27 Apr 2013

Cerita dari Sawarna

Impian untuk berkunjung ke salah satu desa yang berada di selatan Provinsi Banten ini akhirnya tercapai. Ya, desa ini berwarna Sawarna. Salah satu lokasi yang akhir-akhir mungkin sudah tak awam bagi penikmat  wisata pantai. Tak terkecuali bagi backpacker gembel seperti kami.
Semua berawal dari lawang biru crew yang mengajak #ceger31 berkolaborasi untuk gembel bersama dengan tujuan mengunjungi Pantai Sawarna. Akan tetapi, adanya kesibukan masing-masing anggota membuat kongsi ini terpecah dan akhirnya kami berangkat sendiri-sendiri.
Pertengahan September tahun lalu saya dengan beberapa teman tingkat dua hampir mengadakan touring ke sana. Sayangnya hal itu tidak terealisasi karena banyak pertimbangan. Selain belum matang secara persiapan, perjalanan yang harus ditempuh  untuk sampai di Sawarna dari Bintaro cukup jauh jika harus menggunakan dengan motor. Belum lagi kami tak tau rute.

Jadi begini awal mula ceritanya…

Kamis malam tanggal 11 April tahun 2013 saat sedang makan malam dengan Ian di KFC, telpon genggam saya bergetar. Rupa-rupanya ada sms masuk dari Nopek. Biasanya kalau saya sedang keluar malam seperti ini isi smsnya tak jauh-jauh dari minta tolong nitip makan tapi kali ini lain. Dia mengajak main ke sawarna akhir pekan ini. Dengan perasaan sedikit bimbang dan rayuan tidak ada kegiatan di akhir pekan daripada nganggur di kosan, akhirnya saya menyepakatinya. Seketika itu juga saya langsung mencari itin buat ke sana. Sayangnya, jumlah peserta menjadi kendala mengingat persiapan yang serba mendadak. Gembel tetap saja butuh persiapan. Daripada harus menunda waktu, jadilah hanya kami berlima yang ikut dalam petualangan sedikit gila kali ini. Saya, Nopek, Surya, Ndolo dan Dinto.

Surya, Dinto, Ndolo, Nopek, Aziz, dan Si Gundul Picollo
Jumat pagi kami sudah ready di #ceger31 untuk mengejar kereta yang berangkat ke rangkas bitung. Hal ini kami lakukan untuk mengantisipasi tiba di Bayah sebelum hari gelap. Jadi begini rute yang kami tempuh dari bintaro untuk sampai di sawarna.

Bintaro - Rangkas Bitung - Terminal Mandala – Bayah – Sawarna.

Jam 09.00 pagi kami sudah berada di peron stasiun pondok ranji, kereta ekonomi local dari Tanahabang dengan tarif 1500 perak siap membawa kami ke Rangkas. Lama perjalanan dari Bintaro ke Rangkas memakan waktu selama dua jam. Seperti biasanya, di kereta ekonomi  kami harus berdesakan dengan penumpang dan penjual. Terlebih kami tak mendapat tempat duduk. Dengan hanya 1500 perak, kami memang tak seharusnya berekspektasi lebih. Tempat duduk benar-benar baru bisa memanjakan pantat kami tatkala kami sudah tiba di parung panjang. Rasanya lega sekali setelah lama menunggu para penumpang lain turun. Di stasiun rangkas bitung satu hal baru kami sadari, frame tenda yang kami bawa ternyata ketinggalan. Dan jadilah kami membawa barang yang sia-sia.

Setibanya di stasiun Rangkasbitung

Setibanya di rangkas bitung kami langsung menuju terminal mandala. Transportasi yang digunakan adalah angkot nomor 1 dengan warna merah dan motif bawah warna hitam. Perjalanan di rute ini hanya membutuhkan waktu 15 menit dan tariff 3000 perak per orang. Setibanya di terminal mandala kami baru benar-benar menyiapkan perbekalan. Dan kali ini indomaret lagi-lagi menjadi sponsor di perjalanan kami.
Perjalanan sebenarnya baru dimulai dari terminal mandala. Dengan jarak tempuh lebih dari 120 km, elf yang kami tumpangi siap offroad menuju Bayah. Elf merupakan satu-satunya transportasi umum yang beroperasi dari mandala ke bayah. Jam operasionalnya pun terbatas. Paling sore kalau dari mandala adalah jam 15.00. Jalan utama menuju bayah sangat jelek sekali, banyak aspal yang sudah rusak. Belum lagi kondisi jalan yang penuh lubang dan berliku. Dalam perjalanan yang pernah saya lakukan, belum pernah saya melintasi kabupaten segersang ini. Tidak ada yang menarik sama sekali selama perjalanan menyusuri Kabupaten Lebak ini. Apalagi kondisi di elf sendiri penuh sesak dan gerah. Selama lebih dari 3 jam kami termakan oleh kebosanan.
Setibanya di Bayah kami langsung disambut oleh tukang ojek. Ada 2 kartel tukang ojek di sini, tukang ojek antagonis dan tukang ojek protagonist. Tukang ojek antagonis adalah yang pertama menyambut kedatangan kami, memaksa kami dengan harga 30ribu untuk mengantar sampai ke sawarna dan rela menunggu kami sholat bahkan sampai makan. Karena saya tawar 20ribu gak mau, terpaksa nopek saya suruh cari tukang ojek lain. Dan dapatlah dengan harga 20ribu. Tukang ojek yang satu ini namanya tukang ojek protagonist karena calm, lebih murah, dan gak banyak bacot seperti tukang ojek yang pertama tadi. Akan tetapi masalah justru timbul dari sini, tukang ojek antagonis merasa tidak terima dengan tukang ojek protagonist karena mereka berasumsi tukang ojek protagonist dirasa merusak harga pasaran.  Ujung-ujungnya mereka minta uang palak. Sedikit informasi, dari berbagai catatan backpacker. Tarif ojek yang berlaku di sini sebenarnya berada di kisaran 15ribu. Pada akhirnya, kami menggunakan tukang ojek yang protagonist karena sesuai dengan kepribadian kami.
Jarak Bayah ke Sawarna memakan waktu hampir setengah jam dengan menawarkan panorama hutan dan garis pantai di setiap sisi jalannya. Dan akhirnya, total perjalanan selama 8 jam terbayar lunas ketika kami tiba di desa sawarna.

Pantai Pasir Putih, Sawarna
Memasuki gerbang kawasan pantai, perjalanan kami disambut dengan melintasi jembatan kayu yang cukup ikonik dengan sawarna. Karena tenda yang kami bawa tak ada framenya, kami akhirnya menginap di gazebo. Kebetulan sekali kami dapat kenalan baik dengan pemilik gazebo, namanya pak kumis. Selama dua malam kami menginap di sini. Sebetulnya banyak penginapan yang tidak jauh dari kawasan pantai. Namun, tarif yang ditawarkan sedikit gila. Paling murah 120ribu semalam. Atau kalau sedang bawa banyak teman, menyewa rumah penduduk bisa dijadikan opsi. Rata-rata penduduk mau menyewakan rumahnya di kisaran harga 500ribu.
Malam pertama kami disambut dengan gerimis dan belaian dingin angin darat. Perjalanan  kami yang melelahkan tadi ternyata cukup membuat kami tewas lebih cepat setelah bermain poker dan tentunya diselingi obrolan khas lelaki, kali ini wanita tetap menjadi tokoh utamanya.

Tanjung Layar

Hari kedua di sawarna kami isi dengan tracking bukit dan telusur pantai. Satu hal yang perlu diketahui, sawarna menawarkan tipe pantai yang berkarang dan berpasir lembut. Di sini juga menjadi destinasi favorit bagi peselancar dan fotografer. Dua tempat yang kami kunjungi adalah tanjung layar dan laguna pari yang pasirnya lembut.  Tanjung layar adalah ikon pantai dari sawarna, banyak orang yang mengambil gambar di kawasan ini. Sedangkan laguna pari adalah tempat bagi mereka yang mencari ketenangan. Perjalanan dari tanjung layar ke laguna pari menawarkan keunikan karang yang seolah membentuk benteng  kecil berlapis yang teratur di sepanjang tepi pantai. Laguna pari sendiri diisi oleh beberapa nelayan. Dan penjual kelapa muda. Kelapa muda di sini dijual dengan harga gocap dengan kualitas yang worth it. Jangan heran bila satu buah kelapa saja kami tak habis. Setelah mabok minum air kelapa, kami tertidur pulas di bangku yang berada di tepi pantai ini. Sedikit cerita, di sini kami bertemu dengan komunitas petualang Indonesia. Percumbuan yang dilakukan oleh salah satu pasangan anggotanya cukup menjadi bahan perbincangan kami waktu itu. Sebetulnya kami hendak mengunjungi goa lawa juga hari itu tetapi jarak yang masih jauh memaksa kami untuk kembali ke tanjung layar dan akhirnya menikmati senja dengan bermain ombak di pasir putih, tempat gazebo kami berada.

Karang yang kami lalui dari Tanjung Layar-Laguna Pari
Laguna Pari
Malam kedua kami isi dengan cerita mengenai perjalanan cinta kami masing-masing. Untuk yang satu ini saya tak membahas lebih detail di catatan ini. Everybody wants to hide their secrets away. Di malam ini juga akhirnya kami berkesampaian makan ikan laut bakar. Maklum sesampainya tiba di sini, kami hanya menjejali perut kosong kami dengan mie instan.

Foto bareng dengan keluarga Pak Kumis sebelum pulang

Minggu pagi tiba, saatnya kami bergegas pulang setelah berpamitan dengan pak kumis yang pagi itu memberikan sarapan gratis untuk para gembel macam kami. Perjalanan pulang kali ini sedikit menyimpan cerita berbeda meskipun melalui rute yang sama saat berangkat kemarin. Dari sawarna menuju bayah, kami ikut menumpang pick up. Tentu saja pengalaman ini menjadi sangat berkesan karena kami tak harus naik ojek lagi dan membuat duit lagi. Bayangkan saja, jika kami punya duit pasti kami tidak akan mengalami pengalaman seperti ini.

Di Pickup tumpangan

Sedikit hal yang menguras emosi kami di edisi petualangan kali ini adalah elf “bangsat” yang kami tumpangi sewaktu balik dari bayah ke mandala. Bayangkan saja elf ukuran mini seperti itu dipaksakan oleh kernetnya sampai melebihi kapasitas normal, bahkan sampai ada yang duduk di atap. Kalau boleh dikatakan seperti “ana rego tapi ara ono rupo”, jelas kami emosi karena kami berlima disuruh duduk berdesakan di kursi paling belakang selama 4 jam perjalanan. Kelebihan penumpang ini pula sampai membuat elf tua ini  dua kali berhenti karena bannya pecah. Tarif elf normalnya 30ribu, karena elf kali ini edisi gathel harganya pun jadi lebih mahal gocap dari yang berangkat kemarin. Oiya, elf paling siang dari bayah menuju mandala adalah jam 10.00.
Pukul 14.00 kami akhirnya sudah sampai di rangkas bitung kembali.  Perjalanan yang melelahkan dan penuh cerita ini akhirnya membawa kami tiba di Bintaro sore harinya.



6 Des 2012

Motherhood, Me & My Mom


every moment without you
seems like eternity
i’m begging you begging you come back to me
hard to say goodbye
i can’t smile with you anymore
i want to know
where did we lose our way?

winter breeze hurts gently my heart
i know i don’t need to be alone
can we go back to the precious days
when our love was strong?
can you tell me how
and when perfect love goes wrong
somebody tell me how you get things back

everytime i was holding you,
seems like eternity
i’m asking you asking you come back to me
hard to say goodbye
but i will take sweet memories
i want to show
everything i’ve got from you

someday sun will shine
and i will walk by myself
cuz i’m able to feel you
even though i’m away from you
tears are not in vain when i cry
if you’re smiling somewhere
i realized some parts
of your tenderness
every moment breathe at you
seems like eternity
i’m begging you begging you come back to me
hard to say goodbye
i can’t smile with you anymore
i want to know
where did we lose our way?


29 Nov 2012

Ifarra

Engkau adalah teka-teki yang ku cari
Misteri tersembunyi yang ingin ku selami,
di mana di depan sana aku berdiri setia menanti


12 Sep 2012

Legend Of Kampes


Cak Dikin boleh saja menyebut tali kotang sebagai saksi cintanya yang suci. Akan tetapi, kami punya kampes sebagai tanda persahabatan yang abadi.

                Beginilah ceritanya:

September 2010.
Hujan mengguyur Merbabu. Waktu itu, Aku, Rudy, Riris, Ramdhan, Pongo dan Basuki sedang melakukan pendakian. Jarang sekali kami bisa berkumpul bersama semenjak lulus SMA. Maklum, kami berada di kota yang terpisah satu sama lain untuk melanjutkan study masing-masing. Rudy, Ramdhan, dan Basuki ada di Surabaya. Riris di Malang. Pongo yang memang tipe kurang suka tantangan tetap di Solo. Sedangkan aku ditakdirkan di Bandung. Untuk mengisi kegiatan libur lebaran edisi tahunan kali ini akhirnya kami memutuskan untuk mendaki Merbabu.
Hujan deras sudah mengguyur kami semenjak tiba di base camp. Ramdhan yang waktu itu menjadi pendaki newbie tak disangka ternyata membawa bekal pakaian yang cukup komplit termasuk baju, jaket, dan kampes serep untuk mengantisipasi keadaan cuaca. Betul ternyata, kampes serepnya Ramdhan ternyata berguna juga karena cuaca memang tidak bersahabat. Riris yang waktu itu kurang antisipasi akhirnya mau tak mau harus meminjam kampesnya Ramdhan karena kampes yang dia bawa basah semua. Ramdhan sendiri baru membeli kampes itu untuk dipakai di Merbabu dan belum sempat memakainya.  Sampai kami turun, kampes itu tetap melekat di selangkangnya Riris bahkan terbawa sampai ke Kota Malang.

Desember 2010.
                Libur Natal mengantarku ke Kota Malang. Agenda kali ini adalah mengunjungi Pulau Sempu. Aku berangkat dari Solo bersama Aryo dan Panji. Untuk mensukseskan misi ini, tentu saja aku mengajak Riris karena aku tau dia bisa dimanfaatkan. Apalagi dia masih di Malang meskipun telah menyelesaikan kuliah D1 nya. Cerita tentang kisah petualangan ke P. Sempu bisa dibaca di postingan lamaku. Yang menjadi masalah dalam edisi “mbolang” kali ini adalah aku tak mau membawa sisa pakain kotorku. Maka aku titipkan saja pada Riris biar diloundrykan dan membawanya ke Solo kalau dia balik nantinya biar bisa ku ambil. Aku sendiri akhirnya meminjam pakaian dan bahkan kampesnya untuk ku kenakan dalam perjalanan menuju pulang. Uniknya, kampes yang ia pinjamkan adalah kampes yang dulu ia pernah pinjam dari Ramdhan sewaktu di Merbabu. Jadilah ini menjadi sebuah lingkaran setan. Kampes itu berwarna biru. Sampai saat ini, kampes itu sudah tidak ku kenakan dan ku museumkan di lemari rumah.

Oktober 2011.
                Riris yang sudah penempatan di Batam akhirnya main dan menginap di kosku. Kebetulan saat itu ia baru saja mengikuti diklat prajab di Depok. Beberapa hari menginap di kosku ternyata membuat persediaan kampesnya habis. Dia tak sempat mencucinya. Membeli barupun enggan. Ternyata sebagai bentuk dendam, dia menyuruhku untuk meloundry dan meminjamkan kampesku kepadanya seperti halnya yang pernah dia lakukan kepadaku sewaktu di Malang dulu. Karena merasa kasihan meihatnya merengek-rengek terus, akhirnya ku pinjamkan juga kampesku.

Begitulah cerita tentang persahabatan kami yang senantiasa dihiasi oleh tragedi kampes. Maaf saja kalau postingan kali ini tak disertai gambar karena sungguh saru dan memalukan jika harus dicantumkan.  Berharap pembaca bisa menggunakan imajinasinya sendiri untuk meresapi cerita di atas. Hehehe

6 Agu 2012

Railbus Batara Kresna



Hari minggu, 5 Agustus 2012, railbus Batara Kresna akhirnya untuk pertama kalinya resmi beroperasi. Saya sendiri berksempatan menjajal ikon transportasi terbaru kota solo ini sehari setelahnya. Kali ini saya sengaja menggunakan rute Sukoharjo-Solo yang letak stasiunnya tak jauh dari rumah. Selain melayani rute Solo-Sukoharjo, railbus ini juga melayani trayek Solo-Jogjakarta.


Waktu parkir di stasiun

              Rencana untuk mencoba railbus ini memang sudah saya rencanakan malam sebelumnya. Saya tidak tau kenapa alat transportasi ini dinamakan railbus, karena menurut saya transportasi ini sama saja dengan kereta api pada umunya. Bentuk luarnya saja yang lebih modernis jika dilihat lokomotifnya. Gerbongnya sendiri tak kalah semarak dengan motif yang sedikit norak. Mungkin alasan politis tertentu terutama terkait strategi menggaet wisatawan sehingga transportasi ini dinamakan railbus.
             Dari stasiun Sukoharjo, railbus berangkat pukul  07.45 tepat (no ngaret!). Untunglah saya yang baru bangun pukul 07.30 segera bergegas pergi ke stasiun dan sempat membeli tiket sesaat sebelum railbus berangkat.  Sedikit nostalgia dengan stasiun kecil yang berada di kota Sukoharjo ini. Dulu sewaktu masih kecil, Alm. Ibuku sering mengajakku ke Wonogiri naik kereta dari stasiun ini. Sudah lama rasanya memang saya tak naik kereta dari stasiun ini. Saya masih ingat terakhir kali naik kereta dari sini adalah sewaktu tadabur alam dengan teman-teman TPA masjidku, Juli 2000. Dulu sewaktu saya masih kecil kereta jurusan Sukoharjo-Wonogiri cukup terkenal dan sering dipakai sebagai sarana transportasi utama bersaing dengan bus. Saya masih ingat kereta itu bergambar punokawan sehingga namanya pun “sepur punokawan”. Model warnanya biru dengan penampilan terbuka tanpa kaca smaping layaknya sepur kelinci yang sering dipakai oleh anak-anak.  Entah kenapa, dalam perjalanan saya menuju dewasa, kereta ini sudah lama sekali tidak terlihat.


interior railbus batara kresna

              Di dalam railbus batara kresna ini, saya sedikit mengamati interior dan mengajak berbincang dengan petugas pengecekan tiket. Kebetulan penumpang yang naik dari stasiun Sukoharjo ini hanya segelintir orang. Saya sendiri berada di gerbong II yang hanya diisi oleh 2 orang penumpang saja. Railbus ini membawa 3 gerbong. Interior railbus ini tak jauh berbeda bahkan bisa dikatakan sama dengan KA Madiun Jaya yang pernah saya tumpangi. Menurut petugas KAI yang saya tanyai tadi  sebenarnya railbus ini akan beroperasi sampai Wonogiri. Akan tetapi, kondisi trek yang masih belum memungkinkan menyebabkan railbus ini hanya beroperasi sampai di Sukoharjo saja. Memang dalam beberapa tahun terakhir ini PT. KAI sudah memperbaiki lintasan yang menuju Wonogiri tetapi tetap saja kondisi trek memang belum layak diperuntukkan bagi railbus ini. Dari Sukoharjo-Solo saja, railbus ini paling banter kecepatannya hanya 30 KM/Jam. Hal ini bisa diamati di papan digital tiap gerbong yang juga menampilkan stasiun berikut yang dituju serta waktu yang menunjukkan sekarang. Hal yang sedikit membuat saya merasa spesial tentu saja adalah railbus ini menjadi pusat perhatian bagi siapa saja yang melihat sepanjang perjalanan Sukoharjo-Solo yang memakan waktu selama 60 menit, terlebih saat railbus ini melintas di sepanjang Jalan Slamet Riyadi.

papan digital

            Ada yang membuat saya sedikit bertanya-tanya sepanjang perjalanan. Railbus ini mungkin mungkin menjadi sebuah prestasi dan kebanggaan warga Solo dan sekitarnya karena menjadi alternative transportasi umum selain bus. Di lain sisi saya juga bertanya apakah railbus ini mampu bertahan untuk beberapa tahun ke depan. Kalau dilihat dari peruntukkan komersil pariwisata, railbus ini terbilang punya beberapa kelemahan.
Hal pertama tentu berkaitan dengan potensi pariwisata itu sendiri. Kota di sekitar Solo harus saya akui tidak mempunyai potensi wisata yang bisa diandalkan (dalam konteks ini adalah Sukoharjo). Saya tak perlu bercerita panjang lebar soal ini. Untuk Wonogiri potensinya memang sedikit di atas Sukoharjo  seandainya nanti jadi dibuka jalur railbus ke sana. Hal ini tak berlaku untuk Jogja yang memang punya potensi wisata.
Masalah yang kedua adalah masalah waktu. Untuk orang yang menghargai waktu, railbus bukanlah solusi tepat untuk perjalanan Solo-Sukoharjo-Wonogiri. Terkecuali untuk Solo-Jogja karena kondisi lintasan memang sudah bagus dan menjadi salah satu jalur utama kereta api di Pulau Jawa. Waktu tempuh untuk Solo-Sukoharjo dipastikan akan lebih lama dibandingkan dengan naik bus AKDP apabila kecepatan railbus masih begini-begini saja.
Masalah ketiga adalah tarif. Tarif yang diberlakukan untuk railbus ini terbilang  cukup mahal, untuk jurusan Sukoharjo-Solo saja sebesar Rp 10.000,- bandingkan dengan apabila naik bus yang hanya sekitar Rp 3.000,- sampai RP 4.000,-. Bagitupun untuk jurusan Solo-Jogja yang dibanderol Rp 20.000,- ini jauh lebih mahal 2x lipatnya dari KA Prameks dan Madiun Jaya yang beroperasi pada jalur yang sama.
Terlepas dari berbagai macam persoalan di atas, rail bus ini memang layak untuk dicoba bagi masyarakat penghobi perjalanan khususnya yang masih penasaran dengan ikon baru transportasi Kota Solo ini. Terlebih railbus ini menambah keberagaman transportasi Kota Solo setelah sebelumnya muncul bus tingkat Werkudara dan Batik Solo Trans yang muncul jauh-jauh sebelumnya.  Hanya berharap semoga PT. KAI mampu meningkatkan kinerja dan pelayanannya sehingga railbus ini bisa tetap eksis dan dipercaya sebagai transportasi umum utama penunjang mobilitas masyarakat, khususnya turis.


Berkitu Jadwal Railbus Batara Kresna (sementara) :

- Dari Solo Balapan - Stasiun Purwosari pukul 06.00
- Dari Stasiun Purwosari - Stasiun Sukoharjo pukul 06.05
- Dari Stasiun Sukoharjo - Stasiun Purwosari 
pukul 07.45
- Dari Stasiun Purwosari - Stasiun Tugu Yogyakarta pukul 09.00
- Dari Stasiun Tugu Yogyakarta - Stasiun Purwosari pukul 14.15
- Dari Stasiun Purwosari - Stasiun Sukoharjo pukul 15.18
- Dari Stasiun Sukoharjo - Stasiun Purwosari pukul 16.44

Untuk sementara belum sampai ke Wonogiri, menunggu perbaikan fasilitas penunjang yang belum selesai ..

Untuk sementara railbus yang terdiri dari 3 gerbong baru melayani rute Solo-Sukoharjo dua kali dalam sehari dan rute Solo-Yogyakarta sekali sehari. Pekan depan, masing-masing menjadi dua kali sehari.


Tarif Railbus AC :
- Solo - Sukoharjo : Rp 10.000
- Solo - Jogja : Rp 20.000
- Sukoharjo - Jogja : Rp 30.000

Tiket bisa didapat di masing-masing stasiun.

Railbus hanya berhenti di Stasiun Balapan, Stasiun Purwosari, Stasiun Sukoharjo, Stasiun Maguwo, Stasiun Lempuyangan, dan Stasiun Tugu.
 .