24 Okt 2014

pamit


tak peduli kesalahan macam apa yang telah seseorang lakukan kepada kita. kita selalu punya alasan untuk memaafkan mereka.
yang membuat kita menjadi manusia seutuhnya adalah kerendahan dan kebesaran hati.
dalam kondisi seburuk apapun yang kini sedang kau jalani dengan seseorang, cobalah kembali membuka kenangan-kenangan baik yang pernah terjadi.

sukoharjo, 24 oktober

23 Okt 2014

pasangan yang baik

"pasangan yang baik itu bukan yang paling mencintai anda tapi yang paling mengerti anda. bagaimana menurutmu?"

-19 juli

16 Okt 2014

kesan


mereka yang pernah dekat dan mesra pernah berucap. 

|petualang, raja galau, puitis, tanggung jawab, cuek, baik|
|kritis, puitis, berpengetahuan luas, petualang; terlalu melankolis, galau-galau-galau, move on ziz, suka lepas tanggung jawab|
|galau ne ga ketulungan. kalau udah mesum parah lah, semuanya -perkataan dan perbuatan mesum. good traveller|
|stop pesimis dan galau, bro! bagi tips travelling!"
|jangan galau. tatapan matanya lembut banget. lembut atau gak yaa? baik. niat kalau buat tugas (kata orang sih gitu). petualang tapi takut naik wahana. semangat, ziz!|
|galau. petualang. kata bijak master. eman karo kanca. headset gede banget. kosan mantap|
|katanya petualang, berani dikit kek di dufan. joss lah, perjalananmu ziz. salute..|
|suka mempublikasikan kegalauan di kelas. semangat bung!|
|traveller sejati. otak selangkangan. jablay|
|galau, gak jelas, petualang, pemarah|
|gaul. gila bola. baik. supel|
|egois. koplak. sok puitis. bolang abis. kalau ada kesempatan, ayok ngeteng bareng lagi|
|puitis. pinter. setia kawan (kayaknya). royal (kayaknya). raja galau, sering oot. jangan terlalu sering ngegalau yaa, sekarang udah hampir gak pernah. oh ya, kalau ngobrol perhatiin topi. jatuhnya jadi oot. periksa wmp sebelum minjemin laptop ya|
|mr galau. jangan takut naik wahana. coba out of the box deh sekali-kali|
|petualang yang emosian. santai bro, gak usah tegang terus. gak usah emosi terus|
|galaunya asek. kata-katanya maknyos. gokil. easy going. asik dan rame. tanggung jawab. keep movin bro|
|kadang-kadang kelihatan sinis gitu. suka galau ya. tapi orangnya mau belajar|
|baik. enak diajak bercanda|
|jejak petualang. punya warna sendiri|
|baik. terlalu nyantai. blak-blakan. rada mesum. moody. sering galau. asyik diajak ngobrol. bisa diajak bercanda. traveller. suka dadakan hedon. kooperatif. setia kawan|
|senang menjelajah, baik tempat maupun hati wanita. tampan kata-katanya. teruskan! wanita seringkali mendengar|
|baik|
|galau-galau banget. playmaker 100%|
|agak pendiem tapi habis diajak ngomong banyak wawasan. wawasan ngeresnya|
|sering galau. sering backpackeran. orangnya baik. suka bercanda. susah move an kayaknya. semangat ziz!|
|galau bae kowe ziz|
|hobi naik gunung tapi gak berani naik wahana|
|jalan terus bro|
|cupu. nggatheli. mesum utek'e. teman yang baik. asiklah. kowe mlaku-mlaku wae, duitmu ra entek-entek to? sukses dunia akhirat bro"|
|egois. ngerasa bener sendiri padahal gak pantes. banyak pengalaman tapi jangan jadi sombong ya|
|nih orang stay cool banget tapi sekalinya dalam posisi mellow mode on, hilang deh wibawanya. aziz kasih aja pisau tetep hidup lah dia meski dilempar ke hutan|
|kurangin ngomong masalah cinta ke orang lain, karena belum tentu menarik bagi mereka. semoga dream island terwujud tahun ini|
|galau dan suka pesimis. pinter dan kritis, tapi ya itu kadang suka pesimis aja. semoga boleh menemukan cinta yang yepat yah biar ga galau lagi, hohoho|
|cowok suka galau itu gak nikah-able. jangan galau mas-e! ayo berani naik wahana, katanya petualang|

selanjutnya, terserah kalian mau menilai seperti apa. 

Bintaro, March 2013

12 Okt 2014

Discover Lombok ( Part I: Jalan Panjang Menuju Lombok)


Sri tanjung pagi itu mengalami keterlambatan. Kami bersembilan -aku, andri, surya, ian, arya, machin, ndolo, ochim, dan dhimas mesthi menunggu dua jam lebih lama di peron stasiun. Kereta seharusnya sudah berangkat pukul 08.15. Akan tetapi, gangguan pada lokomotif yang terjadi selepas berangkat dari Jogja membuat kereta terhenti lama di Prambanan -setidaknya begitu yang diinformasikan oleh petugas stasiun.

Pukul 10.00 lewat, kereta berangkat. Kami bersembilan sudah ditunggu Abu di gerbong 5 yang berangkat dari Jogja. Perjalanan ini kami lakukan untuk mengisi waktu luang sekaligus merayakan keberhasilan kami setelah melakukan test kompetensi dasar guna penempatan instansi kementerian keuangan beberapa waktu yang lalu. Banyak cerita terjadi dalam kereta di perjalanan kali ini. Dan sepertinya, Ian terpilih sebagai lakon utamanya. Betapa tidak, kisah asmara dan sifat kleptonya terlalu sayang untuk dilewatkan sebagai bahan obrolan. Lebih detailnya, aku tak akan bercerita. Karena hal ini tentu saja akan sangat tidak manusiawi dan melanggar ranah privasi milik sahabat kami paling gantheng ini.

Hampir lewat tengah malam, kereta akhirnya tiba di Stasiun Banyuwangi Baru. Kami melangkah keluar menuju Pelabuhan Ketapang yang tak jauh keberadaanya dari pintu stasiun. Setelah makan malam dan repacking, kami membeli tiket dan menyeberang ke Pulau Bali. Perjalanan ke timur masih akan jauh berlangsung.

Penyeberangan mengarungi Selat Bali hanya butuh waktu satu jam. Setibanya di Pelabuhan Gilimanuk kami istirahat sebentar. Seturunnya dari kapal, aku mengajak ngobrol petugas pelabuhan perihal akses dan moda transportasi yang bisa digunakan untuk menuju Padangbay. Sayangnya, bus umum terakhir yang langsung menuju ke Padangbay sudah berangkat semenjak pukul 02.00 dinihari. 

Kami pun memutuskan untuk mencater bus menuju Padangbay karena tak ada alternatif lain. Kebetulan sekali, kami bertemu dengan serombongan mahasiswa dari Jogja yang sama-sama ingin mendaki Rinjani. Jadilah kami berbarengan mencater bus agar dapat sharing-cost

Aroma udara pagi ranah dewata lembut membelai. Bus tua  yang kami tumpangi ini melaju cukup kencang. Setidaknya, aku merasa nyaman dan cukup dimanjakan oleh pemandangan yang ada di sepanjang jalan. Akan tetapi, ditengah-tengah jalan, bus ini tiba-tiba saja memutuskan untuk menaikkan penumpang. Kondisi ini tentu saja membuat kami mulai merasa tidak nyaman. Apalagi ada penumpang yang membawa ayam hidup ke dalam bus. 

Perjalanan lima jam terasa seperti tak kunjung usai. Di saat yang sama, aku harus menahan kencing. Jalan-jalan yang terlewati sesekali menarik kenanganku ke belakang. Membawaku kembali kepada waktu-waktu yang dulu pernah membawaku ke sini. Dan sepertinya semua seolah berlalu begitu cepatnya. 

Perjalanan dengan bus tua ini akhirnya usai juga setelah kami tiba di Padangbay. Di sini, kami memutuskan untuk istirahat sejenak, mencuci muka, dan sarapan di salah satu warung yang kami temui sebelum melanjutkan kembali perjalanan.

**

Kapal fery yang menghubungkan Padangbay ke Lembar ternyata sedikit di luar perkiraanku. Kapal ini tergolong nyaman serta fasilitasnya cukup memanjakan para penumpangnya. Dengan harga tiket hanya “gocap”, perjalanan menyeberangi Selat Lombok yang memerlukan waktu hampir empat jam seperti tidak terasa. Kapal ini jauh lebih bagus dari kapal-kapal lintas pulau yang aku jumpai di Selat Bali bahkan di Selat Sunda sekalipun. Bisa dibilang, ini merupakan kapal fery terbagus yang pernah aku gunakan.

Kapal ini punya ruang eksekutif dengan kursi berupa sofa. Penumpang tak perlu upgrade tempat dan membayar lagi untuk bisa menikmati fasilitas - ini berbeda sekali dengan kapal fery Merak - Bakaheuni. Sambil melepas lelah, di ruang ini juga menampilkan hiburan berupa movie dan musik yang bisa dibilang anti mainstream (mainstream = dangdut koplo). Di deck atas, terdapat ruang tidur dan mushola. Hampir separuh waktu di kapal ini, beberapa dari kami - termasuk aku, memutuskan tidur di deck atas. Toilet di kapal ini juga bersih. Selain itu, tak ada pedagang asongan yang lalu lalang. Para pedagang asongan hanya diperbolehkan berjualan sebelum kapal berangkat dari dermaga. Salah satu yang menjadi nilai minusnya, kapal ini tak disediakan colokan listrik. Padahal hampir semua smartphone milik kami sudah sekarat.

Setibanya di Lembar dan menginjakan kaki di Pulau Lombok, kami langsung mencari carteran yang akan membawa kami ke Kota Mataram. Tak banyak angkutan umum yang tersedia di sini. Satu-satunya angkutan umum yang ada hanyalah engkel (semacam angkot). Itu pun sudah tak beroperasi jika lewat pukul 15.00. Karena kami tak sudi repot, jadilah kami memutuskan untuk mencarter mobil.

Tujuan kami ke Mataram kali ini adalah singgah di rumahnya Manda. Oke, akan aku perkenalkan. Manda adalah teman sekelasnya Ochim. Dari kami bersepuluh, tak ada yang pernah mengenal dia sebelumnya, kecuali Ochim tentu saja. Harus diakui kalau aku agak sedikit sungkan mesthi menumpang di rumah seseorang - perempuan lagi. Sebenarnya ini tak masalah jika dilakukan oleh dua atau tiga orang saja, masalahnya ini adalah sepuluh orang cowok yang tidak mengenal istilah basa-basi. Tak ada pilihan lain, mau bagaimana lagi.

Sore hari sebelum senja, mobil carteran itu mengantarkan kami tepat di depan rumahnya Manda yang berlokasi di Jalan Udayana. Setibanya di rumah ini, kami langsung disambut hangat dan diberi cemilan berupa aneka snack serta minuman. Di rumah ini, keluarganya Manda merelakan seluruh lantai dua rumahnya untuk kami. Dan di rumah ini pula kami beristirahat, tidur, mandi, serta “numpang makan". Kebaikan keluarga ini sungguh akan selalu terkenang di hati  kami. Berharap semoga Tuhan membalas semua kebaikan keluarga ini.

Perjalanan yang menjadi misi utama kami akan berlanjut esok hari. Rinjani, kami segera datang.

September 20-21, 2014

to be continued.....

10 Okt 2014

ironis


atas nama cinta kau dulu meninggalkannya. padahal kau sudah berjuang hampir setengah putus asa untuk mendapatkannya, sebelum akhirnya Tuhan memberimu amanah, lalu kau menyia-nyiakannya.

atas nama cinta kau kini setengah mati ingin kembali ke sana. lewat sujud tengah malam kau meminta pada Tuhan, berharap takdir dapat membawamu kembali ke sana.

barangkali kota itu sudah membuatnya gila, sebab telah menelan mimpi-mimpinya. dan kini menggodanya kembali untuk sebuah mimpi yang tertunda.

skh, okt 14

1 Okt 2014

Melankolis


I. Sanur
Mentari belum terbit. Hari masih gelap. Keriuhan belum menampakkan diri. Aku mengayuh sepeda di sepanjang bibir pantai. Berteman dengan kabut pagi dan suara ombak yang perlahan menepi. Tempat ini masih dibekap oleh sunyi. Aku tak pernah menemukan pagi selembut ini. Berharap suatu hari nanti dapat menyusuri kembali pantai ini dengan nuansa yang mesra. Lalu kita sama-sama melihat mentari terbit di cakrawala.
'Juli '13 *cp

II. Tj. Kelayang-Tj. Tinggi
Pelangi menghias langit. Sore ini, hujan baru saja reda. Aku berkendara sendiri melintasi jalanan Belitong yang sepi. Di sisi kanan,  ilalang tinggi terhampar. Di sisi kiri, pantai dan bebatuan granit terlihat begitu memanjakan mata. Tempat ini seperti surga. Keindahannya tiada tara. Hanya saja - sepengetahuanku, di surga ada bidadari bermata binar. Mampus aku, terlena oleh keindahan dalam kesendirian. Secara tiba-tiba, aku merindukan seseorang.
'Sept 13 *iz

III. Cihampelas
Bioskop malam baru saja usai. Aku berjalan sendiri menuju hotel. "kota ini sudah banyak berubah dari terakhir kali ku kunjungi", pikirku. Waktu beranjak menuju tengah malam, lalu hari sudah berganti sejak beberapa menit yang lalu. Aku masih berjalan sendiri, mengamati sekitar. Keadaan sepi dari hiruk pikuk kehidupan. Kenangan-kenangan berhamburan mengisi sudut-sudut jalanan - memenuhi pikiranku; "sudah lama sepertinya kota ini ku tinggalkan". Seraut bayang tiba-tiba menjelma rasa - melankolis. Berharap ia yang sudah tak ada datang menyapa. Sampai aku hilang di ujung jalan, tetap saja tak ada sapa. Ku terka, angin malam pasti tertawa.
'Mei 14 *ga

30 Sep 2014

benteng kota


aku seperti mendengar suaramu. mendengar lagu-lagu yang tempo hari kau nyanyikan.
begitulah kesan yang kudapat tatkala kembali ke benteng kotamu. tempat yang telah lama kau tinggalkan tanpa pesan - tanpa kata.

tapi aku tak pernah bosan berkunjung ke sana, meski jejakmu telah hilang, dan hanya ketiadaan yang kutemukan. lagu-lagu kesukaanmu yang lembut masih akrab menyambutku - meyakinkanku bahwa kau masih ada, dan mengundangku pada suatu senja untuk pulang.

*kereta pagi yang membawaku ke kota kelahiranmu, 
  Sept '14

17 Sep 2014

rahasia pertemuan

yang tersirat di sebelas juni

Pertemuan selalu menjadi rahasia Tuhan. Kita tak kan pernah tau dengan siapa dan di mana kita bertemu dengan seseorang. Kita tak perlu mencari, cukup meminta kepada yang menyimpan rahasia. Bila memang sudah waktunya, suatu saat hal itu pasti terjadi juga. Terkadang, hal itu terjadi tanpa rencana. Setelah itu, kita sendiri yang menentukan. Bertemu tak selalu bersatu.

Aku kira, Tuhan begitu sempurna menjaga keseimbangan.

-sritanjung

kecantikanmu adalah kesederhanaanmu


aku bertamu ke rumahmu suatu malam. seperti biasa kau selalu memintaku menunggu di beranda. lantas kau segera kembali masuk ke kamarmu untuk berias. selalu seperti itu. sejujurnya, aku lebih suka dirimu tanpa  memakai make-up dan berias. apalagi hari sudah malam. kita juga tak akan sedang keluar. bagiku, kau tetap istimewa dengan segala kesederhanaan yang kau punya.

lalu aku menahan langkamu masuk ke dalam. "jangan berias, nanti aku pulang!"

16 Sep 2014

aku ingin pulang


aku tidak tahu pasti kapan pertama kali mendengarkan lagu ini. hanya saja, lagu ini cukup menyita perhatianku sejak masih duduk di bangku sma. sampai sekarang, lagu ini masih menimbulkan tanya bagiku. ingin sekali rasanya aku mengajak berbincang dengan ebiet. menelusuri latar dan alasan serta bagaimana ia menciptakan lagu ini.

aku yakin frase "pulang" di sini memiliki makna yang luas dan dalam. bukan sebatas kembali ke kampung halaman,  sebagaimana seperti biasa kita mengejawantahkan makan "pulang". ada sesuatu yang menarik dan memaksaku untuk menelisik lebih dalam.

kata "pulang" bagiku menggambarkan sesuatu yang berkecamuk dan penuh pergolakan jiwa. bagaimana orang yang (ingin) "pulang" selalu diliputi  perasaan rindu, letih dan sepi. aku - atau mungkin kita, pernah mengalami hal sedemikian rupa. dalam jalan hidup yang penuh liku, dalam petualangan dan pencarian jati diri, atau mungkin dalam pelarian melepas bayang-bayang masa silam. kita akan tiba pada sebuah titik di mana kita menginginkan untuk "pulang". "pulang" dalam artian melabuhkan segenap jiwa dan raga. "pulang" yang memberikan kesan damai. "pulang" yang mengobati sejuta luka yang kita bawa dari perjalanan, meskipun hanya sesaat, sebelum kita memutuskan untuk berlari lagi.

**
"pulang" adalah engkau. tempat aku bisa menunjukkan segala ketidakberdayaan. tempat aku berteduh, bercerita, dan meringankan lara. aku selalu mencari jalan menuju ke sana. mencari celah untuk kembali mengetuk dan memasuki pintumu.

catatan: terinspirasi dari lagu aku ingin pulang oleh ebiet g ade. 
Solo, Sept 14


14 Sep 2014

14 September 2014


Lagu Blackbird terputar di playlist music. Lelaki itu, terbangun tiba-tiba dari tidur siangnya begitu mendengar alunan bridge dalam liriknya. Sementara langit di luar mendung, siang hari. 

Semenjak remaja, lelaki itu sudah terbiasa memutar beberapa lagu untuk menjadi teman pengantar tidur. Sampai ia tertidur, lagu-lagu itu masih berputar mengisi udara di ruang-ruang kosong dalam kamarnya. Dan biasanya lagu-lagu itu sudah berhenti berputar ketika lelaki itu terbangun. Selalu begitu.

Siang itu memang sedikit berbeda. Musim panas yang biasanya memancarkan terik di tengah harinya, kali ini tersaput mendung mega. Barangkali awan dan cuaca sedang mewakili apa yang terendap di jiwanya. Semesta rupanya telah bersekongkol memelankoliskan suasana.

Lelaki itu diliputi kegamangan tentang masa depan. Masa depan yang ingin sekali ia jelang dan lalui dengan perempuan yang dicintanya.

**
Ini tak lebih dari berbicara mengenai ketetapan takdir ataupun nasib anak manusia. Lelaki itu diliputi kekhawatiran yang menyelimuti batinnya. Tidak tahu bagaimana mengungkap perasaan dalam wujud kata untuk memantrai perempuannya agar ia tahu apa yang dirahasiakan oleh lelaki itu. Sebab waktu akan terus berlalu. Dan lelaki itu tahu, cepat atau lambat perpisahan adalah sesuatu yang pasti. Setidaknya sebelum itu terjadi, lelaki itu ingin mengatakan sesuatu yang belum tersampaikan dari segenap perjalanan yang telah mereka lalui berdua. Barangkali sesuatu itu diejawantahkan sebagai cinta.

Perjalanan waktu akan membuat lelaki itu meninggalkan kotanya, tempat di mana ia pertama kali bertemu dengan perempuannya. Di kota itu pula, segala kisahnya bersemi. Cerita mereka tersimpan lekat di jalanan dan bangunan tua kota itu yang menjadi saksi. Begitu pula dengan perempuan yang menjadi pujaannya, ia mesthi meninggalkan kota yang begitu banyak meninggalkan kenangan. Mereka tak tahu takdir akan membawa mereka berlabuh ke mana. Satu hal yang pasti, semua orang membutuhkan pulang dari jauh perjalanan yang mereka lakukan. Setidaknya lelaki itu ingin berujar, jika perempuan itu adalah rumahnya, perlabuhan yang ia tuju ketika pulang.

Kehilangan adalah sesuatu yang lelaki itu khawatirkan. Perasaan takut. Perempuan itu akan hilang dari dekapannya. Ia masih butuh waktu untuk meyakinkan perempuannya. Sedangkan perempuan, (terkadang) tak bisa menunggu waktu. Ingin sekali ia mewujudkan mimpi-mimpi perempuan yang telah dikenalnya sejak remaja itu. Dan sekali lagi, kebisuan dalam sekejap membekap mulutnya untuk mengucap yang tertunda.

**
Lelaki itu lantas duduk dan mengambil gitarnya. Dia bernyanyi. Begitulah ia menuangkan perasaan. Selalu begitu.
...........................................

"Ascend may you find no resistance. Know that you've made such a difference. All you leave behind will live to the end. The cycle of suffering goes on. But, memories of you stay strong. Someday I too will fly and find you again."

6 Sep 2014

rela

ns

"... sebab jalan masih panjang. kita tak kan pernah tahu pasti ke mana kita akan melangkah. kita tak kan pernah tahu siapa yang akan kita temui. begitulah aku belajar untuk merelakan."

Sept, '14

2 Sep 2014

Tragedi Stasiun Pasar Senen


Ini bukan cerita tentang Chairil Anwar yang “jajan” di kawasan Senen pada suatu ketika dan ia lupa membawa dompet untuk membayar. Kemudian ia memberi secarik kertas berisi alamat pada seorang pramuria yang telah ia pakai jasanya. Usut punya usut, alamat yang Chairil berikan pada pramuria di kawasan Senen itu ternyata alamat milik maestro seni lukis Indonesia: Affandi! Kejadian inilah yang melatarbelakangi poligami yang dilakukan oleh Affandi karena keesokan harinya Maryati, istri Affandi, marah-marah ketika pramuria itu meminta tagihan pembayaran ke rumahnya. Maryati merasa sudah “tidak cukup” untuk suaminya, kemudian ia meminta agar Affandi menikahi perempuan lain atas usulannya.

Ini bukan tragedi asmara sepasang anak manusia seperti yang mungkin terjadi pada maestro campur sari dari Solo: Didi Kempot. Tragedi ini bisa dihayati dalam lagu Stasiun Balapan, tempat di mana ia melepas kekasihnya pergi dan tak kunjung kembali. Tak bisa kubayangkan lebih lanjut betapa kehilangannya ditinggal seseorang yang begitu dicintai.

Ini bukan sekelumit kisah tentang perjumpaan pertamaku dengan Nadia yang kebetulan juga mengambil stasiun kereta sebagai latarnya. Bukan juga soal orang-orang yang berlalu lalang datang dan pergi dengan menampakkan wajah berseri dan wajah kalah. Ini cerita tentang kepulangan kami berempat (Aku, Ian, Uzi, dan Yusuf). 


#Ceger31, Rabu 27 Agustus

TKD (Test Kompetensi Dasar) adalah alasan kenapa kami kembali ke Jakarta. Berbulan-bulan bahkan hampir setahun kami menunggunya. Sampai pada akhirnya, tibalah kami di hari-hari yang dinantikan: Hari Pelaksanaan TKD. Test ini diselenggarakan pada tanggal 25-30 Agustus. Aku sendiri kebagian di hari kedua. Pengertian dan tujuan dari test ini, aku tak akan menceritakan.

Di Jakarta, aku sengaja untuk tinggal tak berlama-lama. Sehari setelah menyelesaikan test, aku memutuskan memesan tiket untuk pulang. Kali ini PT. KAI yang beruntung. Atas segala kondisi yang ada dan moda transportasi yang masih tersedia, aku memutuskan booking tiket Senja Utama untuk keberangkatan sabtu malam. Tak lupa, aku mengajak kawan-kawan untuk turut serta. Pada akhirnya, hanya Ian, Uzi, dan Yusuf yang memutuskan untuk ikut. Reservasi tiket dan pembayaran secara online kami serahkan pada Yusuf. Kebetulan saldo ATM-nya lagi tebal. Setelah reservasi dan pembayaran berhasil dilakukan, kode tiket pun kami terima. Kami siap untuk pulang!


#Pasar Senen, Sabtu 30 Agustus

Aku duduk sendiri di peron kereta dekat tempat cetak tiket. Menunggu kedatangan Ian, Uzi, dan Yusuf. Kebetulan aku berangkat lebih dulu karena harus mampir ke tempat saudara untuk menitipkan motor. Waktu itu jam menunjukkan pukul 20.35. Setengah jam lebih, aku menunggu Yusuf dkk. datang. Sambil berharap bakal bertemu gadis manis dan lucu seperti Nadia yang bisa diajak ngobrol untuk mengisi kekosongan waktu.

Setelah tiket berhasil dicetak, Aku dan Yusuf berjalan menuju gate check in. Di sana Ian dan Uzi menunggu. Karena lapar, kami memutuskan untuk makan malam terlebih dahulu dan menitipkan barang yang kami bawa kepada Cypi dan Yayul yang kebetulan juga tengah berada di stasiun.

Sekembalinya dari makan pecel lele yang berada di seberang jalan stasiun, kami melakukan check in. Dan di sinilah permasalahan terjadi. Kami tidak diperbolehkan masuk karena tanggal yang tertera di tiket kami tertulis tanggal 6 September! Astaga, kenapa ini bisa dan mesthi terjadi? Hal ini sungguh diluar dugaan. Kami merasa jika kemarin telah benar memsan tiket untuk tanggal 30 Agustus. Nah ini, malah tercetak mundur seminggu dari yang semestinya. Tidak ada yang bisa disalahkan memang. Mungkin sistemnya error atau mungkin juga itu benar-benar kelalaian kami sewaktu melakukan reservasi. Dengan wajah bengong kami tertahan di stasiun, seolah-olah tak percaya pada apa yang baru saja menimpa kami.

Sebenarnya aku pribadi atau mungkin kami tak mempermasalahkannya. Ini bisa jadi bahan cerita yang cukup epic dari akhir petualangan kami di Jakarta, mungkin. Mengingat setelah ini, kami tak tahu akan berlabuh di kota mana pasca penempatan kerja. Masalah utamanya adalah Surya dkk. yang masih tinggal di #Ceger31. Kami tak kuat membayangkan ejekan dan kegathelannya karena ia tahu kami tak jadi pulang. Kami hanya bisa pasrah. Aku percaya, Tuhan selalu menyimpan rencana.

Kami memutuskan balik dari Pasar Senen dengan menggunakan taksi. Sesampainya di #Ceger31, peristiwa yang kami khawatirkan terjadi juga. Berbagai reaksi dan hinaan kami terima.

**
Kami sendiri akhirnya tetap jadi pulang sehari setelah tragedi ini. Masih sama menggunakan Senja Utama dengan tiket yang kami pesan lagi. Bedanya kali ini Surya ikut. Jadilah kami berlima sebelum digenapi oleh ndoLo yang kami temui di stasiun dan kebetulan juga naik kereta yang sama.

Stasiun kereta selalu menyimpan cerita...

catatan harian,  September 2014

24 Agu 2014

percakapan rahasia


N: "kenapa dulu kau  pergi?"
A: "sepertinya aku tak bisa diam saja dalam menunggu kedatanganmu. lalu aku memutuskan untuk berlayar menjelajah samudera. singgah ke beberapa dermaga. mendapatkan kisah dan petualangan  yang kiranya bisa ku ceritakan padamu."
N: "kenapa kini kau kembali?"
A: "aku sudah memutuskan, kepadamu aku akan pulang dan melabuhkan diri. sepanjang hidupku..."

beberapa kisah terjadi begitu epic ketika kau memutuskan untuk meninggalkan sebuah kota karena sebuah keputusasaan. dan kini kau kembali lagi ke kota itu untuk menjemput impian yang kau sebut "cinta".

*parijs van java suatu ketika. latar yang terlupa.

21 Agu 2014

#NA


kau tahu apa yang terjadi setelah pertemuan kita di stasiun pagi itu?
tiada hari ku lewatkan tanpa memikirkanmu.
berharap semesta menyuakan kita kembali dalam sebuah perjalanan.
kita bisa berbagi cerita atau mendedangkan lagu mengisi kekosongan waktu.

aku menyusun siasat mewujudkan itu.

18 Agu 2014

candu

-afif
candu bukan lagi tentang rokok yang begitu nikmat ku hisap aromanya, ketika inspirasi hilang dari kehidupan.
candu bukan lagi tentang secangkir kopi atau sebotol alkohol yang biasa ku teguk malam hari sepulang kerja.
candu bukan lagi tentang kokain yang terkadang ku hirup untuk sekedar mendapatkan ecstasy dan keriangan.

candu adalah engkau, tempat kepulangan yang ku tuju
menatap senyum yang tergores di wajahmu
segala inspirasi kembali hadir, 
meluruhkan segala beban dan mendatangkan keriangan

tak perlu kata untuk menerjemahkan dirimu
engkau sudah menjadi candu
jadilah selalu seperti itu: tempat aku berpaling

Agustus, 2014

17 Agu 2014

Dirgahayu


Dirgahayu kemerdekaan bangsaku.
Telah berkali-kali kita ucapkan dirgahayu
dengan jiwa yang bangga.
Berkali-kali dengan hati yang senyum,
juga kali ini kita ucapkan lagi dirgahayu di bawah tiang bendera,
namun dengan hati yang gundah dan bibir yang kelu.

Keceriaan merah putih yang melambai,
kali ini terlihat seperti menebarkan keresahan.
Angin yang berhembus menerbangkan debu-debu panas, mengotori kainnya.
sedang kemarau panjang di negeriku belum juga usai.

Di sini, juga di tempat jauh di sana,
dirgahayu bukan untuk kebencian,
dirgahayu bukan untuk kesengsaraan,
dirgahayu bukan untuk air mata,
dirgahayu untuk senyum yang panjang...

*dirgahayu negeriku 69

10 Agu 2014

My Adventure Equipments

Sudah tujuh tahun lebih petualangan membawaku ke berbagai sudut penjuru. Menikmati ragam keindahan alam dan keramahan masyarakat yang selalu memberi senyum ketika kusapa. Gunung, hutan, dan bukit, di sana semua kenangan tergores. Memberikan jawaban atas rasa keingintahuan dan penasaranku. Dan sampai pada akhirnya,  waktu tak terasa membawaku semakin berlalu pada kenangan-kenangan tadi. 

Entah kenapa, aku kali ini benar-benar sudah tak punya hasrat untuk kembali mendaki. Ini jelas sebuah pertimbangan yang sudah kupikir matang-matang. Karir pekerjaan sudah menantiku di depan. Aku pikir sudah tak ada lagi waktu yang tersisa untuk mengukir kembali kenangan-kenangan tadi. 

Ah, aku merasa jadi semakin bertambah tua. Aku merasa begitu ketika melihat banyak pendaki yang kujumpai di Cemoro Sewu seminggu lalu ketika sedang jalan-jalan ke sana dengan keluarga. Aku melihat keceriaan dan kelelahan berpadu di wajah mereka. Mereka umumnya masih muda, kuterka masih usia anak sekolah. Ini membuatku terkenang pada setiap pendakian yang sudah terlampaui dulu. Ya, di Gunung Lawu. Di sini aku pertama kali memulai pendakian. Di sini pula aku terakhir kali mendaki. Ada sepuluh gunung berbeda yang sudah kutapaki serta sembilan belas pendakian yang pernah kulakukan.

Di setiap pendakian selalu ada peralatan yang senantiasa setia aku bawa. Dulu waktu masih awal mendaki, peralatan yang kupunya masih sangat sederhana dan belum bisa dikatakan safety. Bahkan untuk bekal saja, rombonganku biasanya cuma membawa mie dan roti. Kalau ingin minum yang hangat-hangat ya cukup menyeduh kopi susu dengan kompor parafin dan panci seadanya. Maklum, saat itu uang saku masih terbatas. Tak mampu untuk membeli peralatan gunung yang harganya cukup mahal, kecuali kalau mau menabung. Seiring berjalannya waktu, aku pun akhirnya mampu melengkapi peralatan pendakian. Berikut ini  jenis dan brand apa saja yang  aku gunakan selama pendakian. 


slayer (2008-2012)
Jacket (2008-2010)

tent socks (2011-present)

nesting & gasmate (2011-present)

carrier (2008-2014)
rain cover (2011-2014)

jacket wind stoper (2007-2013)
jacket karakoram (2014-present)
pants (2011-2013)

sleeping bag (2012-present)

sleeping bag (2008-2012)

watch (2013-present)

sandal (2012-present)

tracking pole (2014-prresent)

 trousers (2007-2010)
hat casual (2008-2011)
hat indiana (2014-present)
clothes (2008-2013)
t-shirt (2014-present)
pants (2011-present)
slayer (2008-present)
matras (2007-present)

jacket argon pro (2014-present)

hiking shoes (2009-present)
climbing shoes (2012-present)

Slayer (2007-2010)

Jacket reborn_02(2008-present)


3 pants (2007-present)

9 Agu 2014

Apa yang kau bisikan pada mimpiku tadi malam?


................................................................................................................................................

“Engkau terlambat!”, begitu katamu.
Begitu berat rasanya kau mengatakan. Aku melihat sendu sembab di matamu.
“Apa benar-benar sudah tidak ada jalan untuk kembali pulang?”, aku bertanya lirih.
Engkau terdiam, seperti tiba di persimpangan. Aku menyesalkan masa lalu yang kutinggalkan tanpa pesan.

Apa yang sebenarnya kau bisikan pada mimpiku tadi malam?
Apakah itu hanya sekedar mimpi atau lebih dari sebuah kenyataan?

Aku memang terlambat. Aku belum menjadi apa-apa. Lantas, kenapa dulu kau begitu berharap? Dan tiba-tiba secara begitu saja, kau mengambil sikap yang sebaliknya. Seseorang mendahuluiku mengetuk pintu rumahmu. Engkau serasa menjadi asing. Aku kamus akan hal itu. Apa benar perempuan tak bisa menunggu?

Tidakkah engkau ingin menemaniku dalam perjuangan? Kau juga sama-sama masih berjuang, bukan? Kita setidaknya bisa saling mengisi atau menyemangati. Sebuah kehormatan bagiku jika kau sudi dan setia menemani dalam perjuangan. Aku pun juga akan melakukan hal yang sama. Kita bisa saling mengisi dan menyemangati dalam setiap jengkal perjuangan yang kita lakukan. Kau ingin aku perjuangkan, bukan?

Apa yang kau bisikan pada mimpiku tadi malam?

Aku paham, lelaki berhak memilih. Dan aku juga mulai sadar, perempuan lah yang berhak untuk memutuskan.


Pagi. Agustus, 2014.

7 Agu 2014

Reuni


Tak bisa dipungkiri jika seiring berjalannya waktu, setiap orang berubah. Entah itu penampilan, kehidupan, atau mungkin hal lainnya. Perubahan itu secara tidak langsung akan tersadari ketika waktu menuntun kita pada perjumpaan kembali. Kesadaran itu timbul karena sebuah penilaian atau kesan. Penilaian kepada seseorang selalu berdasar atas kesan terakhir ketika berjumpa atau menjalin hubungan dengan orang tersebut.

Minggu lalu, aku menghadiri sebuah reuni sekolah menengah atas. Tak terasa, sudah lima tahun seragam putih abu-abu kutanggalkan. Waktu seolah cepat berlalu. Dan kali ini waktu pula yang mengantarkanku kembali kepadamu dan bersua kembali dengan mereka, kawan-kawan lama.

Aku tak hendak membicarakan tentangmu di sini, yang menilai sajian masakan ayamnya di acara reuni itu  terasa begitu pedas. Aku hendak membicarakan mereka, yang mampu menggugah kesanku.

Pertemuan kembali, begitu dalam KBBI menjelaskan arti mengenai kata reuni. Setengah dasawarsa terlewati. Disadari atau tidak, diri beranjak menua. Banyak cerita pastinya yang terukir selama waktu itu terlampaui. Perbincangan pada peristiwa seperti ini selalu membahas tentang masa lalu dan kesibukan yang terjalani kini.

Ada beberapa hal yang aku betul perhatikan dari mereka. Pertama, soal penampilan. Banyak perubahan yang kuamati. Mereka (dalam hal ini wanita) sudah mulai pandai berdandan. Mempercantik diri dengan bedak atau bahkan dengan perhiasan. Dan itu asli, mereka jadi kelihatan lebih cantik dan menarik. Aku tidak tahu ini hanya opiniku saja atau memang faktanya demikian. 

Kalau kata seorang kawan, sebut saja namanya Adam, itu semua karena uang. Mungkin ada benarnya juga, uang bisa merubah penampilan seseorang. Apalagi wanita gemar menginvestasikan uang untuk penampilan. Ya wajar saja, mereka sudah bisa cari uang. Umur juga tambah tua. Untuk menarik perhatian seorang pria, kurasa ini perlu. 

Untuk kaum pria, juga tak kalah kelihatan tajir. Ada yang sudah punya mobil. Penampilan wajah mereka juga kelihatan lebih bersih berseri. Kuterka, kaum pria seperti ini rajin ke klinik pijat atau salon perawatan diri. Dan untuk hal ini, lagi-lagi dibutuhkan uang. Mungkin ini juga strategi untuk menarik perhatian wanita.

Selain penampilan, hal yang tak kalah untuk diperhatikan adalah kehidupan yang mereka jalani. Perjalanan waktu membawa mereka ke berbagai peristiwa. Banyak hal terjadi dan terlewati . Itu semua membawa mereka ke titik ini. Aku lebih suka mengulik kehidupan mereka yang satu almamater kampus denganku. Sebagian dari mereka beruntung karena mendapatkan kota penempatan kerja yang dibilang manusiawi. Namun, ada juga dari mereka yang harus terima nasib karena dibuang ke daerah antah berantah. Cerita kawan lain, tak kalah menariknya. Mereka yang sudah menyelesaikan bangku perkuliahan, kini beragam kesibukan dan kerjanya. Kebanyakan dari mereka mengadu nasib di Jakarta, sebagian lagi di kota lainnya. Aku sendiri tak tahu waktu akan membawaku berlabuh ke mana.

Cukup terharu dan penasaran juga dengan beragam kisah yang mereka jalani. Reuni ini seperti membangkitkan kembali potret kenangan tempo dulu. Aku jadi teringat dengan masa-masa mudaku.
aku dan mereka


Salamku Sahabat
Telah lama tak bersua. 
Dan sekarang kau di depan mata.
Tak berubah, sikap tutur kata.
Tetap akrab, ceria hangatkan jiwa.
Sahabat, penuh suka.
Betapa bahagia berjumpa. Salamku.
Apa kabar di hidupmu.
Sekian waktu, adakah kau baik selalu.
Sahabat, dalam duka.
Pelita kecil dalam gulita. Salamku.
(untuk berbagi beban dan saling mengisi tak perlu kita sendiri)
Oh, katakan rahasiamu ketika tak usah orang tau.
Salam hangat tuk sahabat.

Solo, Agustus 2014