8 Apr 2010

Kawan Pulang


Cetho Temple
kawan,
dalam senja berkabut kau pulang
membawa cerita perjalanan panjang
dari setiap mimpi yang tak bertepi

belum usai memang,
masih lama kau akan ada di seberang
masih jauh perjalanan yang kan kau jelang
tapi ini kali waktu kau pulang

rinduku tertuang dalam satu jabatan tangan
tak banyak kita berbincang,
hanya mencoba menggali masa lalu yang hilang.
kita benar-benar hanyut dalam birunya kenangan 

kawan,
aku bahagia kau pulang



Dec, 26 2009

7 Apr 2010

Perpisahan





Kawan-kawan rekan seperantauan masa remaja.
Andaikan aku senja, kalian adalah pelangi
Seiring senantiasa saling menghiasi
Hari demi hari…

Hari ini kita musti melalang lagi
melanjutkan perjalanan yang tak terlihat bertepi
dalam mewujudkan mimpi yang tertunda,
Kehidupan selalu seperti itu,
ada yang datang, ada yang pergi

Sekolah, kamar kosan,
buku pelajaran, kopi, rokok, gitar, malam
pada semuanya tergores 
manisnya sebuah kenangan

Kini sepi segera terlukis dalam muram
tapi hidup terus berjalan
men
gejar mimpi hingga ke tepian
seperti yang kalian bilang
,
"dalam hidup memang harus
selalu ada yang dilepaskan"

terlalu kias kehadiranmu esok nanti
terbias angkuhnya jarak dan waktu
atau aku masih belum siap merindu bayangmu
ku rasa aku hanya tak suka dengan perpisahan




















14-7-2009

8 Mar 2010

Hitam

Dua hari belakangan ini aku agak tak enak badan. Entah apa yang terjadi dg diriku sendiri, aku tak tau. Mungkin bayang-bayang pekerjaan yang menumpuk serta keputusan penting dalam hidup yang harus ku pilih membuatku agak gundah, apalagi semua itu menuntutku untuk segera mengeksekusinya seiring waktu  yang menghimpit.
Malam dinihari tadi, aku sempat menyebar beberapa poster di sudut-sudut Kota Bandung selatan, sebagai salah satu tugas divisi publikasi dalam acara change. Dua jam lebih selepas pergantian hari angin malam semilir menyapaku yang sedang melankolik di setiap jalan-jalan yang terlintas. Lampu-lampu kota yang semayup redup mengidentitaskan keadaan jiwaku malam itu. Sementara, kebisuan yang ku landa terkadang pecah sesekali jika Pandu mengajakku bicara soal masalah kuliah yang kami jalani. Ku nikmati suasana tengah malam di Kota ini, jalanan begitu sepi, berbeda dengan apa yang terjadi di siang hari di mana semua seakan-akan memotretkan kebengisan hidup yang berpadu dengan panasnya sengatan mentari dan deru mesin-mesin. Di persimpangan, tak sedikit pelacur yang ku lihat sedang menjajakkan diri. Ku kira itu bukan dosa, karena keadaan memang mau tak mau menuntut mereka untuk menjadi seperti itu. Aku sendiri ingin lebih dekat dengan mereka, berbicara tentang hidup dan cintanya, yang mungkin juga tersayat antara naluri dan keadaan, sama dengan apa yang ku alami, sesaat setelah ku tahu orang yang selama ini ku cintai dan tak pernah ku dapatkan akhirnya tiada lagi sendiri.

(a diary, March 6 2010)

13 Feb 2010

Terasing



Bagai ombak yang terdampar di pantai kehidupan. Terkirimlah aku  dalam keterasingan. Sementara gelombang pecah di tepian karang. Nada-nada kehidupan masih terdengar sumbang. Sekian waktu aku termangu. Melamutkan segala rindu pada masa lalu. Bayang-bayang yang ku kenal terasa makin jauh. Hingga ku sadari,  diri ini sendiri.

Agustus, 2009,

5 Feb 2010

Boeat Repoeblik Napsu

Entah masih berapakah hari tersisa yang masih bisa kita lewati. Malam ini ku coba untuk tak kutitihkan air mata, mengenang perjalanan waktu yang semakin berlalu. Kebersamaan itu telah bermuara ke dalam telaga jiwa, berpadu dalam kenangan dan harapan hidup menuju ke depan.

Dulu kita hampir selalu bersama mewarnai hari bercerita tentang idealisme dalam kehidupan yang semakin membiru. Hanya berharap, semoga semua akan tetap abadi dalam diri kita masing-masing. Rasanya kita memang tak punya banyak prasasti, kecuali apa-apa yang masih kita simpan di hati untuk saat ini dan nanti.

Tak terasa sebuah masa begitu cepat terarungi, dan kita semua telah menyelesaikan ini. Kehidupan selanjutnya telah menanti di depan. Kawan-kawan baru akan segera datang. Dan agaknya kita akan sedikit lupa akan masa lalu.


 (27 Juni 2009)