktikan dengan dokumentasi yang dia tunjukkan kepada saya.
Hari terakhir di Ranah Minang kali ini saya isi dengan mengunjungi Ngalau Indah yang berada di Kota Payakumbuh dan Lembah Harau serta kelok 9 di Kota Lima Puluh Koto. Khusus Lembah Harau, pemandangan yang ada di sini sangat indah dengan hamparan sawah yang berada di tengah-tengah lembah yang diapit bukit-bukit nan permai. Udara yang begitu sejuk. Hijau.
Lembah Harau
Sesaat setelah tiba ke Kota Padang lagi dari Payakumbuh, saya langsung diantar oleh Riko ke Bandara. Tak lupa Sebelum balik lagi ke Jakarta, saya sempatkan untuk membeli oleh-oleh diantaranya Rendang Telor, Abon, dan keripik balado.




27 Apr 2013

Cerita dari Sawarna

Impian untuk berkunjung ke salah satu desa yang berada di selatan Provinsi Banten ini akhirnya tercapai. Ya, desa ini berwarna Sawarna. Salah satu lokasi yang akhir-akhir mungkin sudah tak awam bagi penikmat  wisata pantai. Tak terkecuali bagi backpacker gembel seperti kami.
Semua berawal dari lawang biru crew yang mengajak #ceger31 berkolaborasi untuk gembel bersama dengan tujuan mengunjungi Pantai Sawarna. Akan tetapi, adanya kesibukan masing-masing anggota membuat kongsi ini terpecah dan akhirnya kami berangkat sendiri-sendiri.
Pertengahan September tahun lalu saya dengan beberapa teman tingkat dua hampir mengadakan touring ke sana. Sayangnya hal itu tidak terealisasi karena banyak pertimbangan. Selain belum matang secara persiapan, perjalanan yang harus ditempuh  untuk sampai di Sawarna dari Bintaro cukup jauh jika harus menggunakan dengan motor. Belum lagi kami tak tau rute.

Jadi begini awal mula ceritanya…

Kamis malam tanggal 11 April tahun 2013 saat sedang makan malam dengan Ian di KFC, telpon genggam saya bergetar. Rupa-rupanya ada sms masuk dari Nopek. Biasanya kalau saya sedang keluar malam seperti ini isi smsnya tak jauh-jauh dari minta tolong nitip makan tapi kali ini lain. Dia mengajak main ke sawarna akhir pekan ini. Dengan perasaan sedikit bimbang dan rayuan tidak ada kegiatan di akhir pekan daripada nganggur di kosan, akhirnya saya menyepakatinya. Seketika itu juga saya langsung mencari itin buat ke sana. Sayangnya, jumlah peserta menjadi kendala mengingat persiapan yang serba mendadak. Gembel tetap saja butuh persiapan. Daripada harus menunda waktu, jadilah hanya kami berlima yang ikut dalam petualangan sedikit gila kali ini. Saya, Nopek, Surya, Ndolo dan Dinto.

Surya, Dinto, Ndolo, Nopek, Aziz, dan Si Gundul Picollo
Jumat pagi kami sudah ready di #ceger31 untuk mengejar kereta yang berangkat ke rangkas bitung. Hal ini kami lakukan untuk mengantisipasi tiba di Bayah sebelum hari gelap. Jadi begini rute yang kami tempuh dari bintaro untuk sampai di sawarna.

Bintaro - Rangkas Bitung - Terminal Mandala – Bayah – Sawarna.

Jam 09.00 pagi kami sudah berada di peron stasiun pondok ranji, kereta ekonomi local dari Tanahabang dengan tarif 1500 perak siap membawa kami ke Rangkas. Lama perjalanan dari Bintaro ke Rangkas memakan waktu selama dua jam. Seperti biasanya, di kereta ekonomi  kami harus berdesakan dengan penumpang dan penjual. Terlebih kami tak mendapat tempat duduk. Dengan hanya 1500 perak, kami memang tak seharusnya berekspektasi lebih. Tempat duduk benar-benar baru bisa memanjakan pantat kami tatkala kami sudah tiba di parung panjang. Rasanya lega sekali setelah lama menunggu para penumpang lain turun. Di stasiun rangkas bitung satu hal baru kami sadari, frame tenda yang kami bawa ternyata ketinggalan. Dan jadilah kami membawa barang yang sia-sia.

Setibanya di stasiun Rangkasbitung

Setibanya di rangkas bitung kami langsung menuju terminal mandala. Transportasi yang digunakan adalah angkot nomor 1 dengan warna merah dan motif bawah warna hitam. Perjalanan di rute ini hanya membutuhkan waktu 15 menit dan tariff 3000 perak per orang. Setibanya di terminal mandala kami baru benar-benar menyiapkan perbekalan. Dan kali ini indomaret lagi-lagi menjadi sponsor di perjalanan kami.
Perjalanan sebenarnya baru dimulai dari terminal mandala. Dengan jarak tempuh lebih dari 120 km, elf yang kami tumpangi siap offroad menuju Bayah. Elf merupakan satu-satunya transportasi umum yang beroperasi dari mandala ke bayah. Jam operasionalnya pun terbatas. Paling sore kalau dari mandala adalah jam 15.00. Jalan utama menuju bayah sangat jelek sekali, banyak aspal yang sudah rusak. Belum lagi kondisi jalan yang penuh lubang dan berliku. Dalam perjalanan yang pernah saya lakukan, belum pernah saya melintasi kabupaten segersang ini. Tidak ada yang menarik sama sekali selama perjalanan menyusuri Kabupaten Lebak ini. Apalagi kondisi di elf sendiri penuh sesak dan gerah. Selama lebih dari 3 jam kami termakan oleh kebosanan.
Setibanya di Bayah kami langsung disambut oleh tukang ojek. Ada 2 kartel tukang ojek di sini, tukang ojek antagonis dan tukang ojek protagonist. Tukang ojek antagonis adalah yang pertama menyambut kedatangan kami, memaksa kami dengan harga 30ribu untuk mengantar sampai ke sawarna dan rela menunggu kami sholat bahkan sampai makan. Karena saya tawar 20ribu gak mau, terpaksa nopek saya suruh cari tukang ojek lain. Dan dapatlah dengan harga 20ribu. Tukang ojek yang satu ini namanya tukang ojek protagonist karena calm, lebih murah, dan gak banyak bacot seperti tukang ojek yang pertama tadi. Akan tetapi masalah justru timbul dari sini, tukang ojek antagonis merasa tidak terima dengan tukang ojek protagonist karena mereka berasumsi tukang ojek protagonist dirasa merusak harga pasaran.  Ujung-ujungnya mereka minta uang palak. Sedikit informasi, dari berbagai catatan backpacker. Tarif ojek yang berlaku di sini sebenarnya berada di kisaran 15ribu. Pada akhirnya, kami menggunakan tukang ojek yang protagonist karena sesuai dengan kepribadian kami.
Jarak Bayah ke Sawarna memakan waktu hampir setengah jam dengan menawarkan panorama hutan dan garis pantai di setiap sisi jalannya. Dan akhirnya, total perjalanan selama 8 jam terbayar lunas ketika kami tiba di desa sawarna.

Pantai Pasir Putih, Sawarna
Memasuki gerbang kawasan pantai, perjalanan kami disambut dengan melintasi jembatan kayu yang cukup ikonik dengan sawarna. Karena tenda yang kami bawa tak ada framenya, kami akhirnya menginap di gazebo. Kebetulan sekali kami dapat kenalan baik dengan pemilik gazebo, namanya pak kumis. Selama dua malam kami menginap di sini. Sebetulnya banyak penginapan yang tidak jauh dari kawasan pantai. Namun, tarif yang ditawarkan sedikit gila. Paling murah 120ribu semalam. Atau kalau sedang bawa banyak teman, menyewa rumah penduduk bisa dijadikan opsi. Rata-rata penduduk mau menyewakan rumahnya di kisaran harga 500ribu.
Malam pertama kami disambut dengan gerimis dan belaian dingin angin darat. Perjalanan  kami yang melelahkan tadi ternyata cukup membuat kami tewas lebih cepat setelah bermain poker dan tentunya diselingi obrolan khas lelaki, kali ini wanita tetap menjadi tokoh utamanya.

Tanjung Layar

Hari kedua di sawarna kami isi dengan tracking bukit dan telusur pantai. Satu hal yang perlu diketahui, sawarna menawarkan tipe pantai yang berkarang dan berpasir lembut. Di sini juga menjadi destinasi favorit bagi peselancar dan fotografer. Dua tempat yang kami kunjungi adalah tanjung layar dan laguna pari yang pasirnya lembut.  Tanjung layar adalah ikon pantai dari sawarna, banyak orang yang mengambil gambar di kawasan ini. Sedangkan laguna pari adalah tempat bagi mereka yang mencari ketenangan. Perjalanan dari tanjung layar ke laguna pari menawarkan keunikan karang yang seolah membentuk benteng  kecil berlapis yang teratur di sepanjang tepi pantai. Laguna pari sendiri diisi oleh beberapa nelayan. Dan penjual kelapa muda. Kelapa muda di sini dijual dengan harga gocap dengan kualitas yang worth it. Jangan heran bila satu buah kelapa saja kami tak habis. Setelah mabok minum air kelapa, kami tertidur pulas di bangku yang berada di tepi pantai ini. Sedikit cerita, di sini kami bertemu dengan komunitas petualang Indonesia. Percumbuan yang dilakukan oleh salah satu pasangan anggotanya cukup menjadi bahan perbincangan kami waktu itu. Sebetulnya kami hendak mengunjungi goa lawa juga hari itu tetapi jarak yang masih jauh memaksa kami untuk kembali ke tanjung layar dan akhirnya menikmati senja dengan bermain ombak di pasir putih, tempat gazebo kami berada.

Karang yang kami lalui dari Tanjung Layar-Laguna Pari
Laguna Pari
Malam kedua kami isi dengan cerita mengenai perjalanan cinta kami masing-masing. Untuk yang satu ini saya tak membahas lebih detail di catatan ini. Everybody wants to hide their secrets away. Di malam ini juga akhirnya kami berkesampaian makan ikan laut bakar. Maklum sesampainya tiba di sini, kami hanya menjejali perut kosong kami dengan mie instan.

Foto bareng dengan keluarga Pak Kumis sebelum pulang

Minggu pagi tiba, saatnya kami bergegas pulang setelah berpamitan dengan pak kumis yang pagi itu memberikan sarapan gratis untuk para gembel macam kami. Perjalanan pulang kali ini sedikit menyimpan cerita berbeda meskipun melalui rute yang sama saat berangkat kemarin. Dari sawarna menuju bayah, kami ikut menumpang pick up. Tentu saja pengalaman ini menjadi sangat berkesan karena kami tak harus naik ojek lagi dan membuat duit lagi. Bayangkan saja, jika kami punya duit pasti kami tidak akan mengalami pengalaman seperti ini.

Di Pickup tumpangan

Sedikit hal yang menguras emosi kami di edisi petualangan kali ini adalah elf “bangsat” yang kami tumpangi sewaktu balik dari bayah ke mandala. Bayangkan saja elf ukuran mini seperti itu dipaksakan oleh kernetnya sampai melebihi kapasitas normal, bahkan sampai ada yang duduk di atap. Kalau boleh dikatakan seperti “ana rego tapi ara ono rupo”, jelas kami emosi karena kami berlima disuruh duduk berdesakan di kursi paling belakang selama 4 jam perjalanan. Kelebihan penumpang ini pula sampai membuat elf tua ini  dua kali berhenti karena bannya pecah. Tarif elf normalnya 30ribu, karena elf kali ini edisi gathel harganya pun jadi lebih mahal gocap dari yang berangkat kemarin. Oiya, elf paling siang dari bayah menuju mandala adalah jam 10.00.
Pukul 14.00 kami akhirnya sudah sampai di rangkas bitung kembali.  Perjalanan yang melelahkan dan penuh cerita ini akhirnya membawa kami tiba di Bintaro sore harinya.