9 Okt 2011

Pendakian Gunung Slamet



Prologue
Lagu Leaving on Jet Plane milik John Denver terdengar lirih dari balik ponselku yang sedikit memecah kesenyapan malam itu. Sementara kami masih berada dalam mobil angkutan yang melaju menembus kabut tebal sepanjang perjalanan Serayu ke Bambangan. Kabut tebal ini membuat saya kagum sekaligus sedikit khawatir. Belum pernah saya melihat kabut setebal ini, bahkan apa yang ada pada jarak 1 meter di depan sama sekali tak terlihat. Semuanya serba putih oleh titik air yang terdispersi oleh cahaya. Saya juga sedikit menyimpan rasa heran pada sopir mobil angkutan ini yang tetap mampu menggunakan instingnya melewati jalan pegunungan yang berkelok-kelok. Hampir 12 jam kami menempuh perjalanan dari Solo. Dan ini adalah transportasi terakhir yang kami naiki untuk sampai ke Bambangan, desa terakhir di kaki Gunung Slamet.
                Semua bermula dari sedikit niatan iseng saya yang menjadi pengangguran selama musim liburan kali ini untuk mengajak beberapa teman mendaki ke Slamet. Dari belasan orang yang saya ajak, akhirnya hanya lima orang  yang ikut dalam misi petualangan menaklukkan gunung tertinggi kedua di ranah jawa ini: Rudy, Bernard, David dan Yoga, termasuk saya.
                Senin pagi (5/11), kami berkumpul di Terminal Tirtonadi. Rencana awal kami ingin menaiki bus yang  langsung menuju Purwokerto. Namun, bis yang sedianya kami harapkan ternyata sudah berangkat. Alhasil, kami terlebih dahulu harus ke Terminal Giwangan, Jogjakarta, untuk mencari bus jurusan Purwokerto.

Kumpul di Terminal Tirtonadi, Solo

                Setibanya di Terminal Purwokerto, kami berjumpa dengan tiga pendaki dari Tasikmalaya yang baru saja turun. Dari mereka, saya sedikit mengorek informasi tentang kondisi dan situasi paling “gress” Gunung Slamet. Keharusan memakai ranger (porter) dan kondisi medan menjadi topic percakapan kami sembari beristirahat untuk shalat maghrib. Sebagai kenangan, mereka memberikan 2 dirigen air untuk kami.
                Di terminal ini, kami meneruskan perjalanan menuju Bobotsari dengan microbus dan  turun di pertigaan Serayu. Setibanya di Serayu, kami langsung disambut oleh sopir angkot yang menawarkan jasa untuk mengantarkan kami ke Bambangan. Sebagai kawasan kota terakhir, di sini kami melengkapi perbekalan dan menikmati makan malam dengan dua porsi sate kambing untuk lima orang.
                Kondisi malam di Bambangan sebenarnya tak terlalu dingin tapi kabut amat tebal. Kami yang berencana untuk mendaki pagi hari terlebih dahulu memutuskan untuk mendirikan tenda di Pondok Pemuda dan bermalam di sini. Hal ini kami lakukan karena basecamp sudah tutup karena hari sudah larut malam.
                Selasa (6/11) Pagi hari ketika akan shalat subuh di masjid yang notabene berada di bawah Pondok Pemuda, saya dan Bernard berpapasan dengan tiga pendaki dari Surabaya yang baru saja tiba di Bambangan. Merekalah yang akhirnya menemani petualangan kami.
                Setelah repacking, sarapan, dan membereskan administrasi, kami berdelapan mulai mendaki ditemani oleh seorang porter, Pak Kamen (Nama Samaran).

Merapi dari Pos Bambangan

Problematique
                Beberapa Elang Jawa terlihat terbang, mengalihkan kekaguman kami ketika melintasi ladang perhutani yang sangat terik, kering, dan berdebu. Ya… setelah lebih dari satu jam melewati perkebunan warga sejak pukul 09.00 pagi tadi, kami mengambil break sejenak sambil bercerita tentang pengalaman mendaki kami dengan tiga orang Surabaya tadi.
                Sinar matahari memancar langsung tanpa halangan membakar kulit kami. Vegetasi pepohonan di perhutani tak begitu rapat. Bahkan, akhir-akhir ini kebakaran sering terjadi akibat kondisi yang kering dan berdebu. Sementara itu hujan sudah tak turun selama berbulan-bulan. Di depan, Pos I sudah mulai terlihat tetapi masih menyisakan satu jam lagi untuk bisa sampai di sana. Ini diperparah dengan medan yang terus menanjak sejak keluar dari area perkebunan warga tadi.
                Setelah menapaki jalan selama hampir 2 jam, kami tiba di Pos I. Di sini, kami mengambil break agak lama sambil makan jeruk dan menjemur pakaian kami yang basah oleh keringat. Shelter yang ada di pos ini cukup besar  dan cocok untuk digunakan dalam beristirahat di siang hari. Pemandangan Kota Purbalingga mulai bisa terlihat dari sini. Dari Pos I, kami berpisah dengan tiga pendaki dari Surabaya tadi.
                Pada awal perjalanan menuju Pos II, Pondok Lawang, Yoga mengalami keram. Maklum ini pendakian pertamanya. Syukur Alhamdulillah yah, dia masih bisa melanjutkan perjalanan. Selepas dari Pos I, vegetasi pepohonan mulai agak rapat karena sudah memasuki area hutan gunung. Meskipun demikian, medan pendakian tetap terasa berat karena tracknya terus menanjak. Ketidaktersediaan air membuat kami mau tak mau harus menghemat air. Alhasil, sepanjang perjalanan kami hanya melepaskan dahaga dengan makan jeruk. Lebih dari 1 jam berjalan, kami tiba juga di Pos II.
                Perjalanan yang masih panjang membuat kami harus beranjak segera dari Pondok Walang. Kondisi medan menuju pos III lebih panjang. Saya, David, dan Rudy leading di depan terpisah jauh dengan Yoga dan Bernard yang ada di belakang karena cedera. Bahkan, Kami sempat menunggu cukup lama di Pos III, Pondok Cemara. Di sini juga lah kami berdelapan akhirnya bersama lagi.
                Perjalanan berlanjut ke Pos IV, Pondok Samaranthu. Sama seperti kondisi medan sebelumnya, tak ada diskon yang menyapa kami. Kali ini perjalanan terasa lebih cepat karena tak ada 1 jam selepas dari Pondok Cemara tadi. Stok nutrisari yang setia menemani pelepas dahaga kami habis di pos ini. Keinginan untuk sampai di Pos VII sebelum petang membuat kami bergegas kembali, mengingat waktu sudah menunjukkan hampir ashar.
                Di Pos V, Samyang Rangkah, terdapat sebuah shelter, Kami break cukup lama di sini karena harus sholat. Pendaki dari Surabaya dan Pak Kamen memutuskan untuk meninggalkan kami. Pemandangan Kota Purwokerto dan Purbalingga semakin terlihat jelas dari sini. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami akhirnya sepakat memutuskan untuk mengecamp di Pos VII dan melanjutkan ke puncak keesokkan harinya. Tak ingin terlena, kami segera mengejar waktu untuk bisa sampai di Pos VII sebelum petang.
                Pos VI berada setengah jam dari pos V. Namun, kami tak berhenti dan terus melanjutkan perjalanan. Saya dan David leading di depan. Keletihan David mulai menampakkan hasil. Sepanjang perjalanan menuju Pos VII, dia sering meminta break. Saya sendiri yang tak ingin kehilangan waktu terus memaksa dan menyemangatinya untuk bergegas karena sudah hampir jam 06.00 sore. Dia meminta untuk berganti ransel. Saya menyerahkan carier saya yang lebih berat ditukar dengan daypack yang ia bawa. Tak lama setelah itu, kami tiba juga di Pos VII.
                Pemandangan di sekitar pos VII tak jauh beda dari yang ada di pos V tadi. Bedanya, kali ini tempatnya lebih tinggi. Di sini juga terdapat shelter untuk bermalam. Setelah ini masih ada Pos Pelawangan, sebelum tiba di puncak. Pos ini bernama Samyang Kendhit. Ada sebuah kesia-siaan yang dilakukan Rudy di sini. Dome yang ia bawa serasa tak berguna karena memang kami tak memerlukannya. Shelter di sini cukup tertutup untuk bisa menahan angin karena dilengkapi dengan pintu. Kami tidur di atas dipan kayu yang muat untuk 6 orang. Sedangkan Kawan kami yang berasal dari Surabaya tidur di bawah dipan kami dengan mendirikan tenda, termasuk Pak Kamen yang berada di dalamnya.
                Setelah membersihkan dan merapikan tempat untuk beristirahat, mulailah kami memasak. Sedikit hal yang kami sesali di sini adalah kecerobohan dan keborosan kami dalam menggunakan air untuk membuat mie dan minuman hangat, entah itu kopi, susu, ataupun teh. Penggunaan air untuk hal-hal tersebut baru menjadi kendala ketika pagi buta kami tersadar bahwa air yang kami miliki tinggal dua botol untuk summit attack dan perjalanan turun. Hal ini karena kami memakainya untuk menanak nasi. Belum lagi saya juga sempat membuat bandrek untuk menghangatkan badan serta antisipasi masuk angin karena malamnya saya tak bisa tidur dan berkali-kali hampir muntah.
                Rabu (7/11) Pagi pukul 04.00 kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Kali ini Yoga tak bisa melanjutkan perjalanan. Pendaki dari Surabaya sudah berangkat mendahului kami . Yoga ditemani Pak Kamen di Pos VII.
Pos VII, Samyang Kendhit. Bernard dan Pak kamen

                Hampir 1 jam  kami berjalan, tibalah kami di Pelawangan. Dari Pos VII tadi, kami memang hanya membawa daypack yang berisi makanan kecil dan minuman karena selepas Pelawangan jalan akan sangat menanjak. Seperti halnya dengan gunung vulkanik lain yang masih aktif, kondisi medan dipenuhi oleh pasir dan kerikil yang sangat licin dan berbahaya. Di sini sunrise terlihat, kami memanfaatkan momentum ini untuk mengambil gambar.
Setelah lebih dari 1 jam bergulat dengan medan yang penuh batu, pasir dan kerikil, tibalah kami di puncak Slamet, 3432m.

Foto sesaat tiba di puncak G. Slamet, 3432 mdpl

                Matahari bersinar terang di puncak. Angin di sini bertiup cukup kencang dan dingin. Awan yang mengelilingi kami seolah-olah berbentuk seperti kapas. Gunung Sindoro, Sumbing, dan Ciremai gagah berdiri di hadapan kami. Di bawah kami, letupan asap dari kawah menggoda kami untuk mengunjunginya. Saya, David dan Rudy memutuskan untuk berkunjung ke kawah setelah turun melewati bebatuan terjal dan lautan pasir. Sementara itu Bernard memutuskan untuk kembali ke Pos VII.
                Tak lama kami di kawah karena Pak Kamen yang menyusul ke puncak telah menunggu. Selepas naik dari kawah, kami memutuskan untuk kembali ke Pos VII. Sebelum turun, tak lupa kami mengabadikan kenangan di puncak ini untuk yang terakhir kali.
                Sekembalinya di Pos VII, kami memasak nasi goreng dengan nasi yang telah dibuat tadi dan bumbu racik yang telah saya siapkan. Tak lama setelah sarapan, kami packing dan memutuskan untuk turun karena air yang tersisa tinggal setengah botol dan itu untuk bekal berlima. Pak Kamen dan pendaki Surabaya telah turun mendahului kami. Rasa-rasanya tak mungkin berharap untuk mengemis air dari mereka.

           Rudy, David berada yang terdepan untuk turun, saya menguntit di belakangnya, disusul oleh Yoga dan Bernard. Sengaja kami memang mengambil gap untuk menghindari debu.

Foto bersama sebelum turun

                Perjalanan turun terasa lebih cepat karena kami berlari. Dalam perjalanan turun ke  Pos IV, Rudy mulai kewalahan karena beban berat (dome) yang dibawanya. Saya dan David memutuskan untuk meninggalkan Rudy dengan konsekuensi tak membawa air. Kami berdua turun dengan gesit bagaikan ular hingga akhirnya tiba di Pos I. Di sini saya bertemu dengan Pak Kamen dan pendaki dari Surabaya tadi. Tak tahan akibat haus, kami berdua memutuskan untuk turun lebih dulu. Kami akhirnya sampai di base camp pukul 02.00 setelah menempuh perjalanan 3 jam lebih dari pos VII tadi. Di sini kami langsung membeli air untuk melepas dahaga yang mencekik, tak lupa pula minum kuku bima biar Roso…!

Epilogue
                Setelah ditunggu hampir 1 jam, tiga teman kami belum juga turun. Sembari membersihkan tubuh yang penuh dengan debu, saya putuskan memasak sarden dan air untuk mengisi perut dan menghabiskan bekal yang masih tersisa. Sesaat kemudian, Yoga dan Bernard datang. Kami benar-benar dirundung gelisah ketika waktu menunjukkan pukul 04.00.  Rudy yang dinanti tidak kunjung turun, bermacam prasangka menggelayuti kepala kami. Gap yang lebih dari 2 jam adalah sebuah keanehan mengingat Rudy sebenarnya merupakan pendaki yang cukup gesit. Pikiranku jelas melayang jika dia mungkin dehidrasi mengingat air dibawa oleh Yoga. Mungkin juga dia jatuh terpleset, tersesat, atau diserang Negara Api.
Karena angkot yang mengantar kami dari Serayu kemarin telah datang dan siap untuk menjemput kami, David akhirnya memutuskan untuk kembali mencari. Dan dengan bekal peta yang ia pinjam dari Dora the explorer, David akhirnya menemukannya di perkebunan warga. Rudy ternyata kesleo dan berjalan lambat bagai siput dengan menggunakan tongkat.
                Yah, memang inilah mendaki gunung. Ibarat sebuah perziarahan, kita melangkahkan kaki untuk mencapai tujuan. Dari sini kita bisa merefleksikan diri bagaimana perjalanan hidup ini yang sebenarnya, ada susah, senang, terjal, berliku bahkan terjatuh.
                Oleh sopir angkutan tadi, Pak Aang (Nama samaran), kami serombongan bersama dengan pendaki Surabaya dan pendaki dari Bekasi di antarkan sampai ke Terminal Purwokerto yang berjarak hampir 3 jam karena sempat mampir dulu di stasiun. Meskipun lelah, kami sempat juga membicarakan segala hal termasuk tentang kota ini, Purbalingga-Purwokerto, disertai canda dan logat bahasa Jawa ngapak khas Banyumasan.
                Dari terminal, kami langsung menuju Jogjakarta dengan menggunakan bus patas AC. Lewat tengah malam kami tiba di Giwangan kembali setelah menempuh 3 jam perjalanan. Kami tertahan cukup lama di Giwangan untuk makan malam dan bercerita soal pendakian kali ini.
                Pukul 04.00 kami pulang ke Solo via SK. Secara kebetulan, kami bertemu lagi dengan pendaki yang berasal dari Surabaya tadi, baru diketahui bahawa nama ketiga pendaki tadi adalah Yuko, Saka dan Katara.

Rincian Perjalanan
Pergi:
-          Solo-Jogja
2 jam, 15ribu. Tarif lebaran, jalan masih macet
-          Makan siang
angkringan belakang terminal
5ribu
-          Jogja-Purwokerto
6jam, Bus Ekonomi, 40ribu.
-          Purwokerto-Bobotsari (Turun di pertigaan Serayu)
1,5 jam , 20ribu, Mikrobus
-          Makam malam
Sate kambing 2 porsi untuk 5 orang, 40ribu
-          Serayu-Bambangan
Sewa angkot 90ribu

Pulang:
-          Bambangan-Purwokerto
3 jam, Sewa angkot per orang 30ribu
-          Purwokerto-Jogja
3 jam, 50ribu, Chitra-Adi AC patas
-          Makan Malam-Pagi
10ribu, angkringan belakang terminal
-          Jogja-Solo
1jam, 8ribu, Sumber Kencono




Beberapa Foto




Beberapa koleksi Sunrise di G. Slamet yang tertangkap kamera kami




Panorama di sekitar puncak

David Gilang

Me

Tugu Puncak G. Slamet

Bernard



Panorama di sekitar kawah


Kawah G. Slamet

Samudera Pasir


Rudy Purwanto


Negeri di atas awan






Di Kaki Gunung
Setiap ku rasakan sejuknya angin
Sedang pandanganku menembus bukit dan lembah
Aku tak tahu mengapa slalu ingat kamu
Memang dulu kita sering pergi ke gunung
Banyak bukit dan lereng yang pernah kita datangi
Aku slalu menggosok jarimu bila engkau menggigil
Saat itu slalu terbayang
 meskipun kita tak bersama
Kini kembali di kaki gunung
tanpa engkau bersamaku
Selendang leher yang kau berikan
Kini menyatu di pundakku

5 Okt 2011

TIM PENGEJAR SUNRISE


Edisi catatan saya kali ini akan membahasa tentang organisasi pendaki gunung yang beberapa tahun lalu cukup exist di lingkungan SMA N 3 Surakarta. Di tulisan ini, saya memfokuskan untuk bercerita tentang orang-orang yang  terlibat dalam organisasi ini.
Sudah lebih tiga tahun organisasi ini berdiri. Meskipun mengalami pasang surut, TPS atau yang kurang dikenal sebagai Team Laufennach Die Sonnenaufgang ternyata masih berdiri sampai sekarang. Pergantian ketua tim sampai berpencarnya anggota ke pelosok penjuru negeri tak mampu menghapus kebersamaan kami sebagai anggota TPS. Yakh, meskipun kami sekarang hanya bisa bersua setahun sekali.
Saya tak akan membahas sejarah berdiri dan perkembangan organisasi ini karena hal itu sedikit sudah tersirat dalam catatan saya terdahulu. Untuk itu perkenankanlah saya untuk memperkenalkan para anggota TPS di bawah ini.

MAIN MEMBER

Riris Aditya
Pria ini bisa disebut sebagai peletak pondasi pertama sejarah berdirinya TPS. Lewat kemampuan mulutnya yang berbisa, dia berhasil menggaet beberapa anak XI IA 1 untuk menjadi antek-anteknya. Secara mutlak dia terpilih menjadi ketua TPS periode pertama (2008). Pria yang berhobi berkaraoke ini sekarang bekerja di Kantor Kepabeanan tipe B di Batam. Semasa kepemimpinannya, TPS melakukan beberapa manuver untuk menunukkan exsisitensinya. Beberapa hal yang menjadi indikasinya adalah pembuatan jaket kebesaran TPS dan pendakian perdana ke Gunung Lawu. Di kalangan anggota TPS lain, dia dikenal sebagai pendaki yang hanya bermodal nekat. Bagaimana tidak, setiap mendaki dia hanya membawa dua bungkus supermie dan sering mebajak perbekalan teman-temannya. Pendakian pertamanya hampir berujung pada kematian, dia dihempas badai sewaktu akan menuju Hargodumilah dari Pos IV.  Selepas lulus SMA, gitaris amatir yang pernah dikhianati seorang pramuria ini melanjutkan pendidikannya di STAN PRODIP 1 BC Malang. Selepas itu mula, tampuk kepemimpinan TPS dimandatkan ke teman laki-lakinya, Kharisma.

Riris, siluman naga berkepala babi  

Kharisma Pribadi
Orang-orang lebih mengenalnya sebagai pongo. Pria kelahiran 1 April lebih dari 20th lalu ini merupakan ketua TPS periode kedua. Saat ini, mantan ketua kelas XII IA 1 ini sedang menyelesaikan sekolah sarjananya di jurusan informatika UNS. Di bawah kepemimpinannya, TPS melaksanakan pendakian paling masal ke Gunung Sumbing sebagai wujud diangkatnya dia sebagai ketua tim yang baru sekaligus perpisahan bagi anggota-anggotanya yang melanjutkan study ke luar kota. Jam terbang mendakinya bisa dibilang lebih banyak daripada Riris, tercatat dia sudah pernah ke tiga gunung yang berbeda, Lawu serta dua kali ke Merbabu dan Sumbing. Tampuk kekuasaannya diserahkan ke Basuki ketika mendaki Gunung Merbabu selepas lebaran taun lalu. Drummer amatiran yang bertempat tinggal di LA ini sekarang sudah sangat jarang dan bsia ditemui karena sibuk melakoni profesi barunya sebagai ustadz.

Kharisma Pongo

Basuki
Nama aslinya adalah Sandi. Nama panjangnya Sandi. Nama bapaknya adalah Harmo. Nama Panjang bapaknya adalah Harmo. Tempat tinggal di Kaliyoso. Pria paling tua (lahir 8 April 1990) dari kami ini adalah ketua TPS periode ketiga. Dia dikenal sebagai orang yang gemar boker saat mendaki karena hampir dapat dipastikan dia meninggalkan jejak berupa tai ketika mendaki. Pengalamannya bisa dibilang lebih banyak dari dua ketua pendahulunya. Semasa SMA dia pernah menginjakkan kakinya ke Lawu, Merapi, Merbabu dan Sumbing. Ini belum ditambah dengan segudang pengalaman yang ia peroleh karena menjadi anggota MAPALA ITS. Meskipun terlihat koplak, dia menjadi satu-satunya dari kami yang diterima oleh 2 PTN yang berbeda setelah lulus SMA: UGM dan ITS. Kiper amatir kelas IA 1 ini sekarang aktif di beberapa EO sehingga ia jarang pula untuk balik ke Kota Solo. Tak terdengar kabarnya selama 2th, akhir-akhir ini katanya dia sudah punya dua anak di Surabaya. Sebagai orang yang paling tua, sudah jelas dia yang paling calm di antara kami karena terlihat paling bijak dan paling dewasa. Akan tetapi anehnya, pria ini adalah yang paling tidak dilirik wanita sama sekali di antara kami. Satu hal yang masih sama pada pria ini adalah HP SEnya yang sudah dia pakai sejak SMP dan di dalamnya ada folder bernama virus.

Sandy alias Basuki

Rudy Purwanto
Asal Purwantoro. Mantan ketua X6. Penaksir beberapa wanita tapi tak ada yang didapat (sudah jadi resiko sebagai kutukan kalau mempunyai jaket TPS). Di antara kami, dia yang paling tulus dan setia pada kawan. Setiap mendaki, dia hampir selalu menjadi swiper untuk menemani kawan-kawannya yang mengalami gangguan fisik. Meskipun tubuhnya kecil, tenaganya besar. Dia bisa lambat, bisa juga gesit bagaikan ular. Seluruh gunung di Jawa tengah sudah pernah ia taklukkan, mulai dari Lawu, Merapi, Merbabu, Sumbing, Sindoro dan yang terbaru: G. Slamet. Kebiasaannya ketika mendaki adalah membawa sepatu cat dan bendera Juventus, maklum dia penggemar setia Si Nyonya Tua, sama seperti bung Riris, meskipun tim kesayangannya terlanda kasus calciopoli. Saat ini dia sedang menempuh pendidikan D IV di STID Al Hadid Surabaya. Penggemar music grunge ini merupakan kandidat kuat pengganti Basuki sebagai ketua tim yang harus lengser tahun ini.

Rudy wowor

Alwan Zamroni Khalid
Anggota TPS termuda ini berasal dari Ngawi. Pendidikan menengah pertama dia selesaikan sebagai santri di Ponpes Assalam. Dia yang paling ambisius dan bersemangat di antara kami tapi juga paling ceroboh (kerap tabrakan).  Karir higlandernya maju begitu pesat ketika menjadi anggota PALASMAGA. Namun, seiring lulus dari SMA karirnya terus meredup. Sudah lebih dari dua tahun ia tak mendaki. Obesitas disinyalir menjadi penyebabnya. Kisah cintanya sewaktu SMA begitu tragis. Hal inilah yang membuat dia menjadi suwung. Kesuwungannya tergambar lewat banyak video lipsing yang ia buat ketika mendaki. Ini belum termasuk puisi-puisi yang tak bermutu dan selalu membuat kami tertawa. Sebagai contoh adalah kemarin sewaktu futsal. Berposisi menjadi bek, dia sempat-sempatnya berpuisi untuk menganggu konsentrasi penyerang lawan. Alhasil, seluruh pemain di lapangan tertawa terpingkal-pingkal. Meskipun saat ini pensiun sementara waktu, pencinta musik melayu (ex: ST 12) ini sudah cukup makan garam di dunia pendakian. Saking pengalamannya, dia selalu membawa sabun muka ketika mendaki dan menghabiskan air yang kami bawa untuk menggantengkan wajahnya yang unyu.  Saya tak tau apakah obsesinya menaklukkan Jaya Wijaya masih tersisa di jiwanya. Yang jelas, mahasiswa jurusan Akuntansi UGM ini dahulu adalah pelopor saya dalam mendaki.

Alwan si bocah suwung

Bima A. Putra
Sangat sulit menceritakan pria kelahiran Jayapura ini. Selain hobi menggunung, kegiatan berbau petualangan sampai kecintaan terhadap lingkungan ia jabani. Sudah tak terhitung lagi, berapa gunung yang ia daki, berapa pantai yang ia kunjungi, berapa pulau yang  pernah ia tapaki, dan berapa lautan yang ia salami. Yang jelas bangku perkuliahan (Kelautan UNDIP)  yang ia tempuh saat ini kelihatannya mampu untuk mangakomodir hal itu. Setelah lulus SMA, dia yang paling jarang berkumpul dan bertualang lagi dengan kami. Akhir-akhir ini terdengar kabar jika ia tergabung dalam LSM yang menangani konservasi orang utan.

Bima 

Cendy Adam
Pria kelahiran Banjarmasin sehari sebelum HUT RI ke 45 ini merupakan pria paling vocal di antara kami. Harus saya akui jika ia memang kritis. Hal itu bisa dilihat dalam catatan-catatan yang ia buat. Tak mengherankan jika ia dulu sewaktu SMA terpilih menjadi ketua muda OSIS. Perjalanan karirnya sebagai highlander dimulai bulan Januari 2008 yang kala itu juga merupakan pendakian cikal bakal berdirinya TPS. Sewaktu belum menjadi anggota, pria ini bisa dibilang cukup sukses di dalam percintaan. Akan tetapi hal itu berubah drastis setelah menjadi anggota TPS. Setelah keluar dari STID Al Hadid, ia saat ini menempuh pendidikan Hukum di Universitas Indonesia. Meskipun badannya kecil, ia mampu mendaki dengan gesit bagaikan ular. Pria ini kelihatannya sudah tak mendaki lagi, sama seperti Alwan. Hari-harinya disibukkan dengan kegiatan untuk menggapai obsesinya menjadi jaksa masa depan ditemani kawannya yang paling setia; Tuhan 9 cm.
Cendy, mahasiswa hukum UI 

Aziz M. Adi
You know me so well





ADDITIONAL MEMBER

Ahimsa D. Afrizal
Dulu sewaktu SMA, pria ini sering mendaki bersama kami. Apalagi dia juga tercatat sebagai anggota PALASMAGA, sama halnya dengan Alwan. Lawu, Merbabu dan Sumbing adalah saksinya. Meskipun sering terlibat dalam petualangan bersama kami, Ahim belum bisa disebut anggota utama TPS karena dia tak memiliki jaketnya. Hal inilah yang membuat nasib percintaannya tak sama seperti halnya dengan anggota utama. Harus saya akui juga, sebagai orang yang hobi membaca dan berwawasan luas, pria ini memang berpikiran lebih tajam di antarakami. Kandidat kuat ketua BEM UNAIR ini sementara waktu memutuskan pensiun karena mengalami problem obesitas.


Asep S.
Ikut mendaki sekali ketika ke Sumbing, Juni 2009. Meskipun sewaktu itu masih newbie, kemampuannya tak bisa dipandang sebelah mata. Mahasiswa Sipil UNDIP ini keliahatannya masih berhasrat untuk bertualang, nyatanya kemarin dia menunjukkan ketertarikan untuk ikut ke G. Slamet. Meskipun gagal terealisasi karena waktu.



Aryo K.
Pengalaman pendakiannya sama halnya dengan Asep. Adik kandung Riris Aditya ini pada akhirnya terkena pengaruh saya dalam hal bertualang  pasca pendakian dari Sumbing, petualangan ke Pulau Sempu adalah saksinya.



Panji
Dua kali ikut pendakian, Lawu dan Sumbing. Meskipun badannya tambun karena sering makan babi, ternyata kemampuannya dalam mendaki cukup mumpuni. Saudara sepupu Riris Aditya ini memang paling berbeda di antara kami, selain berasal dari SMA yang berbeda (SMA 5), disinyalir dia homo. Penyembah Tuhan 9 cm ini sebenarnya tak jauh beda dengan Riris Aditya ketika bertualang: hanya bermodal awak sehat.


Wahyudin
Sekali ikut sewaktu pendakian ke G. Lawu karena saya ajak. Saya tak tau apakah dia suka bertualang atau tidak, nyatanya setaiap kali saya ajak dia selalu tak bisa dengan dalih mengerjakan proyek mahasiswanya. Mahasiswa Planologi UNS yang punya mimpi menjadi Walikota Solo ini katanya sudah nikah, bener gak sih?



David
Resmi masuk dalam nama-nama ini karena berhasil menaklukkan Gunung Slamet bersama dengan saya dan Rudy. Sebenarnya pendakian pertamanya dimulai tiga tahun lalu tepatnya saat TPS mengadakan pendakian ke G. Lawu yang bertepatan dengan Pendakian Masal Palasmaga.


PENGGEMBIRA
Disebut penggembira karena tak pernah terlibat dalam kegiatan TPS meskipun punya jaket kebesaran.

Habibie
Mahasiswa kedokteran UMY yang disinyalir tak boleh ikut mendaki gunung oleh orang tuanya. Meskipun demikian ketua sekaligus maskot Kos Memet ini memiliki jaket TPS. Po ra ngeriw?

dr. habibie


Indra Fery I.
Anggota PALASMAGA ini pernah ke G. Lawu memang, tapi tak pernah terlibat secara langsung dengan kegiatan yang diadakan TPS. Terdengar kabar dari kawan lama SMP saya yang kuliah di Akuntansi UNDIP, Galang, bahwa Fery masih sering menggunakan jaket kebesaran TPS.


Fery, kalo mau pesen gitar ngomong aja ke dia





PENJELAJAH ALAM
Perjalanan awan di langit bagai petualangan manusia
Beriring sambil saling menyapa memberikan arti pada waktu bersama
Butiran air jatuh ke bumi
Itulah asalnya darimana dia datang
Awan di langit kini berpencar

memisah diri terkena badai
Entah kapan dapat berkumpul
Apakah mungkin tidaklah mungkin
Ku pandang awan dari tidurku
Dari balik jendela aku bersenandung
Petualangan awan di langit yang lebar
Bagai petualangan manusia
Di dalam hasratnya
Di dalam hidupnya

25 Jul 2011

Purnama

Purnama mengantarkan kita pada perjumpaan. Terang-redup Sinarnya pancarkan gamangnya jiwa anak manusia. Karena  kita akan beranjak segera tanpa kata.
Kerinduan telah menjadi kegalauan, ia terasah dalam sunyi  yang panjang. Jiwaku mulai rapuh mangarungi malam demi malam. Juga malam ini, pada keheningan aku membayangkan aku dan kamu bersatu. Namun, aku seperti melawan pada sesuatu yang tak bisa ku lawan.

Purnama datang lagi, menikam dari satu sisi. Sinarnya pancarkan kemanisan kenangan masa lalu anak manusia.  Kenangan masa lalu terkadang membuatku ingin kembali ke belakang.

February, 2011

-Ayu CP

8 Feb 2011

Kenangan (PPD)


Beberapa waktu lalu, kampus baru saja mengadakan event besar tahunan yang bernama HOE (Heritage and Organda Expo). Setelah melewati seleksi dari panitia, Kota Solo akhirnya berhasil lolos untuk mengikuti event ini meskipun hanya organda exponya saja. Maklum, heritage (acara adat ruwatan) yang kami usung tak berhasil lolos dalam seleksi yang kebanyakan diisi oleh  tarian daerah dari organda-organda lain. Sebagai konsekuensi atas diterimanya proposal kami dalam organda expo (hanya 24 organda), Solo mewakilkan PPDnya ke ajang ini. Dan aku terpilih sebagai putra daerah mewakili Solo. Walaupun ada perasaan tak berniat untuk mengikuti acara ini, toh akhirnya aku maju juga.
Pemilihan PPD kali ini berjalan agak ruwet dari tahun-tahun sebelumnya. Kami sebagai peserta harus mengikuti diklat setidaknya dalam waktu tak kurang dari dua minggu, dari mulai tanggal 14 Januari sampai pada acara puncaknya tanggal 31 Januari. Tak heran, waktu belajarku agak terganggu akibat acara ini, belum lagi kesibukan dalam menyiapkan diri sebagai calon wakil ketua Paspilo baru periode tahun ini. Pembuatan karya tulis untuk tugas besar  mata kuliah bahasa Indonesia semester ini pun turut berjalan tersendat.
TM pertama tanggal 14 Januari diisi oleh perkenalan antar peserta dan briefing dari panitia, sebagai penutup ada tugas untuk menyusun essay mengenai daerah asal  masing-masing peserta. Aku sendiri akhirnya bisa sedikit meluangkan waktu sejenak untuk menyelesaikan tugas yang dideadlinekan selama 4 hari ini. Selain tugas dia atas, kami juga diwajibkan membuat koreo. Dan inilah tugas memalukan yang pernah ku buat. Aku harus belajar tari dengan Kunthi, rekanku dari Solo. Yah..walaupun akhirnya jadi juga untuk ditampilkan pada hari H.
TM kedua kali ini diisi dengan perkenalan kembali, materi pariwisata dan tentunya mengumpulkan tugas essay. TM dibuka dengan senam pemanasan; aku sendiri datang terlambat. Kunthi apalagi, malah lebih molor lagi datangnya.
Depan Gedung P, dekat kolam air mancur menjadi saksi atas pertemuanku dengan seorang. Bukan apa, entah kenapa ada yang membuat hatiku sedikit bergetar malam itu. Seorang gadis yang juga datang terlambat dan mencari posisi di sampingku. Aku teringat dia berdiri di sebelahku sewaktu senam pemanasan. Dari kegiatan ini setidaknya aku menemukan banyak teman baru dari berbagai daerah. Tak lupa, aku terkadang juga ngobrol banyak dengan mereka, berbicara mengenai budaya dan potensi pariwisata dari daerah kami masing-masing.
Satu minggu sebelum acara puncak, hampir setiap malam kami selalu berada di lapangan A. Diskusi, catwalk, parade, debat, tanya jawab sampai dengan koreo menjadi menu latihan kami. Sesekali kami berlatih dengan vocawardhana sebagai pengiring kami di acara puncak nanti. Entah kenapa, kali ini PPD seolah menjadi prioritas  utamaku, mengesampingkan tugas akhir mata kuliah bahasa Indonesia. Di lain sisi, Ku akui tragedi di depan gedung P kemarin masih menggelayuti pikiranku. Gadis itu terlihat cantik, ada sesuatu yang membuat jiwaku bergetar. Dan tiba-tiba saja diriku tak punya keberanian untuk sekedar mengajak berkenalan dan berbincang. It’s dejavu. Purnama tanggal 25 seakan menggantikan malam tragedi HPP tepat 41 bulan lalu.
Hari minggu terakhir bulan Januari 2011 akhirnya tiba, acara puncak HOE. Dua hari belakangan, selain disibukkan oleh PPD, aku juga harus bekerja bakti dengan paspilovers untuk menyiapkan stand organda expo yang kami ikuti. Kali ini stand kami mengambil tema Pasar Gede Solo , di situ kami menjual berbagai kuliner (seperti pecel ndeso, plencing, selat, beras kencur, es dawet ayu, dan sate kere) yang menjadi salah satu alat untuk menarik pengunjung untuk datang dan membeli apa saja yang ada di stand kami.
Pukul 8 pagi para peserta PPD diwajibkan kumpul. Dengan memakai beskap yang tak sesuai dengan harapan akhirnya aku datang, meski sebelumnya harus sedikit dipermak di salon. Penampilanku terlihat paling sederhana jika dibandingkan dengan peserta lain. Gadis itu sendiri terlihat sangat cantik hari itu dengan pakain adat daerahnya.
Malamnya, ada deklarasi budaya yang kami ikrarkan beserta perwakilan dari Depbudpar, sebelum akhirnya ditutup oleh penampilan dari penari internasional, Didi Nini Towok. Di backstage kami sempat foto-foto bersama dengan seniman serba bisa ini. Sewaktu menyaksikan humor segar yang dibawakan Om Didi, ternyata gadis itu turut menyaksikan duduk dekat dibelakangku, sedikit sekali aku berbincang dengannya. Tak ada, hanya percakapan angin. Dan semua berlalu begitu saja sewaktu pertunjukkan usai. Ada sesuatu yang membuat lidahku kaku.
Aku masih mencari kata untuk memahami apa yang kurasa. Entah apa pun itu namanya. Ini seperti penyesalan yang sama pernah ku rasakan sewaktu HPP tiga tahun lebih yang lalu. Ku akui, gadis itu seperti halnya Reta dalam tragedi HPP. Dan entah kenapa hal itu masih membayang dalam pikiranku hingga kini dengan segala realita yang menyudutkanku. Seolah perasaan yang sama hadir kembali. Terkadang aku hanya berfikir, ini bukanlah cinta.  Namun, aku juga tak berfikir tentang hal lain. Bukankah cinta dengan akal sehat hanya bisa tumbuh ketika kita dekat dan mengenal obyeknya secara lebih dekat?



Di tengah perjalanan pulang malam itu, aku membisikkan nama gadis itu pada angin malam.

**

3 Feb 2011

Bertualang ke Pulau Sempu



Liburan Natal kemarin,  proyek petualangan ke Pulau Sempu yang sudah ku rencanakan sejak lulus SMA setahun lebih lalu akhirnya terwujud. Meskipun ini merupakan proyek pribadi, aku mencoba untuk mengajak beberapa teman.

Selepas  UTS kemarin, kampus libur dua minggu untuk menyambut Natal dan Tahun Baru . Tak ada salahnya liburan kali ini ku gunakan untuk menyandarkan sejenak pikiran dengan kembali menikmati keindahan alam.

Pada mulanya aku hanya akan  berangkat dengan Riris. Karena takut terkesan “maho”, maka jadilah aku menghubungi beberapa kawan sehari sebelum hari keberangkatan ke Malang. Orang-orang inilah yang akhirnya menjadi korban: Aryo, sang petualang amatir.  Panjul, sang petualang tak bermodal. Tatang (nama sebenarnya adalah Cholik tapi gak tau kok bisa dipanggil Tatang). Selain ketiga nama tersebut, tentunya tak ketinggalan ada Riris, dan temannya, Rohman. Sebenarnya banyak teman yang coba ku ajak tapi (mungkin) karena acaranya yang terkesan serba mendadak, ya jadilah cuma mereka yang bisa ikut.

Jumat (2412’10) pukul 14.30, kami bertiga (Aku, Aryo, dan Panjul) berangkat menuju Surabaya via Sumber Kencono (30ewu @orang).  Walaupun sangat sangar karena terkenal dengan kecepatannya, bus ini harus mogok di Nganjuk. Kami akhirnya dioper ke bus SK yang lain.

Lama perjalanan dari Solo ke SBY diluar perkiraan kami. Pukul Setengah 11 , kami baru tiba di Terminal Bungurasih.  Dari terminal ini, kami  berganti bus menuju ke Malang (8ewu @orang). Tengah Malam, kami sampai di Arjosari. Malamnya kami menginap di kosan Rohman. Paginya, Tatang yang berangkat dari Surabaya ikut menyusul ke sini.

Setelah sarapan dengan oges lecep yang rasanya nayamul, kami berenam berangkat ke Sendang Biru dengan motor pinjaman anak Prodip 1 BC Malang. Perjalanan untuk sampai di pantai ini dari Arjosari memerlukan waktu 2jam lebih dikit.

Gerimis di siang bolong menyambut kedatangan kami di Sendang Biru. Pantai ini cukup ramai oleh pengunjung yang sedang menikmati musim liburan kali ini. Sebagai sebuah pantai, bisa dibilang pantai ini tidak terlalu bersih dan tak ada yang menarik kecuali terdapat tempat pelelangan ikan di mana pengunjung bisa membeli ikan dengan harga yang relative murah. Di pelalangan ini, aku dan Tatank sempat membeli dua ikan tuna untuk kami bawa ke Pulau Sempu. Sementara itu, Riris dan Rohman sedang mengadakan perundingan dengan Perhutani terkait izin untuk berkemah di Sempu. Sayangnya, perundingan ini gagal. Kesangaran Riris seolah sirna tak bersisa ketika menghadapi pasukan polisi hutan. Awalnya, kami memang ditolak untuk berkemah di Sempu sampai pada akhirnya ada beberapa kawan dari Bojonegoro yang membantu perijinan jadi lebih licin meskipun dompet kami harus terkuras ke kantong polisi hutan itu.

Dengan menyewa perahu bertarif 100ewu (termasuk PP) per gerombolan (kami tergabung dengan kawan-kawan Bojonegoro), akhirnya kami pergi meninggalkan Pulau Jawa.
Kapal penyeberangan

Setelah mendarat di Pulau Sempu pemandangan hutan bakau yang masih liar dan penuh dengan lumpur menyambut kami. Laguna segara anakan yang dibilang sangat indah itu ternyata masih ada di seberang pulau. Perjalanan ke sana dari pendaratan perahu tadi ternyata memerlukan waktu sekitar 2jam (itu kalau cepet). Di sinilah aku merasa tertipu oleh internet. Jalan untuk menuju ke laguna yang ku bayangkan pada awalnya seperti jalan setapak di gunung-gunung yang pernah kami daki. Tak dinyana, jalan setapak di sini dipenuhi oleh lumpur yang cukup dalam dan licin. Baru sebentar berjalan, kami harus menanggalkan sandal kami di sebuah tempat persembunyian.

Lama berjalan, sesekali letih mencoba menghentikan langkah kami.  Semangat dan Perjuangan untuk bisa melihat keindahan sang maha kuasa itulah yang akhirnya bisa menghantar kami sampai di Segara Anakan. Setelah sampai di sana, kami segera berfoto-foto dengan sisa-sisa lumpur di sekujur tubuh dan pakaian kami sebagai tanda perjuangan. Aku sendiri segera mencuci diri dengan air yang ada di laguna. Baru ku tahu, kakiku robek cukup lebar dan dalam akibat menginjak karang di perjalanan tadi. Namun, semua terbayar tuntas, inilah pantai terindah yang pernah ku kunjungi. Air yang begitu hijau dan pasir yang begitu bersih.
Sesaat setelah tiba di Segara Anakan


Sore sebelum gelap, kami mendirikan tenda dan berganti pakaian. Malamnya kami mulai memasak nasi dan ikan yang tadi dibeli. Apes, hujan tiba-tiba mengguyur deras. Tenda kami tak sanggup mengcover kami dari air hujan. Tak ada yang tak basah. Aku sendiri harus tidur telanjang pada malam harinya, hanya bersandangkan kampes dan sarung. Makanan yang tadi dimasak akhirnya hanya dinikmati beberapa orang saja. Aku sendiri tak sudi untuk mencicipinya. Ketidakbersahabatan alam berlanjut.  Pukul 9 malam, air laut mulai pasang. Tenda kami ikut tergerus ombak yang kian dekat menepi. Terpaksa tendanya kami pindah ke tempat yang agak tinggi. Pagi dinihari, rintik hujan kembali turun dan sempat mengganggu tidur malam kami yang tak cukup nyenyak karena memang semua serba basah. Riris dan Panjul tidur di luar, sedang yang lain tidur di tenda yang berbau campuran aroma tubuh kami. Di sini juga banyak hewan sejenis undur-undur yang membuat kami risih karena menggerayangi tubuh kami.

Paginya, aku dan Rohman bangun lebih awal. Air mulai surut dan kami berdua mencari sudut tempat untuk mengambil gambar.  Setelah usai berjalan-jalan menyusuri laguna agak ke tengah, kami kembali ke tenda untuk membangunkan kawan-kawan kami. 
Menikmati kebersamaan di pagi hari


Ketika hari mulai beranjak cerah kami mulai memasak untuk sarapan. Beras yang sudah habis dimasak tadi malam terpaksa membuat kami untuk memutuskan masak mie saja dengan beberapa kornet dan sarden. Secangkir teh dan kopi di minggu pagi itu sungguh membuat seolah kami terjaga dalam sebuah hangatnya kebersamaan. Tak lupa rokok juga turut serta menyegarkan pikiran kami. Sesudah makan, kami segera packing. Sebelum kami meninggalkan Segara anakan, kami naik ke sebuah tebing yang mengelilingi laguna ini. Di sana terlihat ganasnya ombak biru laut selatan, di lain sisi segara anakan adalah sebuah  keindahan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Menjelang pukul 10pagi, kami  berfoto-foto untuk yang terakhir kali di tempat ini.  Dan akhirnya, jalanan yang begitu berat kembali harus dilalui untuk sampai di dermaga kapal yang akan menjemput kami.
Foto terakhir sebelum kembali dengan rombongan Bojonegoro


Sekembalinya dari Segara anakan menuju Arjosari, hujan sempat membuat kami terhenti beberapa kali. Salah satunya menuntun kami untuk menikmati makan siang di sebuah warung yang menjajakan tahu telor, makanan khas Ngalam.

Pada malam harinya, aku berkeliling kota di mana ayahku dulu pernah menjadi mahasiswa di sini. Menikmati malam di Kota Malang sungguh peristiwa yang tak terlupakan, meski kota ini besar, tata kotanya sungguh rapi. Malam hari, aku dan Riris berkeliling dengan sepeda Vixion barunya di jalanan kota ini, mencari nasi goreng yang pada akhirnya tak ketemu. Final pertama Piala AFF antara Indonesia-Malaysia menjadi terlewatkan.

Malam pukul 10 kami bertiga (Aku, Aryo, dan Panjul) meninggalkan Arjosari untuk kembali ke Bungurasih. Tatang sudah kembali ke Surabaya waktu sorenya. Bus yang kami naiki kali ini sungguh tak manusiawi. Mungkin karena ini bus malam yang terakhir membawa penumpang dari Malang ke Surabaya, jadilah bus ini penuh sesak. Kami sendiri harus terus berdiri sepanjang perjalanan.

Setibanya di Bungurasih, kami berganti bus SK lagi (kali ini yang ber AC boz, haha) yang akhirnya membawa kami kembali ke Kota Bengawan. Perjalanan Surabaya-Solo waktu malam ternyata tak memakan waktu lebih dari 4,5 jam.

Tips dan Trik Ke Sempu
1.       Bawa teman yang banyak, biar biaya bisa makin ditekan.
2.       Berpandai-pandailah meloby dengan petugas yang ada di sana. Masalah yang kami hadapi adalah sewaktu melobi, teman berdua kami tersebut tak punya kemampuan bernegoisasi.
3.       Bawa air yang banyak, di sana tak ada air tawar. Ada sumber air tawar di segoro lele, tapi letaknya jauh dari Segara Anakan.
4.       Bawa Sepatu boat. Trust me, it works!
5.       Jangan lupa rokok, kartu poker, dan snack ringan.
6.       Peralatan camping yang memadai (ojo modal awak sehat thok!)
7.       Menjaga sikap, perkataan, dan perbuatan
8.       Kamera, wajib!
9.       Jaga keindahan dan kelestarian lingkungan. Meskipun hanya penikmat alam, tetap lah selalu berpijak pada pedoman “take nothing but pictures, leave nothing but footprints, kill nothing but time”.

Sang Petualang, Tatank, panjul, Riris, Rohman, Aziz, Aryo

Sang Petualang
Laut biru begitu lapang
dan gelombang menghalau bosan
Petualang bergerak tenang,
melihat diri untuk pergi lagi

Ya sejenak, hanya sejenak
Dia membelai semua luka
Yang sekejap, hanya sekejap
Dia merintih pada samudra

Sebebas camar kau berteriak
Setabah nelayan menembus badai
Seikhlas karang menunggu ombak
Seperti lautan engkau bersikap

Petualang merasa sunyi,
Sendiri di hitam hari
Petualang jatuh terkapar,
Namun semangatnya masih berkobar
Petualang merasa sepi, merasa sunyi
Sendiri di kelam hari
Petualang jatuh terkulai,
Namun semangatnya bagai matahari

December, 2010