2 Jul 2010

Catatan Seorang Pendaki



Sedikit berbagi cerita tentang pengalaman pendakianku dulu sekaligus mencoba untuk membangkitkan hangatnya kenangan bersama kawan-kawan di alam pegunungan.

Gunung Lawu (April 2007)
Usiaku baru akan 16 tahun ketika aku memulai sejarah pendakianku. Saat itu aku masih duduk di kelas satu SMA. Masih ku ingat waktu itu betapa sulitnya aku meyakinkan ayah dan kakakku untuk mengikuti acara pendakian masal yang diadakan oleh kelompok pecinta alam yang ada di SMA N 3 Surakarta. Aku sendiri sebenarnya bukanlah seorang anggota pecinta alam dari organisasi tertentu sejak dulu sampai sekarang. Toh, keluarga akhirnya memberikan restu dengan alasan yang ku berikan bahwa ada beberapa guru juga yang ikut serta, meskipun pada akhirnya para guru tersebut kebanyakan hanya bisa mengantarkan samapi di POS II.
                Berbekal hasrat tinggi karena mendengar cerita beberapa kawan yang pernah ke sana, sore itu aku berangkat via truck bersama rombongan yang dibawa dari Warungmiri ke Cemoro Kandang. Tak banyak bekal yang ku bawa karena memang katanya pihak panitia telah siap untuk menyediakan segala peralatan dan perlengkapan. Cuaca hari itu memang agak tak bersahabat, hujan sempat turun sore harinya.
Momentum yang ku ingat selama pendakian pertamaku ini adalah ketakutanku ketika menyusuri rimba hutan di waktu malam, bahkan sampai tak berani aku memandang di sekelilingku, yang ku tahu mataku terus melihat ke depan, ke jalan setapak yang ada di hadapan. Aku sudah agak lupa tentang orang-orang yang tergabung dalam kelompokku, hanya Sari mungkin yang masih ku ingat, waktu itu kelompok kami menjadi yang terakhir saat tiba di Hargodumilah. Sunrise pun tak terkejar karena kami baru sampai setelah pukul 8.30. Diperjalanan kami sempat break terlalu lama di Pos III sebelum akhirnya aku dan bersama beberapa anak kelas X7 memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dari Pos III, ini pun akhirnya harus terpisah di tengah jalan.
Kumpul di depan UNS

Kapok juga sebenarnya aku mendaki gunung. Betapa mahalnya sebuah keindahan harus dibayar, oleh rasa letih. Masalahnya dalam mendaki gunung bukanlah hanya bicara tentang fisik, mental juga berpengaruh. Namun, dari sini pula ada perasaan tuman atau semacam penyakit yang disebut “gila alam” mulai menjangkit diriku.


Gunung Merbabu (Oktober 2007)
Ini pendakian paling melelahkan yang pernah ku alami. Selama tak kurang dari 3 hari setelah pendakian, aku tak mapu beranjak dari tempat tidur. Kakikku lempoh.
Pendakian ini bermula dari rencana beberapa anak rohis: Hendro, Salim, Priyatno dkk. yang mengajak untuk mendaki ke Merbabu setelah lebaran tahun itu. Berdelapan kami akhirnya berangkat ke Kopeng, Salatiga. Aku, Ahimsa, Hendro, Salim, Alwan, Priyatno, Faisal dan Harun (teman kampoengku yang sengaja memang ku ajak karena aku tak punya boncengan).
Saat awal berangkat, motornya Ahim sempat bocor di Mangkunegaran. Perjalanan selama dua jam lebih akhirnya mengatarkan kami ke rumah saudaranya Hendro yang tak jauh dari kaki Gunung Merbabu. Kami terlebih dahulu mampir ke base camp untuk mengurus perizinan dan meminta peta.  Selepas Ashar kami mulai mendaki, melewati perkebunan penduduk, dan mulai ke atas melewati hutan perbukitan. Sialnya, kali ini aku menjadi racun dalam kelompokku. Kondisiku tak begitu bugar, bahkan Ahim sering melontarkan cemooh untukku yang dikit-dikit minta break. Perjalanan kami sedikit dimanjakkan pemandangan yang begitu indah. Di sini ada beberapa tempat yang agak keramat. Berjalan terus melewati setapak yang tak  satu pun dari kami yang pernah ke sini akhirnya membuat kami beberapa kali tersesat, karena memang bukit yang ada di punggung gunung ini cukup banyak, bahkan gunung ini punya julukan seven summits. Salah satu hal yang kami alami ketika tengah malam adalah kekeliruan dalam memilih jalan yang justru membawa kami ke tempat pemakaman. Perlu di ketahui bahwa di sini tak ada air kecuali di Pos I. Pukul 02.00 dinihari kami memutuskan untuk mengecamp di rondo rante, kebetulan walaupun tempatnya agak terjal, pemandangan di sini cukup eksotik karena dapat melihat sunrise di ufuk timur dan juga Gunung Sindoro dan Sumbing di sebelah baratnya. Pagi harinya sekitar pukul 06.00 kami baru menuju puncak dengan turun bukit terlebih dahulu. Di puncak kelihatan Gunung Merapi yang angkuh berdiri di pelupuk mata. Kami berfoto-foto dan memasak makanan di sini.
Puncak Merbabu

Selepas turun dari puncak, kami sempat kehabisan air karena lost kontak dengan Alwan yang berada jauh di depan. Namun inilah petualanganku, aku menyusur ke dalam ruang ketidakpastian dan penuh dengan tantangan. Ku sadari sepenuhnya ketakutan itu hanya ada di pikiranku. Setibanya di kaki gunung, kami langsung kembali ke rumah saudaranya Hendro, melepaskan lelah dengan segala hidangan yang ada. My Life, my adventure.


Gunung Lawu (Januari 2008)
Bisikan Iblis mulut siluman babi akhirnya mengoyakkan pendirianku. Januari memang selalu menjadi musim tak bersahabat bagi siapa saja, terkecuali mereka yang suka hujan. Pendakian ini menjadi sebuah keputusan paling konyol yang pernah dilakukan oleh pendaki amatir seperti diriku. Bermula dari ajakan seorang teman kelas bernama Riris (nama aslinya siluman babi), proyek ini akhirnya ku “iya”kan meski agak sedikit terpaksa. Riris sendiri sebelumnya tak punya pengalaman dalam hal berbau survival semacam gini. Tak tanggung-tanggung, dia mengajak segerombolan pasukannya macam Panji, Istanto, Fery dkk. yang juga tak punya pengalaman. Aku sendiri akhirnya mengajak Rudy, Udin, dan Cendy. Terpaksalah aku menjadi leader karena memang hanya aku yang pernah ke sini sebelumnya.
Di perjalanan, Cendy, Udin, Rudy

Keberangkatan kami menuju ke Cemoro Kandang sudah disambut dengan badai, di perjalanan kami sempat break menanti hujan di Masjid Pasar Tawangmangu. Setelah melewati petugas perizinan di basecamp, kami mulai merangsek naik ke Gunung yang memiliki tinggi 3265 M ini. Kami akhirnya tiba di POS III setelah menempuh perjalanan 5 jam dari basecamp tadi. Di sini kami break dahulu, akan tetapi akhirnya aku memutuskan untuk mengecamp di sini karena memang cuaca sudah mulai senja dan aku lebih akan merasa nikmat kalau mulai mendaki pada keesokan harinya. Atas keputusanku tersebut, timbulah clash antara golongan dewa dengan siluman. Kelompok siluman yang diketuai Riris memilih untuk berlanjut. Aku, Cendy, Rudy, Fery dan Udin memilih untuk beristirahat di sini sambil menghangatkan badan. Tenda dan perlengkapan kami (kelompok dewa) bawa karena memang sejak awal kelompok siluman hanya bermodal “awak sehat” saja. Cuaca bertambah semakin buruk malam harinya. Badai datang menerjang. Kami yang berada di tenda tak habis pikir tentang yang dialami kelompok siluman di atas sana karena kami sendiri menggigil hebat walau sudah menyalakan tungku paraffin.
Meskipun cuaca buruk, pendaki spiritual masih ada yang berkeliaran di sini mengingat bulan Januari kala itu bertepatan dengan bulan Suro, terlihat beberapa dari mereka membawa domba sebagai persembahan. Napak tilas persembahan ini terlihat di POS IV keesokan harinya ketika kami memutuskan untuk menuju puncak menyusul kelompok siluman.
Puncak Hargodumilah

Sesampainya di puncak, kami hanya berfoto-foto sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk turun. Untuk kedua kalinya mendaki gunung ini, aku belum pernah mendapat sunrise. Akan tetapi, ini adalah pendakian paling bersejarah karena merupakan cikal bakal berdirinya sebuah organisasi bernama TPS (Tim Pengejar Sunrise).
Bersambung…

1 Jul 2010

Resensi Perahu Kertas



Di tengah waktu lenggang yang ku punya dalam liburan ini, akhirnya aku sempatkan untuk membaca satu dari sekian banyak e-book yang tersimpan di dalam laptopku. Novel karya Dee yang berjudul Perahu-perahu Kertas kali ini menjadi menjadi pilihannya. Minggu lalu aku dapat novel ini dalam bentuk e-book setelah searching di internet. Berangkat dari rasa penasaran dari apa yang teman-teman spoilerkan, akhirnya novel ini selesai aku baca dalam 5 jam. Dua acungan jempol layaknya pantas diberikan kepada Dee yang mampu membuat jalan cerita dari karyanya ini benar-benar hidup sampai akhir.
Berikut reviewnya:
Novel ini secara garis besar menggambarkan kisah antara Kugy dan Keenan. Kugy adalah seorang yang punya mimpi untuk menjadi pendongeng. Keenan adalah seorang yang punya mimpi untuk menjadi pelukis. Keenan yang oleh ayahnya tidak direstui menjadi pelukis dipaksa untuk kuliah di jurusan manajemen pada salah satu PTN di Bandung selepas kepulangannya dari rumah neneknya di Belanda. Di Bandung, Keenan bertemu dengan Kugy, teman dekat Noni. Noni sendiri merupakan pacar dari sepupunya Keenan yang bernama Eko. Cinta memang masalah waktu ada benarnya juga, walaupun saat itu Kugy masih terikat hubungan dengan teman SMAnya yang bernama Ojos, kedua sedjoli itu akhirnya terlibat dalam kisah asmara yang menyelimuti persahabatan mereka berempat. Entah kenapa Keenan dan Kugy memilih untuk tidak mengungkapkan.

Novel ini lebih mengajarkan kepada kita tentang kejujuran hati dan penggapaian sebuah mimpi. Terlihat demi memenuhi obsesinya sebagai seorang pelukis, Keenan rela mengundurkan diri dari kuliahnya dan berpisah dari keluarganya untuk belajar menjadi pelukis di rumah teman lama Ibunya yang bernama Poyan di Ubud, Bali. Poyan yang punya galeri lukisan sendiri dianggap orang yang tepat bagi Keenan untuk belajar melukis. Di Bali, perlahan Keenan mulai menemukan cintanya yang bernama Luhde, keponakan Poyan. Kugy sendiri setelah lulus malah terlibat asmara dengan Remi, bosnya di tempat kerja. Ada satu hal yang oleh Kugy dan Keenan sadari, jika hati memang tak bisa berdusta. Cinta yang tak pernah mereka ungkapkan menjadi bumbu dalam setiap drama yang ada dalam novel ini. Dan Pada akhirnya hati adalah yang dipilih. Untuk mewujudkan mimpi sendiri, terkadang kita harus menjadi sesuatu yang bukan kita, demi bisa menjadi diri kita lagi.

Dalam novel ini, terlihat Dee memunculkan tokoh-tokoh yang sangat kentara sekali hubungannya, misalnya Remi yang notabenya adalah calon tunangan Kugy merupakan peminat lukisan-lukisan Keenan, baru pada akhir cerita mereka baru saling tahu satu sama lain. Dee juga sedikit menguraikan kisah asmara masa lalu tokoh-tokohnya. Lena, Ibunya Keenan, adalah pujaan hati Poyan ketika masih muda tetapi akhirnya harus berpisah, Poyan sendiri akhirnya tetap memilih hidup sendiri daripada harus mendustai hati. Kugy waktu SMP juga sempat ditaksir oleh Eko.
Untungnya novel ini berakhir heppi ending, sebenarnya gak heppi ending juga gak papa sih, toh ceritanya memang bagus, dan Layak untuk dibaca.

June, 2010


Catatan Seorang Pendaki (Bagian II)


TPS akhirnya resmi berdiri di bawah kendali siluman babi untuk periode perdana. Bisikan-bisikan maut yang mengalir lewat mulutnya berhasil menggaet beberapa penghobi naik gunung di kalangan smaga untuk menjadi angggota organisasi ini. TPS makin dikenal setelah memproduksi jaket (kancingnya mudah mbrodol), pin, dan sticker (dapat anda jumpai di rumahnya mbah marijan). Berikut adalah Pendakian yang terjadi pasca berdirinya TPS.

Gunung Lawu (April 2008)
Lawu seolah menjadi hegemoni tersendiri bagi TPS setelah resmi berdiri. Layaknya NICA yang memboncengi sekutu saat datang pertama kali ke Indonesia pasca kemerdekaan, TPS kali ini melakukan aksi pertamanya ke gunung lawu bebarengan dengan penmas PALASMAGA.
Kami selaku pendaki yang masih newbie dan bermodal nekat memutuskan untuk mendaki bersamaan dengan momentum penmas karena menginginkan suasana yang agak ramai selama pendakian. Yakh, meskipun kami tak membayar ssenpun sebagai syarat untuk berpartisipasi dalam penmas ini.
Sebelum berangkat ke basecamp, ada sesuatu yang sedikit menghambat kami. Kami terpaksa harus meminta izin kepada Pak Sudarsono dan Bu Muji untuk merelakan anaknya yang notabene adalah ketua TPS agar diperkenankan ikut dalam misi kali ini. Yakh, mekipun dengan dalih untuk ‘camping’. Saat itu, sang siluman ternyata masih dikekang untuk berkeliaran ke sana-ke mari oleh orangtuanya. Selepas isya’, akhirnya kami jadi berangkat juga ke Cemoro Kandang. Malam itu Riris seolah menjadi lakon tunggal, di perjalanan dia terjatuh dari motornya meski tak mengalami masalah yang cukup serius.
Riris, Pendiri TPS

Setelah merampungkan proses administrasi, pukul 9 malam kami mulai mendaki. Sedikit berbicara tentang medannya. Perjalanan setapak dari basecamp sampai ke pos I menempuh waktu satu jam. di pos I kami bertemu dan sedikit mengobrol dengan geng vespa yang ada di dekat smaga. Setelah break sebentar, kami melanjutkan perjalanan ke pos II. Perjalanan dari pos I ke pos II memerlukan waktu satu jam dengan kondisi medan yang tak begitu jauh berbeda dengan yang sebelumnya. Kegelapan hutan yang mencekam di malam hari sedikit menggugah nyali kami. Puncaknya saat kami break dan berbagi snack di pos II, aku yang sedang duduk-duduk tiba-tiba mencium bau kemenyan.
                Pos II menuju ke pos III sedikit membutuhkan konsentrasi karena jalan berada di pelipir jurang walalupun sebenarnya tak begitu berbahaya. Di sepanjang perjalanan ini terdapat satu pos bayangan yang bisa digunakan untuk beristirahat. Dengan berjalan santai, pos III bisa dijangkau dalam waktu 2 jam dari pos II.
Galih, David, Cendy, Pongo, Aziz

Sesampainya di pos III, kami  break agak sedikit lebih lama. Takut tak dapat sunrise, akhirnya kami segera melanjutkan perjalanan. Dinihari sekitar pukul 3 kami tiba di pos IV. Di sini tubuh mulai merasakan kelelahan dan akhirnya matras pun kami gelar sembari nanti kiranya melanjutkan perjalanan sesaat sebelum sunrise. Sedikit dilenakkan oelh keadaan, kami malah tertidur pulas sampai jam 5 lebih.  Sesaat ketika kami terjaga dari tidur, kami sempat mengambil inisatif untuk langsung menembak puncak. Namun, Basuki tiba-tiba sedikit urung dan memilih untuk boker terlebih dahulu sebelum akhirnya kami berangkat ketika keraguan untuk bisa menikmati sunrise di puncak menyelimuti hati kami. Walaupun kami sampai di puncak, tetap saja sunrise tidak kami dapatkan. Mulai saat itu pula Basuki mendapat julukan ‘sang ngisingan’.

Gunung Merapi (Juni 2008)
Hanya kami berempat memang yang ikut dalam misi ini. Aku, Bima, Basuki, dan Rudy. Setelah aku menunggu sedikit agak lama kawan-kawan di mbok No café, kami akhirnya berangkat juga ke Selo. Kali ini aku berboncengan dengan Rudy dan Bima berboncengan dengan Basuki. Sebelumnya, Basuki yang berangkat dari kampungnya di Sangiran sempat dituduh mengompreng oleh seorang penumpang ketika naik bus menuju ke Solo karena membawa panci yang ia gantungkan di Dpacknya. Sesampainya di basecamp, kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu dengan nasi goreng yang kami pesan pada salah seorang penjaga basecamp.
Medan awal langsung disuguhi jalanan yang sangat ngetrack, kami sempat kehabisan nafas dan harus berkali-kali istirahat. Wajah Bima terlihat begitu pucat ketika kami belum sampai satu jam berjalan. Meskipun medannya berat,  pemandangan jalan yang membelah Gunung Merapi dan merbabu serta perkebunan sayuran milik warga menjadi  keindahan tersendiri yang sanggup  menyejukkan mata kami ketika memutuskan untuk beristirahat. Dua jam lebih berjalan rupanya tak ada diskon yang cukup berarti. Sampai akhirnya kami keluar dari daerah perkebunan dan memasuki hutan yang tak lebat karena memang gunung ini merupakan gunung vulkanik yang sering meletus sehingga medan di sepanjang perjalanan ini hanya dipenuhi batu-batu besar hasil endapan vulkanik. Tiga jam berjalan, kami akhirnya sampai di salah satu sudut pandang untuk melihat alam sekitar merapi. Terlihat gunung merapi ada di depan dan merbabu membelakangi kami. Kami sempat berhenti dan berfoto-foto sejenak sebelum akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke pasar bubrah.
Break di Watugajah

Basuki, Aziz, Bima, Rudy
Rudy dengan latar Gunung Merbabu

Foto bareng bule Hongaria

Di perjalanan menuju pasar bubrah, tapatnya di watu gajah, kami bertemu dengan pendaki dari Hongaria yang kuajak untuk berfoto. Mendekati pasar bubrah jalanan menjadi agak licin oleh batu-batu kerikil, belum lagi kondisi jalan setapaknya mulai ngetrack lagi.
Senja di Merapi
Bima, Basuki, Aziz di Pasar Bubrah

Tidak tau pasti kenapa tempat ini dinamakan pasar bubrah, memang saya akui jika tempatnya begitu lapang, viewnya juga sangat bagus untuk dipilih sebagai tempat istirahat. Pemandangan kota Boyolali, Solo, Magelang, Gunung Merbabu, dan semburan asap merapi yang berada dia atas kami rasanya bisa membunuh kami kapan saja. Namu, semua itu rasanya sungguh terlalu begitu indah untuk dilewatkan. Di tempat ini juga terdapat banyak nisan pendaki. Aku tak menafikkan jika tempat ini katanya merupakan pasar bagi lelembut yang ada di gunung ini. Akh, apapun itu, sunset di sini merupakan sunset paling indah yang pernah ku lihat, lebih indah dari pantai kuta yang beberapa minggu lalu ku kunjungi. Sementara itu, Rudy yang berkeliling untuk mencari jalan akhirnya merekomendasikan untuk melanjutkan perjalanan esok pagi.
Malam di sini terasa memang dingin, meskipun begitu untung tak ada hujan. Kami tidur di antara bebatuan besar yang menghimpit kami dari terpaan angin. Aku, bima, dan basuki tidur-tiduran malamnya. Rudy dengan gaya merenungnya masih terjaga dan bersila di atas batu besar itu.
Pagi menjemput, perjalanan pun berlanjut menuju ke puncak, jalan yang begitu terjal dan hampir membentuk sudut siku membuat kami memutuskan untuk membawa bekal minum saja. Tak jarang kami harus memanjat batu-batu yang menjadi satu-satunya bagian medan tersisa. Karena batu-batu ini mudah longsor jika salah diinjak, kami agak sedikit membuat gap. Harus diakui medan di sini sangat terjal, salah sedikit entah apa yang bisa dibayangkan.
Medan yang begitu terjal

 Bau belerang sepanjang perjalanan tercium sangat menyengat, belum lagi hari yang beranjak siang membuat udara bertambah panas meskipun berada di atas ketinggian 2500m. Fisik dan mental berbicara di sini, apalagi air kami juga mulai menipis. Bima dan Basuki akhirnya tak melanjutkan perjalanan. Tinggal aku dan Rudy.
Berjalan terus melewati terjal bebatuan, akhirnya kami tiba di ujung jalan. Rasanya memang ini puncak. Tak ada jalan lain. Kawah berupa bebatuan yang berwarna kuning membentang di depan kami, menyemburkan asap berbau belerang yang menyengat. Rudy berfoto-foto dengan bendera al-kahfi dan tim bola kesayangannya, Juventus. Tempat ini agak lapang dengan tulisan-tulisan yang dibentuk dari  batu-batu kecil. Tak lama kami di sini, kami segera beranjak turun karena tak tahan dengan bau belerangnya.
Akhir Perjalanan

Perjalanan turun, tak kalah mengerikan dibanding dengan perjalanan sewaktu mendaki tadi. Aku harus berhenti sejenak sebelum memutuskan jalan yang diambil sambil meuruti instruksi Rudy, mengeja arah pola batuan ke mana akan berujung. Sampai pada akhirnya kami bertemu lagi dengan Basuki dan Bima yang berada di pasar bubrah bersama dengan peneliti merapi.
Basuki dan Bima sendiri akhirnya turun lebih dulu mengingat aku dan rudy harus berisitirahat sejenak setelah turun dari atas tadi. Berbekal air putih dalam botol aqua berisi 600ml yang tinggal terisi separohnya, kami akhirnya turun. Rasa haus yang mencekik tenggorokan kami sungguh sangat menyiksa. Beberapa kali kami harus mengunyah dedaunan yang ada di sepanjang jalan untuk menjaga mulut kami agar tetap lembab. Sampai akhirnya kami tiba lagi di base camp.
Merapi, ketiak naik anda butuh waktu 5jam untuk sampai di pasar bubrah, selebihnya tergantung anda memilih jalur yang mana. Dan jalur yang kami pilih ternyata salah. Waktu turun paling lama 3 jam hingga sampai tiba di basecamp lagi.
Sore itu kami langsung balik ke Solo setelah beristirahat sejenak dengan teh hangat. Kami juga sempat mampir ke bakso arema di pasar Boyolali atas rekomendasi Bima.

Gunung Sumbing (Juli 2008)
Bisa dibilang ini proyek tanpa rencana. Hanya kami bertiga (Aku, Pongo, Basuki) yang ikut dalam misi ini. Gunung Sumbing (3319m) merupakan gunung tertinggi nomor dua di Jawa Tengah. Terinspirasi oleh Alwan, Rudy, dan Bima yang telah ke sana beberapa bulan sebelumnya, kami tak mau kalah dengan mereka.
Pada awalnya ini merupakan proyek asal-asalan saja ketika sekolah kami mengadakan kemah perdana bagi siswa baru di tawangmangu. Daripada tak ada kerjaan, aku mengajak beberapa kawan untuk survey (cuci mata sambil cari siswi baru yang agak bening) dan sedikit mengenang moment yang sama-sama pernah kami lalui dua tahun lalu. Namun, akhirnya semua itu pupus. Aku terpengaruh oleh  proyek yang digagas Pongo ke Sumbing meskipun pada akhirnya hanya kami bertiga yang bisa ikut.
Perjalanan ke Wonosobo dari Solo ternyata lumayan jauh juga, speedometer motorku ternyata mencatat lebih dari 115 KM. Kami berangkat sore hari. Kali ini aku harus sendiri karena Basuki membonceng Pongo. Jalur yang kami ambil melewati Kopeng untuk bisa langsung memotong rute ke Temanggung. Sebenarnya tak ada satupun dari kami yang tahu tentang jalur yang kami lalui. Pongo yang ternyata sok tau harus beberapa kali berhenti untuk menanyakan jalan pada orang-orang. Kami sempat break dua kali selama perjalanan Solo-Temanggung  untuk sholat maghrib ketika kami akan memasuki jalan perbukitan di Kopeng dan terakhir berhenti di dekat masjid agung Temanggung untuk  makan malam. Kami sampai di basecamp juga setelah menempuh perjalanan hampir  4 jam.
Kami mulai mendaki pukul 10 malam. Berbekal senter yang redup-redup dan tak ada satu pun dari kami yang pernah ke sini, kami tetap nekat mendaki. Beranjak dari basecamp saja kami sudah bingung ke mana kami selanjutnya akan memilih jalan, mengingat banyak sekali gang-gang kecil yang ada di hadapan dan kami tak tau mana yang akan menuju ke punggung bukit gunung. Auman anjing malam yang  terdengar menambah sedikit horror malam itu.
Ada 2 jalur untuk bisa sampai di puncak gunung ini, jalur lama dan jalur baru. Jalur baru agak lebih ngetrack, walaupun jalur lama tak kalah ngetracknya juga. Awal pendakian  akan dihadapkan pada perkebunan warga yang ditumbuhi oleh beraneka ragam sayuran. Dari sini sudah terasa jika medannya cukup menguras tenaga. Kami kerap sekali beristirahat untuk mengambil nafas meskipun kami juga sedikit tergoda untuk sejenak menikmati pemandangan Kota Wonosbo dan Temanggung yang sangat indah dengan cahaya lampu kotanya di malam hari.
Perjalanan berlanjut sampai akhirnya pada tengah malam kami dihadapkan pada sebuah jalan buntu. Kami terus mencari solusi dengan mencari jalan lain. Akan tetapi, anehnya kami kembali berputar ke tempat  yang sama. 1 jam lebih berjalan kami akhirnya putus asa dan memilih untuk nge-camp. Seperti biasa kami yang hanya membawa Dpack hanya berbekal matras dan sarung untuk tidur dan menahan dingin.
Paginya kami sempat berniat untuk melanjutkan perjalanan. Namun, karena puncak terlihat  sangat jauh dan hari makin panas serta tak adanya sumber mata air jadilah kami hanya menikmati indahnya pagi di punggungan gunung ini sambil melihat kota-kota yang ada di bawah kami ditemani dengan roti dan kopi susu.
Pukul 9 pagi kami memutuskan turun ke basecamp. Di perjalanan turun kami menyadari bahwa ternyata jalan yang kami lalui malam hari tadi adalah salah. Turun dengan membawa sesal, kami sedikit menghibur diri dengan membuat video. Tentu saja bintang utamanya adalah diriku, dan Pongo berperan sebagai kameramen.
Taka lam setelah tiba di basecamp kami segera melanjutkan perjalanan pulang ke Solo. Kali ini motorku yang apes karena bocor di jalan menuju pusat Kota Temanggung setelah menyantap lezatnya tahu kupat di sebuah warung pinggiran jalan.
Perjalanan pulang kali ini kami memutuskan untuk mengambil rute Ambarawa ke arah utara menuju Bawen. Membawa motor sendiri untuk perjalanan jauh ternyata cukup beresiko, karena rasa kantuk akibat capek dan tak ada yang diajak ngobrol hampir saja diriku tertabrak bus kota di jalan Salatiga-Solo. Sore hari sebelum matahari terbenam akhirnya kami sampai kembali juga di Solo.